Selamat datang di era “Jempol Berkuasa.” Itulah kira-kira lukisan populer dalam Ilmu Politik kali ini. Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia di mana suara Anda, cukup melalui ketikan jempol di media sosial, bisa mengguncang istana? Dunia di mana seorang kandidat presiden justru lebih takut pada trending topic negatif ketimbang demonstrasi jalanan? Atau duniadi mana algoritma lebih mengenali preferensi politik Anda daripada pasangan hidup Anda sendiri?
Itulah dunia yang kita tinggali sekarang. Dunia di mana politik sudah sepenuhnya digital. Politik Digital (Digital Politics) bukanlah sekadar istilah keren yang bertebaran di seminar-seminar mahal. Ia adalah realitas sehari-hari yang membentuk bagaimana kita memilih pemimpin, bagaimana kita berdebat tentang isu publik, bagaimana kita marah, dan bagaimana kita berharap. Sebagaimana ditegaskan oleh Chadwick dalam karya monumentalnya, kehadiran teknologi digital telah mengubah secara fundamental relasi antara negara, warga negara, dan teknologi komunikasi, sehingga memunculkan lanskap politik yang sama sekali baru (Chadwick, 2006, hlm. 3-5).
Esai ini hadir sebagai jembatan. Di satu sisi, ia ingin mengajak Anda menyelami teori-teori canggih tentang politik digital dari para pemikir dunia. Di sisi lain, ia ditulis dengan gaya bertutur yang mudah dicerna, layaknya obrolan warung kopi, tetapi dengan cita rasa akademik yang kental.
Selamat datang di era “Jempol Berkuasa.” Itulah kira-kira lukisan populer dalam Ilmu Politik kali ini. Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia di mana suara Anda, cukup melalui ketikan jempol di media sosial, bisa mengguncang istana? Dunia di mana seorang kandidat presiden justru lebih takut pada trending topic negatif ketimbang demonstrasi jalanan? Atau duniadi mana algoritma lebih mengenali preferensi politik Anda daripada pasangan hidup Anda sendiri?
Itulah dunia yang kita tinggali sekarang. Dunia di mana politik sudah sepenuhnya digital. Politik Digital (Digital Politics) bukanlah sekadar istilah keren yang bertebaran di seminar-seminar mahal. Ia adalah realitas sehari-hari yang membentuk bagaimana kita memilih pemimpin, bagaimana kita berdebat tentang isu publik, bagaimana kita marah, dan bagaimana kita berharap. Sebagaimana ditegaskan oleh Chadwick dalam karya monumentalnya, kehadiran teknologi digital telah mengubah secara fundamental relasi antara negara, warga negara, dan teknologi komunikasi, sehingga memunculkan lanskap politik yang sama sekali baru (Chadwick, 2006, hlm. 3-5).
Esai ini hadir sebagai jembatan. Di satu sisi, ia ingin mengajak Anda menyelami teori-teori canggih tentang politik digital dari para pemikir dunia. Di sisi lain, ia ditulis dengan gaya bertutur yang mudah dicerna, layaknya obrolan warung kopi, tetapi dengan cita rasa akademik yang kental.