Relevansi Pemikiran Max Horkheimer dan Politik Indonesia


Deskripsi

Apa kabar, Pembaca yang budiman! Mari kita bayangkan sejenak suasana pada tahun 1944. Di sebuah ruangan kecil di pengasingan, Los Angeles, dua orang filsuf Jerman, Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno, tengah merampungkan sebuah buku yang kelak akan mengguncang dunia pemikiran. Di luar sana, Perang Dunia II sedang berkecamuk. Nazi Jerman, tanah air mereka, dipimpin oleh rezim yang berhasil meyakinkan jutaan orang bahwa proyek pembantaian sistematis adalah sesuatu yang "masuk akal." Bagaimana mungkin? Bukankah Jerman adalah negeri para pemikir, negeri Kant, Hegel, dan Goethe? Bukankah Pencerahan (Enlightenment), yang dirayakan sebagai kemenangan akal budi manusia, justru lahir di tanah Eropa?

Pertanyaan inilah yang menghantui Max Horkheimer sepanjang hidupnya. Jawabannya, sebagaimana akan kita lihat dalam esai ini, jauh lebih kompleks dan mengerikan daripada yang kita duga: Justru karena nalar telah direduksi menjadi sekadar alat untuk mencapai tujuan, itulah yang ia sebut "nalar instrumental" (instrumental reason), maka manusia modern bisa menjadi begitu efisien dalam melakukan kebiadaban. Namun, apa hubungannya dengan kita? Apa urgensinya dengan Indonesia hari ini?

Cobalah tengok sekeliling Anda. Lihatlah bagaimana para politisi kita bergonta-ganti partai tanpa malu, bagaimana oligarki mengeruk sumber daya alam atas nama "pembangunan," bagaimana kebijakan publik dikemas dalam jargon " demi rakyat" namun sesungguhnya melayani kepentingan segelintir elite, dan bagaimana masyarakat kita seolah terbius oleh hingar-bingar infotainment politik yang lebih mirip sinetron daripada arena deliberasi rasional. Semua ini, Pembaca, adalah manifestasi dari apa yang Horkheimer peringatkan delapan dekade silam: Kemenangan nalar instrumental yang menggerogoti nalar kritis.

Esai ini disusun dengan tiga maksud utama. Pertama, memperkenalkan gagasan-gagasan sentral Max Horkheimer, salah satu pendiri dan direktur Mazhab Frankfurt (Frankfurt School), kepada khalayak Indonesia secara komprehensif tetapi tetap mudah dicerna. Kedua, menunjukkan bahwa pemikiran Horkheimer bukanlah artefak masa lalu yang berdebu, melainkan pisau analisis yang masih sangat tajam untuk membedah realitas politik Indonesia kontemporer. Ketiga, mengajak kita semua, khususnya mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa, untuk mengembangkan apa yang disebut Horkheimer sebagai "sikap kritis" (kritisches Verhalten): Kemampuan untuk tidak menerima realitas sosial begitu saja sebagai sesuatu yang alamiah, melainkan sebagai produk dari struktur kekuasaan yang bisa dan harus dipertanyakan.


Konten

Relevansi Pemikiran Max Horkheimer dan Politik Indonesia

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Relevansi Pemikiran Max Horkheimer dan Politik Indonesia


Deskripsi

Apa kabar, Pembaca yang budiman! Mari kita bayangkan sejenak suasana pada tahun 1944. Di sebuah ruangan kecil di pengasingan, Los Angeles, dua orang filsuf Jerman, Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno, tengah merampungkan sebuah buku yang kelak akan mengguncang dunia pemikiran. Di luar sana, Perang Dunia II sedang berkecamuk. Nazi Jerman, tanah air mereka, dipimpin oleh rezim yang berhasil meyakinkan jutaan orang bahwa proyek pembantaian sistematis adalah sesuatu yang "masuk akal." Bagaimana mungkin? Bukankah Jerman adalah negeri para pemikir, negeri Kant, Hegel, dan Goethe? Bukankah Pencerahan (Enlightenment), yang dirayakan sebagai kemenangan akal budi manusia, justru lahir di tanah Eropa?

Pertanyaan inilah yang menghantui Max Horkheimer sepanjang hidupnya. Jawabannya, sebagaimana akan kita lihat dalam esai ini, jauh lebih kompleks dan mengerikan daripada yang kita duga: Justru karena nalar telah direduksi menjadi sekadar alat untuk mencapai tujuan, itulah yang ia sebut "nalar instrumental" (instrumental reason), maka manusia modern bisa menjadi begitu efisien dalam melakukan kebiadaban. Namun, apa hubungannya dengan kita? Apa urgensinya dengan Indonesia hari ini?

Cobalah tengok sekeliling Anda. Lihatlah bagaimana para politisi kita bergonta-ganti partai tanpa malu, bagaimana oligarki mengeruk sumber daya alam atas nama "pembangunan," bagaimana kebijakan publik dikemas dalam jargon " demi rakyat" namun sesungguhnya melayani kepentingan segelintir elite, dan bagaimana masyarakat kita seolah terbius oleh hingar-bingar infotainment politik yang lebih mirip sinetron daripada arena deliberasi rasional. Semua ini, Pembaca, adalah manifestasi dari apa yang Horkheimer peringatkan delapan dekade silam: Kemenangan nalar instrumental yang menggerogoti nalar kritis.

Esai ini disusun dengan tiga maksud utama. Pertama, memperkenalkan gagasan-gagasan sentral Max Horkheimer, salah satu pendiri dan direktur Mazhab Frankfurt (Frankfurt School), kepada khalayak Indonesia secara komprehensif tetapi tetap mudah dicerna. Kedua, menunjukkan bahwa pemikiran Horkheimer bukanlah artefak masa lalu yang berdebu, melainkan pisau analisis yang masih sangat tajam untuk membedah realitas politik Indonesia kontemporer. Ketiga, mengajak kita semua, khususnya mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa, untuk mengembangkan apa yang disebut Horkheimer sebagai "sikap kritis" (kritisches Verhalten): Kemampuan untuk tidak menerima realitas sosial begitu saja sebagai sesuatu yang alamiah, melainkan sebagai produk dari struktur kekuasaan yang bisa dan harus dipertanyakan.


Konten

Relevansi Pemikiran Max Horkheimer dan Politik Indonesia