Pelajaran dari Cyrus the Great Taklukan Babilonia dengan Soft Power


Deskripsi

Cyrus the Great (559–530 SM) bukan hanya seorang penakluk, tetapi arsitek peradaban multikultural pertama dalam sejarah dunia. Penaklukannya atas Babilonia (539 SM) bukanlah kemenangan militer biasa, melainkan revolusi politik dan etika kekuasaan. Ia memperkenalkan konsep bahwa kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang diakui oleh yang ditaklukkan — bukan melalui teror, tetapi melalui legitimasi simbolik, inklusi budaya, dan keadilan administratif. Seperti dikatakan Pierre Briant dalam bukunya From Cyrus to Alexander: A History of the Persian Empire (2002) bahwa “Cyrus did not conquer Babylon; he liberated it.”

Di Iran, Cyrus bukan hanya raja kuno, tetapi lebih dari itu, ia adalah simbol kebanggaan nasional dan etika pemerintahan. Mungkin mirip dengan figur Gadjah Mada di Indonesia. Pemerintah Iran modern sering mengutip Cyrus sebagai kontrast terhadap imperialisme Barat. Misalnya, seperti yang diungkap oleh Touraj Daryaee dalam Sasanian Persia: The Rise and Fall of an Empire (2009) bahwa “Cyrus is the embodiment of Iranian civilization’s commitment to justice, tolerance, and multiculturalism.”


Konten

Pelajaran dari Cyrus the Great Taklukan Babilonia dengan Soft Power

Harga

Rp 4.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Pelajaran dari Cyrus the Great Taklukan Babilonia dengan Soft Power


Deskripsi

Cyrus the Great (559–530 SM) bukan hanya seorang penakluk, tetapi arsitek peradaban multikultural pertama dalam sejarah dunia. Penaklukannya atas Babilonia (539 SM) bukanlah kemenangan militer biasa, melainkan revolusi politik dan etika kekuasaan. Ia memperkenalkan konsep bahwa kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang diakui oleh yang ditaklukkan — bukan melalui teror, tetapi melalui legitimasi simbolik, inklusi budaya, dan keadilan administratif. Seperti dikatakan Pierre Briant dalam bukunya From Cyrus to Alexander: A History of the Persian Empire (2002) bahwa “Cyrus did not conquer Babylon; he liberated it.”

Di Iran, Cyrus bukan hanya raja kuno, tetapi lebih dari itu, ia adalah simbol kebanggaan nasional dan etika pemerintahan. Mungkin mirip dengan figur Gadjah Mada di Indonesia. Pemerintah Iran modern sering mengutip Cyrus sebagai kontrast terhadap imperialisme Barat. Misalnya, seperti yang diungkap oleh Touraj Daryaee dalam Sasanian Persia: The Rise and Fall of an Empire (2009) bahwa “Cyrus is the embodiment of Iranian civilization’s commitment to justice, tolerance, and multiculturalism.”


Konten

Pelajaran dari Cyrus the Great Taklukan Babilonia dengan Soft Power