Politik Transenden Mulla Sadra Jalan Spiritual Menata Negara


Deskripsi

Pernahkah kita merenung, untuk apa sebenarnya sebuah negara ada? Apakah ia sekadar mesin pengatur lalu lintas dan pemungut pajak? Ataukah ia memiliki misi suci yang lebih dalam: mengantarkan setiap warganya menuju puncak kebahagiaan dan kesempurnaan sejati? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi pusat perhatian seorang filsuf besar Persia, Shadr al-Din Muhammad al-Shirazi, yang lebih kita kenal sebagai Mulla Sadra (1571–1640).

Mulla Sadra bukanlah pemikir politik biasa yang sibuk dengan hitung-hitungan suara atau strategi kekuasaan. Ia adalah seorang arsitek peradaban yang merajut benang-benang filsafat, mistisisme, dan wahyu menjadi satu permadani pemikiran yang dikenal dengan nama Al-Hikmah Al-Muta‘aliyah atau Filsafat Hikmah Transenden. Dalam sistem filsafatnya yang megah ini, politik bukanlah sekadar "seni kemungkinan" yang pragmatis, melainkan sebuah "seni pembimbingan jiwa" menuju Allah SWT.

"Memberikan sebuah investigasi yang komprehensif dan mudah diakses terhadap karya-karya Mulla Sadra, buku ini meneguhkan filsafat politiknya dan menginisiasi dialog tentang relevansi filsafat Sadra dengan tantangan zaman sekarang." (Toussi, 2020, hlm. 1)

Tujuan esai ini jelas: kita akan bersama-sama mengupas inti pemikiran politik Mulla Sadra, mulai dari konsep-konsep kuncinya, proposisi-proposisi briliannya untuk penguasa, hingga syarat-syarat ketat bagi siapa pun yang berani mengemban amanah kekuasaan. Setelah itu, kita akan membawa gagasan-gagasan ini dari langit ide untuk membumikannya dalam realitas politik kontemporer, baik di panggung global maupun di negeri tercinta, Indonesia. Mari kita mulai!

Biografi Intelektual Singkat

Untuk memahami pemikiran seseorang, kita perlu menyelami atmosfer zamannya. Mulla Sadra hidup di era Kekaisaran Safawi (1501–1736), sebuah periode yang sangat krusial bagi Persia (Iran modern). Dinasti Safawi baru saja menjadikan Syiah Dua Belas Imam sebagai agama resmi negara, menciptakan sebuah transformasi politik dan teologis yang dahsyat. Negara membutuhkan fondasi intelektual baru untuk melegitimasi kekuasaannya, sementara di sisi lain, pergulatan antara para filsuf (yang sering dicap rasionalis), para teolog, dan kaum sufi terus berlangsung. Ada semacam "perebutan jiwa" dalam tubuh umat Islam sendiri.

Di tengah pusaran inilah Mulla Sadra hadir. Ayahnya adalah seorang pejabat istana, tetapi jalan hidup Sadra justru membawanya ke pengembaraan spiritual yang mendalam. Ia berguru kepada para maestro terbesar zamannya, seperti Mir Damad dan Syaikh Baha’i. Namun, kejeniusannya mendorongnya melampaui sekadar menjadi murid yang baik. Setelah melalui periode uzlah (menyendiri) yang panjang di desa Kahak, dekat Qom, ia melahirkan mahakarya yang menjadi fondasi peradaban, yaitu Al-Hikmah Al-Muta‘aliyah fi al-Asfar al-‘Aqliyyah al-Arba‘ah, atau lebih dikenal dengan nama Kitab Al-Asfar (Buku Perjalanan).


Konten

Politik Transenden Mulla Sadra Jalan Spiritual Menata Negara

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Politik Transenden Mulla Sadra Jalan Spiritual Menata Negara


Deskripsi

Pernahkah kita merenung, untuk apa sebenarnya sebuah negara ada? Apakah ia sekadar mesin pengatur lalu lintas dan pemungut pajak? Ataukah ia memiliki misi suci yang lebih dalam: mengantarkan setiap warganya menuju puncak kebahagiaan dan kesempurnaan sejati? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi pusat perhatian seorang filsuf besar Persia, Shadr al-Din Muhammad al-Shirazi, yang lebih kita kenal sebagai Mulla Sadra (1571–1640).

Mulla Sadra bukanlah pemikir politik biasa yang sibuk dengan hitung-hitungan suara atau strategi kekuasaan. Ia adalah seorang arsitek peradaban yang merajut benang-benang filsafat, mistisisme, dan wahyu menjadi satu permadani pemikiran yang dikenal dengan nama Al-Hikmah Al-Muta‘aliyah atau Filsafat Hikmah Transenden. Dalam sistem filsafatnya yang megah ini, politik bukanlah sekadar "seni kemungkinan" yang pragmatis, melainkan sebuah "seni pembimbingan jiwa" menuju Allah SWT.

"Memberikan sebuah investigasi yang komprehensif dan mudah diakses terhadap karya-karya Mulla Sadra, buku ini meneguhkan filsafat politiknya dan menginisiasi dialog tentang relevansi filsafat Sadra dengan tantangan zaman sekarang." (Toussi, 2020, hlm. 1)

Tujuan esai ini jelas: kita akan bersama-sama mengupas inti pemikiran politik Mulla Sadra, mulai dari konsep-konsep kuncinya, proposisi-proposisi briliannya untuk penguasa, hingga syarat-syarat ketat bagi siapa pun yang berani mengemban amanah kekuasaan. Setelah itu, kita akan membawa gagasan-gagasan ini dari langit ide untuk membumikannya dalam realitas politik kontemporer, baik di panggung global maupun di negeri tercinta, Indonesia. Mari kita mulai!

Biografi Intelektual Singkat

Untuk memahami pemikiran seseorang, kita perlu menyelami atmosfer zamannya. Mulla Sadra hidup di era Kekaisaran Safawi (1501–1736), sebuah periode yang sangat krusial bagi Persia (Iran modern). Dinasti Safawi baru saja menjadikan Syiah Dua Belas Imam sebagai agama resmi negara, menciptakan sebuah transformasi politik dan teologis yang dahsyat. Negara membutuhkan fondasi intelektual baru untuk melegitimasi kekuasaannya, sementara di sisi lain, pergulatan antara para filsuf (yang sering dicap rasionalis), para teolog, dan kaum sufi terus berlangsung. Ada semacam "perebutan jiwa" dalam tubuh umat Islam sendiri.

Di tengah pusaran inilah Mulla Sadra hadir. Ayahnya adalah seorang pejabat istana, tetapi jalan hidup Sadra justru membawanya ke pengembaraan spiritual yang mendalam. Ia berguru kepada para maestro terbesar zamannya, seperti Mir Damad dan Syaikh Baha’i. Namun, kejeniusannya mendorongnya melampaui sekadar menjadi murid yang baik. Setelah melalui periode uzlah (menyendiri) yang panjang di desa Kahak, dekat Qom, ia melahirkan mahakarya yang menjadi fondasi peradaban, yaitu Al-Hikmah Al-Muta‘aliyah fi al-Asfar al-‘Aqliyyah al-Arba‘ah, atau lebih dikenal dengan nama Kitab Al-Asfar (Buku Perjalanan).


Konten

Politik Transenden Mulla Sadra Jalan Spiritual Menata Negara