Cover Prasangka sebagai Produk Budaya Akar Konflik Etnis di Kalimantan

Prasangka sebagai Produk Budaya Akar Konflik Etnis di Kalimantan


Deskripsi

Manakala terjadi pembahasan seputar persoalan prasangka antarkelompok di Indonesia, sebagian besar perhatian publik kerap tertuju pada dinamika mayoritas-minoritas di Pulau Jawa. Sementara itu, Pulau Kalimantan, yang kerap dipandang sebagai wilayah dengan harmoni sosial yang relatif tinggi, justru menyimpan lapisan prasangka kultural yang tak kalah kompleks.

Konflik berdarah antara etnis Dayak dan Madura yang meletus di Sampit pada tahun 2001 merupakan bukti paling gamblang bahwa prasangka antaretnis bukanlah fenomena yang terbatas pada pusat-pusat urban di Jawa. Dalam esainya mengenai kekerasan etnis, Peluso dan Harwell (2001) mencatat bahwa peristiwa tersebut hanyalah satu babak dari sejarah panjang ketegangan teritorial dan perebutan sumber daya yang dibingkai dalam narasi identitas kultural.

Esai ini hendak mengkaji fenomena prasangka antaretnis di Pulau Kalimantan melalui lensa teori budaya. Teori ini menyatakan bahwa prasangka ekstrem bukan semata-mata produk psikologi individual, melainkan bagian tak terpisahkan dari budaya yang diwariskan secara sosial.

Premis sentralnya adalah bahwa individu memiliki prasangka karena mereka hidup dalam suatu “budaya prasangka”, budaya yang mengajarkan kepada masyarakat tentang apa yang “lebih baik” atau “lebih buruk” dari orang atau kelompok lain. Lebih jauh lagi, prasangka serupa juga ditemukan pada diri orang-orang yang menjadi sasaran prasangka itu sendiri, menunjukkan bahwa prasangka bersarang dalam struktur budaya secara lebih luas, bukan sekadar fenomena satu arah dari pihak yang dominan kepada yang subordinat.

Analisis prasangka etnis di Kalimantan sebagai produk budaya warisan, ditinjau melalui teori konflik Dayak-Madura dan kajian Indonesianis Barat.

Dengan menggunakan kasus-kasus faktual yang melibatkan interaksi antara etnis Dayak, Madura, Melayu, dan Tionghoa di Pulau Kalimantan, serta merujuk pada kajian para Indonesianis terkemuka seperti Robert Cribb, Mary Somers Heidhues, Nancy Lee Peluso, dan Mary Hawkins, esai ini akan menunjukkan bagaimana prasangka tumbuh, diwariskan, dan terus direproduksi dalam budaya masyarakat setempat.


Konten

Prasangka sebagai Produk Budaya Akar Konflik Etnis di Kalimantan

Harga

Rp 3.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Prasangka sebagai Produk Budaya Akar Konflik Etnis di Kalimantan


Deskripsi

Manakala terjadi pembahasan seputar persoalan prasangka antarkelompok di Indonesia, sebagian besar perhatian publik kerap tertuju pada dinamika mayoritas-minoritas di Pulau Jawa. Sementara itu, Pulau Kalimantan, yang kerap dipandang sebagai wilayah dengan harmoni sosial yang relatif tinggi, justru menyimpan lapisan prasangka kultural yang tak kalah kompleks.

Konflik berdarah antara etnis Dayak dan Madura yang meletus di Sampit pada tahun 2001 merupakan bukti paling gamblang bahwa prasangka antaretnis bukanlah fenomena yang terbatas pada pusat-pusat urban di Jawa. Dalam esainya mengenai kekerasan etnis, Peluso dan Harwell (2001) mencatat bahwa peristiwa tersebut hanyalah satu babak dari sejarah panjang ketegangan teritorial dan perebutan sumber daya yang dibingkai dalam narasi identitas kultural.

Esai ini hendak mengkaji fenomena prasangka antaretnis di Pulau Kalimantan melalui lensa teori budaya. Teori ini menyatakan bahwa prasangka ekstrem bukan semata-mata produk psikologi individual, melainkan bagian tak terpisahkan dari budaya yang diwariskan secara sosial.

Premis sentralnya adalah bahwa individu memiliki prasangka karena mereka hidup dalam suatu “budaya prasangka”, budaya yang mengajarkan kepada masyarakat tentang apa yang “lebih baik” atau “lebih buruk” dari orang atau kelompok lain. Lebih jauh lagi, prasangka serupa juga ditemukan pada diri orang-orang yang menjadi sasaran prasangka itu sendiri, menunjukkan bahwa prasangka bersarang dalam struktur budaya secara lebih luas, bukan sekadar fenomena satu arah dari pihak yang dominan kepada yang subordinat.

Analisis prasangka etnis di Kalimantan sebagai produk budaya warisan, ditinjau melalui teori konflik Dayak-Madura dan kajian Indonesianis Barat.

Dengan menggunakan kasus-kasus faktual yang melibatkan interaksi antara etnis Dayak, Madura, Melayu, dan Tionghoa di Pulau Kalimantan, serta merujuk pada kajian para Indonesianis terkemuka seperti Robert Cribb, Mary Somers Heidhues, Nancy Lee Peluso, dan Mary Hawkins, esai ini akan menunjukkan bagaimana prasangka tumbuh, diwariskan, dan terus direproduksi dalam budaya masyarakat setempat.


Konten

Prasangka sebagai Produk Budaya Akar Konflik Etnis di Kalimantan