Dunia menyaksikan dengan cemas pada awal 2026 ketika pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat dan Israel menggempur wilayah Iran. Kilatan-ledakan membelah langit malam Teheran, pangkalan-pangkalan militer luluh lantak, ribuan warga sipil tewas dan terluka dalam hitungan minggu (Chakrabarti, 2026, hlm. 3‒4). Sejenak kita mungkin bertanya-tanya: Di abad ke-21 yang katanya super canggih, di era digital yang menghubungkan miliaran manusia, mengapa perang masih menjadi pilihan?
Bagi realis, jawabannya sederhana: Sistem internasional itu anarkis, tiada polisi dunia, setiap negara harus memikirkan keamanannya sendiri. Bagi liberalis, jawabannya juga sederhana: Institusi-institusi internasional masih lemah dan gagal mencegah konflik. Tapi ada perspektif lainperspektif yang lebih dalam, lebih struktural, dan lebih kritis: Marxisme, Neo-Marxisme, dan Teori Kritis.
Bayangkan politik global sebagai sebuah gedung pencakar langit. Realis dan liberalis sibuk mengamati aktivitas di lantai paling atas ruang rapat para direktur negara-negara besar. Mereka mendiskusikan strategi keamanan, aliansi militer, dan perjanjian perdagangan. Tapi Marxisme mengajak kita turun ke fondasi gedung ituke mesin-mesin produksi, ke ruang-ruang kelas sosial, ke logika kapitalisme yang menggerakkan seluruh bangunan. Di sanalah, menurut tradisi ini, akar masalah sesungguhnya berada.
Esai ini mengajak Anda menjelajahi tiga perspektif kritis dalam Hubungan Internasional Marxisme, Neo-Marxisme, dan Teori Kritis dengan bahasa yang mudah dicerna. Kita akan melihat bagaimana ketiganya memahami politik global, apa perbedaan di antara mereka, dan bagaimana mereka dapat menerangi konflik paling mendesak di Timur Tengah saat ini: Ketegangan dan perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Mari kita mulai perjalanan intelektual ini.
Marxisme Klasik
Di jantung Marxisme terdapat sebuah gagasan sederhana namun revolusioner: Materialisme historis. Istilah ini mungkin terdengar berat, tapi idenya lugas: Cara manusia mengorganisir produksi kebutuhan hidup merekabertani, berburu, membuat pabrik
Dunia menyaksikan dengan cemas pada awal 2026 ketika pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat dan Israel menggempur wilayah Iran. Kilatan-ledakan membelah langit malam Teheran, pangkalan-pangkalan militer luluh lantak, ribuan warga sipil tewas dan terluka dalam hitungan minggu (Chakrabarti, 2026, hlm. 3‒4). Sejenak kita mungkin bertanya-tanya: Di abad ke-21 yang katanya super canggih, di era digital yang menghubungkan miliaran manusia, mengapa perang masih menjadi pilihan?
Bagi realis, jawabannya sederhana: Sistem internasional itu anarkis, tiada polisi dunia, setiap negara harus memikirkan keamanannya sendiri. Bagi liberalis, jawabannya juga sederhana: Institusi-institusi internasional masih lemah dan gagal mencegah konflik. Tapi ada perspektif lainperspektif yang lebih dalam, lebih struktural, dan lebih kritis: Marxisme, Neo-Marxisme, dan Teori Kritis.
Bayangkan politik global sebagai sebuah gedung pencakar langit. Realis dan liberalis sibuk mengamati aktivitas di lantai paling atas ruang rapat para direktur negara-negara besar. Mereka mendiskusikan strategi keamanan, aliansi militer, dan perjanjian perdagangan. Tapi Marxisme mengajak kita turun ke fondasi gedung ituke mesin-mesin produksi, ke ruang-ruang kelas sosial, ke logika kapitalisme yang menggerakkan seluruh bangunan. Di sanalah, menurut tradisi ini, akar masalah sesungguhnya berada.
Esai ini mengajak Anda menjelajahi tiga perspektif kritis dalam Hubungan Internasional Marxisme, Neo-Marxisme, dan Teori Kritis dengan bahasa yang mudah dicerna. Kita akan melihat bagaimana ketiganya memahami politik global, apa perbedaan di antara mereka, dan bagaimana mereka dapat menerangi konflik paling mendesak di Timur Tengah saat ini: Ketegangan dan perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Mari kita mulai perjalanan intelektual ini.
Marxisme Klasik
Di jantung Marxisme terdapat sebuah gagasan sederhana namun revolusioner: Materialisme historis. Istilah ini mungkin terdengar berat, tapi idenya lugas: Cara manusia mengorganisir produksi kebutuhan hidup merekabertani, berburu, membuat pabrik