Mohamed Amer Meziane adalah seorang filsuf dan akademisi yang kini menjelma sebagai salah satu suara paling segar dan berani dalam perbincangan dekolonial global. Lahir dan besar di Aljazair, lalu menempuh pendidikan tinggi di Prancis, Meziane membawa perspektif unik yang lahir dari persilangan dua dunia: pengalaman hidup sebagai subjek pascakolonial Afrika Utara dan ketajaman tradisi intelektual kontinental.
Saat ini ia menjabat sebagai Assistant Professor of French and Francophone Studies di Brown University, Amerika Serikat, setelah sebelumnya mengajar di Columbia University.
Pemikiran Meziane berakar pada pertanyaan besar: mengapa perdebatan modern selalu memaksa kita memilih antara “Islam” dan “sekular”, seolah keduanya adalah entitas abadi yang saling bermusuhan? Dalam proyek filsafatnya, ia membongkar dikotomi itu dengan menunjukkan bahwa sekularisme Eropa justru terbentuk melalui perjumpaan kolonial dengan dunia Islam. Konsep “islamo-sekularisme” yang ia tawarkan bukanlah jalan tengah yang mendamaikan kedua kutub, melainkan pembongkaran atas jebakan berpikir yang diwariskan oleh modernitas kolonial. Baginya, negara sekuler modern tidak pernah benar-benar menyingkirkan agama; ia hanya mengklasifikasi ulang Islam sebagai entitas yang “kurang modern” dan harus terus diawasi.
Karya monumentalnya, The States of the Earth: An Ecological and Racial History of Secularization (Verso, 2023), langsung memantik diskusi internasional. Buku itu melacak bagaimana sekularisasi di Prancis berjalan seiring dengan penjajahan atas Aljazair dan perampasan tanah-tanah Muslim, sebuah operasi yang ia sebut sebagai sekularisasi bumi. Meziane juga dikenal lewat artikel berpengaruh seperti “The Coloniality of Secularism: Race, Islam, and the Making of the Modern State” (2020), yang memperkenalkan gagasan bahwa sekularisme bukan netral, melainkan mesin rasialisasi.
Selain menulis, Meziane adalah intelektual publik yang kerap diundang berbicara di forum-forum global tentang krisis iklim, Islamofobia, dan masa depan dekolonisasi. Ia mewakili generasi pemikir yang menolak mengurung diri dalam batas-batas disiplin: filsafat, teologi politik, sejarah lingkungan, dan studi poskolonial ia satukan untuk merancang kemungkinan hidup bersama yang melampaui perang identitas yang melelahkan. Bagi banyak Gen Z yang lelah dengan polarisasi, Meziane menawarkan bukan jawaban instan, melainkan cara bertanya yang sama sekali baru.
Mohamed Amer Meziane adalah seorang filsuf dan akademisi yang kini menjelma sebagai salah satu suara paling segar dan berani dalam perbincangan dekolonial global. Lahir dan besar di Aljazair, lalu menempuh pendidikan tinggi di Prancis, Meziane membawa perspektif unik yang lahir dari persilangan dua dunia: pengalaman hidup sebagai subjek pascakolonial Afrika Utara dan ketajaman tradisi intelektual kontinental.
Saat ini ia menjabat sebagai Assistant Professor of French and Francophone Studies di Brown University, Amerika Serikat, setelah sebelumnya mengajar di Columbia University.
Pemikiran Meziane berakar pada pertanyaan besar: mengapa perdebatan modern selalu memaksa kita memilih antara “Islam” dan “sekular”, seolah keduanya adalah entitas abadi yang saling bermusuhan? Dalam proyek filsafatnya, ia membongkar dikotomi itu dengan menunjukkan bahwa sekularisme Eropa justru terbentuk melalui perjumpaan kolonial dengan dunia Islam. Konsep “islamo-sekularisme” yang ia tawarkan bukanlah jalan tengah yang mendamaikan kedua kutub, melainkan pembongkaran atas jebakan berpikir yang diwariskan oleh modernitas kolonial. Baginya, negara sekuler modern tidak pernah benar-benar menyingkirkan agama; ia hanya mengklasifikasi ulang Islam sebagai entitas yang “kurang modern” dan harus terus diawasi.
Karya monumentalnya, The States of the Earth: An Ecological and Racial History of Secularization (Verso, 2023), langsung memantik diskusi internasional. Buku itu melacak bagaimana sekularisasi di Prancis berjalan seiring dengan penjajahan atas Aljazair dan perampasan tanah-tanah Muslim, sebuah operasi yang ia sebut sebagai sekularisasi bumi. Meziane juga dikenal lewat artikel berpengaruh seperti “The Coloniality of Secularism: Race, Islam, and the Making of the Modern State” (2020), yang memperkenalkan gagasan bahwa sekularisme bukan netral, melainkan mesin rasialisasi.
Selain menulis, Meziane adalah intelektual publik yang kerap diundang berbicara di forum-forum global tentang krisis iklim, Islamofobia, dan masa depan dekolonisasi. Ia mewakili generasi pemikir yang menolak mengurung diri dalam batas-batas disiplin: filsafat, teologi politik, sejarah lingkungan, dan studi poskolonial ia satukan untuk merancang kemungkinan hidup bersama yang melampaui perang identitas yang melelahkan. Bagi banyak Gen Z yang lelah dengan polarisasi, Meziane menawarkan bukan jawaban instan, melainkan cara bertanya yang sama sekali baru.