Realisme, Liberalisme, dan Konstruktivisme dalam Hubungan Internasional


Deskripsi

Mengapa negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Cina bersaing ketat? Mengapa negara-negara Eropa memilih bekerja sama dalam Uni Eropa, sementara Inggris justru keluar? Mengapa isu perubahan iklim dan hak asasi manusia kini menjadi agenda utama politik global, padahal beberapa dekade lalu nyaris tidak terdengar? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi titik masuk untuk memahami tiga perspektif utama dalam studi Hubungan Internasional: Realisme, liberalisme, dan konstruktivisme.

Ketiganya ibarat tiga kacamata yang menghasilkan pandangan berbeda tentang gelas yang sama: Realisme melihat politik internasional sebagai arena perebutan kekuasaan; Liberalisme menyoroti potensi kerja sama dan peran institusi; Konstruktivisme menekankan peran ide, identitas, dan norma yang membentuk realitas sosial itu sendiri (Walt, 1998, hlm. 30). Esai ini menyajikan ketiga perspektif tersebut dengan bahasa populer dan mudah dicerna, dilengkapi contoh-contoh konkret masa kini. Pembahasan dimulai dari realisme, kemudian liberalisme, lalu konstruktivisme, sebelum akhirnya membandingkan kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Realisme

Realisme adalah tradisi tertua dalam studi Hubungan Internasional, yang akarnya dapat ditelusuri hingga History of the Peloponnesian War karya Thucydides. Dalam catatan sejarah itu, Thucydides mengisahkan bagaimana Athena, yang sedang jaya, menekan Pulau Melos dengan ultimatum: Tunduk atau dihancurkan. Dialog yang termasyhur itu"the strong do what they can and the weak suffer what they must"mengandung intisari realisme: Dalam politik internasional, kekuasaan (power) adalah kunci, dan moralitas sering kali tunduk pada kepentingan (Thucydides, sekitar 400 SM, Buku V, hlm. 89).


Konten

Realisme, Liberalisme, dan Konstruktivisme dalam Hubungan Internasional

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Realisme, Liberalisme, dan Konstruktivisme dalam Hubungan Internasional


Deskripsi

Mengapa negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Cina bersaing ketat? Mengapa negara-negara Eropa memilih bekerja sama dalam Uni Eropa, sementara Inggris justru keluar? Mengapa isu perubahan iklim dan hak asasi manusia kini menjadi agenda utama politik global, padahal beberapa dekade lalu nyaris tidak terdengar? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi titik masuk untuk memahami tiga perspektif utama dalam studi Hubungan Internasional: Realisme, liberalisme, dan konstruktivisme.

Ketiganya ibarat tiga kacamata yang menghasilkan pandangan berbeda tentang gelas yang sama: Realisme melihat politik internasional sebagai arena perebutan kekuasaan; Liberalisme menyoroti potensi kerja sama dan peran institusi; Konstruktivisme menekankan peran ide, identitas, dan norma yang membentuk realitas sosial itu sendiri (Walt, 1998, hlm. 30). Esai ini menyajikan ketiga perspektif tersebut dengan bahasa populer dan mudah dicerna, dilengkapi contoh-contoh konkret masa kini. Pembahasan dimulai dari realisme, kemudian liberalisme, lalu konstruktivisme, sebelum akhirnya membandingkan kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Realisme

Realisme adalah tradisi tertua dalam studi Hubungan Internasional, yang akarnya dapat ditelusuri hingga History of the Peloponnesian War karya Thucydides. Dalam catatan sejarah itu, Thucydides mengisahkan bagaimana Athena, yang sedang jaya, menekan Pulau Melos dengan ultimatum: Tunduk atau dihancurkan. Dialog yang termasyhur itu"the strong do what they can and the weak suffer what they must"mengandung intisari realisme: Dalam politik internasional, kekuasaan (power) adalah kunci, dan moralitas sering kali tunduk pada kepentingan (Thucydides, sekitar 400 SM, Buku V, hlm. 89).


Konten

Realisme, Liberalisme, dan Konstruktivisme dalam Hubungan Internasional