Arash Zeini adalah sang penjaga api digital Zoroaster. Di sudut sunyi perpustakaan digital, di antara baris kode XML dan metateks yang rumit, tersimpan harta karun yang nyaris punah: teks-teks suci Zoroaster dalam bahasa Pahlavi. Bagi kebanyakan orang, teks-teks ini adalah artefak masa lalu yang hanya relevan bagi segelintir sarjana. Namun bagi Arash Zeini, seorang filolog dan sejarawan agama, teks-teks itu adalah kunci untuk membebaskan sebuah peradaban dari cengkeraman epistemik ganda, orientalisme Barat yang mereduksi Zoroastrianisme menjadi sekadar "agama Persia kuno", dan negara-bangsa Iran yang mengklaim warisan itu tanpa memberdayakan komunitas minoritas yang masih menghidupinya. Zeini berdiri di persimpangan yang langka: seorang insinyur perangkat lunak yang menjadi filolog, seorang diaspora Iran yang kembali menggali akar spiritual bangsanya, dan seorang minoritas Zoroaster yang menolak menjadi objek studi.
Lahir di Iran di tengah komunitas Zoroaster yang kian menyusut, Zeini tumbuh dengan kesadaran tajam tentang apa artinya menjadi penjaga api di negeri yang telah lama menganut Islam sebagai agama mayoritas. Namun, api itu, secara harfiah dan metaforis, tidak pernah padam. Keluarganya adalah bagian dari tradisi lisan dan ritual yang bertahan melintasi penaklukan, diskriminasi, dan modernisasi. Setelah menempuh pendidikan awal di Iran, Zeini pindah ke Jerman, di mana ia menyelesaikan studi di bidang ilmu komputer. Latar belakang teknis ini kelak menjadi senjata intelektualnya: ia tidak hanya membaca teks kuno, tetapi juga membangun infrastruktur digital untuk melestarikan dan membebaskannya.
Gelar doktoral Zeini dari University of St Andrews, Skotlandia, merupakan titik balik. Disertasinya yang diterbitkan pada 2015, The Zoroastrian Middle Persian Digital Corpus: Edition, Translation and Linguistic Analysis of the Ardā Wīrāz Nāmag, adalah contoh brilian dari apa yang ia sebut "filologi digital" , sebuah pendekatan yang menggabungkan ketelitian filologi tradisional dengan kekuatan komputasi modern untuk menciptakan edisi teks yang terbuka, kolaboratif, dan terus diperbarui. Proyek ini bukan sekadar alat bantu; ia adalah manifesto dekolonial. Zeini menyadari bahwa selama berabad-abad, studi Zoroaster didominasi oleh orientalis Eropa yang menentukan bagaimana teks-teks suci itu dibaca, diedit, dan ditafsirkan. Edisi cetak yang mahal, akses terbatas ke manuskrip, dan monopoli tafsir oleh akademi Barat telah menciptakan apa yang ia sebut sebagai "kolonialisme epistemik" di jantung studi agama Iran.
Melalui proyek-proyek seperti Zoroastrian Middle Persian Digital Corpus (ZMPDC) dan keterlibatannya dalam jaringan Digital Philology, Zeini mendobrak tembok itu. Ia membuat teks-teks Pahlavi tersedia secara daring, gratis, dengan anotasi linguistik yang kaya, memungkinkan siapa saja, termasuk komunitas Zoroaster di Iran, India, dan diaspora, untuk membaca, mempelajari, dan menginterpretasi warisan mereka sendiri. Ini adalah tindakan kedaulatan digital (digital sovereignty) yang radikal: minoritas agama menggunakan teknologi untuk merebut kembali narasi mereka dari tangan para sarjana yang sering kali tidak pernah menginjakkan kaki di kuil api.
Karya-karya Zeini tersebar di jurnal-jurnal seperti Iranian Studies, Digital Scholarship in the Humanities, dan Bulletin of the School of Oriental and African Studies. Artikelnya yang tajam, “Decolonising Zoroastrian Studies: A Manifesto” (2018), menjadi pemicu perdebatan sengit di kalangan Iranianis. Di sana ia menulis bahwa studi Zoroaster harus "berhenti menjadi museum dan mulai menjadi rumah", yaitu, sebuah ruang yang dihidupi oleh mereka yang mewarisi tradisi itu, bukan hanya diamati oleh para kurator asing.
Saat ini, Zeini adalah peneliti di Institute of Iranian Studies, Freie Universität Berlin, dan terus mengembangkan alat-alat digital untuk filologi bahasa Iran kuno. Pengabdiannya melampaui menara gading: ia terlibat aktif dalam komunitas Zoroaster diaspora, memberikan ceramah publik, dan menulis esai yang menjembatani dunia akademik dengan publik yang lebih luas. Ia adalah contoh sempurna dari intelektual era digital, seorang yang mengerti bahwa pertarungan atas pengetahuan adalah pertarungan atas kekuasaan, dan bahwa teknologi bisa menjadi pedang bermata dua: ia bisa memperkuat penjajahan, atau membebaskan yang terjajah.
Bagi Gen Z yang akrab dengan isu-isu representasi, keadilan epistemik, dan dampak teknologi terhadap masyarakat, pemikiran Zeini adalah wahyu. Ia menunjukkan bahwa dekolonisasi bukan hanya tentang mengembalikan artefak ke museum atau menulis ulang buku teks. Ia juga tentang siapa yang memiliki akses ke data, siapa yang mengontrol antarmuka, dan siapa yang menulis algoritma yang membentuk pengetahuan kita. Esai ini akan membawa Anda jauh ke dalam dunia filologi digital, di mana baris-baris kode bertemu dengan nyanyian suci berusia 3.000 tahun, dan di mana seorang minoritas Zoroaster melawan mesin kolonial dengan senjata paling tak terduga: markup language.
Arash Zeini adalah sang penjaga api digital Zoroaster. Di sudut sunyi perpustakaan digital, di antara baris kode XML dan metateks yang rumit, tersimpan harta karun yang nyaris punah: teks-teks suci Zoroaster dalam bahasa Pahlavi. Bagi kebanyakan orang, teks-teks ini adalah artefak masa lalu yang hanya relevan bagi segelintir sarjana. Namun bagi Arash Zeini, seorang filolog dan sejarawan agama, teks-teks itu adalah kunci untuk membebaskan sebuah peradaban dari cengkeraman epistemik ganda, orientalisme Barat yang mereduksi Zoroastrianisme menjadi sekadar "agama Persia kuno", dan negara-bangsa Iran yang mengklaim warisan itu tanpa memberdayakan komunitas minoritas yang masih menghidupinya. Zeini berdiri di persimpangan yang langka: seorang insinyur perangkat lunak yang menjadi filolog, seorang diaspora Iran yang kembali menggali akar spiritual bangsanya, dan seorang minoritas Zoroaster yang menolak menjadi objek studi.
Lahir di Iran di tengah komunitas Zoroaster yang kian menyusut, Zeini tumbuh dengan kesadaran tajam tentang apa artinya menjadi penjaga api di negeri yang telah lama menganut Islam sebagai agama mayoritas. Namun, api itu, secara harfiah dan metaforis, tidak pernah padam. Keluarganya adalah bagian dari tradisi lisan dan ritual yang bertahan melintasi penaklukan, diskriminasi, dan modernisasi. Setelah menempuh pendidikan awal di Iran, Zeini pindah ke Jerman, di mana ia menyelesaikan studi di bidang ilmu komputer. Latar belakang teknis ini kelak menjadi senjata intelektualnya: ia tidak hanya membaca teks kuno, tetapi juga membangun infrastruktur digital untuk melestarikan dan membebaskannya.
Gelar doktoral Zeini dari University of St Andrews, Skotlandia, merupakan titik balik. Disertasinya yang diterbitkan pada 2015, The Zoroastrian Middle Persian Digital Corpus: Edition, Translation and Linguistic Analysis of the Ardā Wīrāz Nāmag, adalah contoh brilian dari apa yang ia sebut "filologi digital" , sebuah pendekatan yang menggabungkan ketelitian filologi tradisional dengan kekuatan komputasi modern untuk menciptakan edisi teks yang terbuka, kolaboratif, dan terus diperbarui. Proyek ini bukan sekadar alat bantu; ia adalah manifesto dekolonial. Zeini menyadari bahwa selama berabad-abad, studi Zoroaster didominasi oleh orientalis Eropa yang menentukan bagaimana teks-teks suci itu dibaca, diedit, dan ditafsirkan. Edisi cetak yang mahal, akses terbatas ke manuskrip, dan monopoli tafsir oleh akademi Barat telah menciptakan apa yang ia sebut sebagai "kolonialisme epistemik" di jantung studi agama Iran.
Melalui proyek-proyek seperti Zoroastrian Middle Persian Digital Corpus (ZMPDC) dan keterlibatannya dalam jaringan Digital Philology, Zeini mendobrak tembok itu. Ia membuat teks-teks Pahlavi tersedia secara daring, gratis, dengan anotasi linguistik yang kaya, memungkinkan siapa saja, termasuk komunitas Zoroaster di Iran, India, dan diaspora, untuk membaca, mempelajari, dan menginterpretasi warisan mereka sendiri. Ini adalah tindakan kedaulatan digital (digital sovereignty) yang radikal: minoritas agama menggunakan teknologi untuk merebut kembali narasi mereka dari tangan para sarjana yang sering kali tidak pernah menginjakkan kaki di kuil api.
Karya-karya Zeini tersebar di jurnal-jurnal seperti Iranian Studies, Digital Scholarship in the Humanities, dan Bulletin of the School of Oriental and African Studies. Artikelnya yang tajam, “Decolonising Zoroastrian Studies: A Manifesto” (2018), menjadi pemicu perdebatan sengit di kalangan Iranianis. Di sana ia menulis bahwa studi Zoroaster harus "berhenti menjadi museum dan mulai menjadi rumah", yaitu, sebuah ruang yang dihidupi oleh mereka yang mewarisi tradisi itu, bukan hanya diamati oleh para kurator asing.
Saat ini, Zeini adalah peneliti di Institute of Iranian Studies, Freie Universität Berlin, dan terus mengembangkan alat-alat digital untuk filologi bahasa Iran kuno. Pengabdiannya melampaui menara gading: ia terlibat aktif dalam komunitas Zoroaster diaspora, memberikan ceramah publik, dan menulis esai yang menjembatani dunia akademik dengan publik yang lebih luas. Ia adalah contoh sempurna dari intelektual era digital, seorang yang mengerti bahwa pertarungan atas pengetahuan adalah pertarungan atas kekuasaan, dan bahwa teknologi bisa menjadi pedang bermata dua: ia bisa memperkuat penjajahan, atau membebaskan yang terjajah.
Bagi Gen Z yang akrab dengan isu-isu representasi, keadilan epistemik, dan dampak teknologi terhadap masyarakat, pemikiran Zeini adalah wahyu. Ia menunjukkan bahwa dekolonisasi bukan hanya tentang mengembalikan artefak ke museum atau menulis ulang buku teks. Ia juga tentang siapa yang memiliki akses ke data, siapa yang mengontrol antarmuka, dan siapa yang menulis algoritma yang membentuk pengetahuan kita. Esai ini akan membawa Anda jauh ke dalam dunia filologi digital, di mana baris-baris kode bertemu dengan nyanyian suci berusia 3.000 tahun, dan di mana seorang minoritas Zoroaster melawan mesin kolonial dengan senjata paling tak terduga: markup language.