Jeritan dari Sebuah Desa yang Terlupakan
Di sebuah pelosok Desa Karangjati, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, berdirilah sebuah gubuk berdinding anyaman bambu dengan atap genting bocor yang sudah ditambal dengan plastik bekas beras. Di terasnya, dua orang perempuan paruh baya duduk berselonjor di atas tikar pandan yang sudah bolong di sana-sini. Mereka adalah Inem dan Ponirah.
Inem, 53 tahun, bertubuh subur dengan rambut disanggul asal-asalan, mengenakan daster luntur bermotif bunga-bunga yang sebenarnya sudah tidak jelas lagi gambarnya. Ponirah, 51 tahun, lebih kurus dengan muka tirus dan mata yang selalu menyipit karena rabun jauh tapi menolak pakai kacamata karena "nggak gagah." Bersama-sama, mereka menjalankan usaha "solar eceran seadanya" dengan modal patungan dari hasil menjual ayam kampung masing-masing.
Usaha mereka sederhana: sebuah drum biru kapasitas 200 liter yang ditaruh di bawah pohon jati, selang plastik transparan sepanjang tiga meter, dan papan nama dari triplek bertuliskan "SOLR ECRAN" karena mereka tidak sempat menyelesaikan huruf-hurufnya saat membuat. Dari drum inilah, Inem dan Ponirah menggantungkan hidup dua keluarga, total delapan mulut termasuk anak, menantu, dan cucu-cucu yang masih ingusan.
Tapi hari-hari belakangan ini, drum itu hampir selalu kosong. Bukan karena mereka malas membeli pasokan, melainkan karena harga solar di tingkat agen melonjak gila-gilaan. Dari Rp6.000 per liter melonjak ke Rp12.000, lalu ke Rp15.000, dan terakhir, ini yang membuat mereka berdua hampir pingsan, ke Rp22.000 per liter.
"Ndasku mumet, Nem," keluh Ponirah suatu sore sambil mengipas-ngipas dengan serok nasi, alat yang jelas bukan untuk mengipas. "Lha kok solar saiki larang kaya minyak wangi. Arep tuku bensin malah kudu adol sapi. Lah aku ra nduwe sapi."
Inem menghela napas panjang, nyaris seperti suara ban bocor. "Iki kabeh gara-gara perang, Nirah. Katanya sih ana negara jenenge Iran dibombardir karo Amerika. Mosok? Amerika kuwi adoh, Iran kuwi adoh. Lha kok awake dhewe sing kelangan solar? Logikane piye?"
Jeritan dari Sebuah Desa yang Terlupakan
Di sebuah pelosok Desa Karangjati, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, berdirilah sebuah gubuk berdinding anyaman bambu dengan atap genting bocor yang sudah ditambal dengan plastik bekas beras. Di terasnya, dua orang perempuan paruh baya duduk berselonjor di atas tikar pandan yang sudah bolong di sana-sini. Mereka adalah Inem dan Ponirah.
Inem, 53 tahun, bertubuh subur dengan rambut disanggul asal-asalan, mengenakan daster luntur bermotif bunga-bunga yang sebenarnya sudah tidak jelas lagi gambarnya. Ponirah, 51 tahun, lebih kurus dengan muka tirus dan mata yang selalu menyipit karena rabun jauh tapi menolak pakai kacamata karena "nggak gagah." Bersama-sama, mereka menjalankan usaha "solar eceran seadanya" dengan modal patungan dari hasil menjual ayam kampung masing-masing.
Usaha mereka sederhana: sebuah drum biru kapasitas 200 liter yang ditaruh di bawah pohon jati, selang plastik transparan sepanjang tiga meter, dan papan nama dari triplek bertuliskan "SOLR ECRAN" karena mereka tidak sempat menyelesaikan huruf-hurufnya saat membuat. Dari drum inilah, Inem dan Ponirah menggantungkan hidup dua keluarga, total delapan mulut termasuk anak, menantu, dan cucu-cucu yang masih ingusan.
Tapi hari-hari belakangan ini, drum itu hampir selalu kosong. Bukan karena mereka malas membeli pasokan, melainkan karena harga solar di tingkat agen melonjak gila-gilaan. Dari Rp6.000 per liter melonjak ke Rp12.000, lalu ke Rp15.000, dan terakhir, ini yang membuat mereka berdua hampir pingsan, ke Rp22.000 per liter.
"Ndasku mumet, Nem," keluh Ponirah suatu sore sambil mengipas-ngipas dengan serok nasi, alat yang jelas bukan untuk mengipas. "Lha kok solar saiki larang kaya minyak wangi. Arep tuku bensin malah kudu adol sapi. Lah aku ra nduwe sapi."
Inem menghela napas panjang, nyaris seperti suara ban bocor. "Iki kabeh gara-gara perang, Nirah. Katanya sih ana negara jenenge Iran dibombardir karo Amerika. Mosok? Amerika kuwi adoh, Iran kuwi adoh. Lha kok awake dhewe sing kelangan solar? Logikane piye?"