Perang Iran dan Teori Agresi Struktural Johan Galtung


Deskripsi

Structural Theory of Aggression karya Johan Galtung dengan aneka konsep seperti rank disequilibrium, topdog, underdog, dan criss-cross masih relevan dengan konteks geopolitik aktual, khususnya agresi Amerika dan Israel terhadap Iran. Teori Galtung dapat membuka ruang untuk analisis kritis terhadap dinamika kekuasaan dalam sistem internasional.

Dalam struktur Galtung, kita dapat menjelaskan bahwa agresi bukan hanya semata hasil dari keinginan subjektif, tetapi juga merupakan hasil dari ketidakseimbangan struktural dalam sistem sosial atau internasional. Penulis berupaya keras menghubungkan teori Galtung dengan kasus nyata seperti agresi Amerika dan Israel terhadap Iran, guna menunjukkan kepada pembaca bagaimana topdog (Amerika dan Israel) mungkin merasa terdorong untuk mempertahankan posisi mereka dalam sistem internasional, bahkan melalui kekerasan, karena merasa terancam oleh ketidakseimbangan struktural sistemik dengan munculnya Rusia, Cina, Pakistan, dan Turki. 

Selain itu, Teori Agresi Struktual Galtung juga melakukan tekanan pada dimensi budaya dan nilai. Penulis menyoroti bahwa ketidakseimbangan tidak hanya bersifat material (ekonomi, militer), tetapi juga budaya dan ideologis. Hal ini penulis anggap penting penting karena menunjukkan bahwa agresi bisa muncul dari perasaan ketidakadilan atau ketidaksesuaian nilai, bukan semata hanya hanya kekuatan fisik.

Ada sejumlah permasalahan yang penulis hadapi. Bahwa keterlibatan Iran sebagai aktor dalam konteks Galtung, yaitu kendati Iran dapat disebut sebagai "underdog", ada kesulitan tersendiri untuk menjelaskan secara rinci bagaimana Iran berada dalam posisi rank disequilibrium. Apakah Iran memiliki kekuatan militer yang signifikan (seperti dalam kriteria "kekuatan") tetapi lemah dalam kriteria lain seperti pendapatan per kapita atau hubungan diplomatik? Ini bisa menjadi titik kunci untuk menunjukkan bagaimana Iran bisa menjadi topdog dalam satu aspek namun underdog dalam aspek lain.

Kesulitan lainnya adalah peran negara ketiga atau mediator. Penulis berasumsi bahwa dalam sistem internasional, kurangnya mediator netral akan memperburuk konflik. Namun, penulis coba mengatasinya dengan mengembangkan secara lebih jauh bagaimana negara-negara seperti Rusia, China, atau organisasi seperti PBB berperan dalam menyeimbangkan atau memperburuk ketegangan antara topdog dan underdog.


Konten

Perang Iran dan Teori Agresi Struktural Johan Galtung

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Perang Iran dan Teori Agresi Struktural Johan Galtung


Deskripsi

Structural Theory of Aggression karya Johan Galtung dengan aneka konsep seperti rank disequilibrium, topdog, underdog, dan criss-cross masih relevan dengan konteks geopolitik aktual, khususnya agresi Amerika dan Israel terhadap Iran. Teori Galtung dapat membuka ruang untuk analisis kritis terhadap dinamika kekuasaan dalam sistem internasional.

Dalam struktur Galtung, kita dapat menjelaskan bahwa agresi bukan hanya semata hasil dari keinginan subjektif, tetapi juga merupakan hasil dari ketidakseimbangan struktural dalam sistem sosial atau internasional. Penulis berupaya keras menghubungkan teori Galtung dengan kasus nyata seperti agresi Amerika dan Israel terhadap Iran, guna menunjukkan kepada pembaca bagaimana topdog (Amerika dan Israel) mungkin merasa terdorong untuk mempertahankan posisi mereka dalam sistem internasional, bahkan melalui kekerasan, karena merasa terancam oleh ketidakseimbangan struktural sistemik dengan munculnya Rusia, Cina, Pakistan, dan Turki. 

Selain itu, Teori Agresi Struktual Galtung juga melakukan tekanan pada dimensi budaya dan nilai. Penulis menyoroti bahwa ketidakseimbangan tidak hanya bersifat material (ekonomi, militer), tetapi juga budaya dan ideologis. Hal ini penulis anggap penting penting karena menunjukkan bahwa agresi bisa muncul dari perasaan ketidakadilan atau ketidaksesuaian nilai, bukan semata hanya hanya kekuatan fisik.

Ada sejumlah permasalahan yang penulis hadapi. Bahwa keterlibatan Iran sebagai aktor dalam konteks Galtung, yaitu kendati Iran dapat disebut sebagai "underdog", ada kesulitan tersendiri untuk menjelaskan secara rinci bagaimana Iran berada dalam posisi rank disequilibrium. Apakah Iran memiliki kekuatan militer yang signifikan (seperti dalam kriteria "kekuatan") tetapi lemah dalam kriteria lain seperti pendapatan per kapita atau hubungan diplomatik? Ini bisa menjadi titik kunci untuk menunjukkan bagaimana Iran bisa menjadi topdog dalam satu aspek namun underdog dalam aspek lain.

Kesulitan lainnya adalah peran negara ketiga atau mediator. Penulis berasumsi bahwa dalam sistem internasional, kurangnya mediator netral akan memperburuk konflik. Namun, penulis coba mengatasinya dengan mengembangkan secara lebih jauh bagaimana negara-negara seperti Rusia, China, atau organisasi seperti PBB berperan dalam menyeimbangkan atau memperburuk ketegangan antara topdog dan underdog.


Konten

Perang Iran dan Teori Agresi Struktural Johan Galtung