Relevansi Teori Network Society Manuel Castells dalam Lanskap Politik Digital Indonesia


Deskripsi

Pada suatu hari di tahun 1996, di tengah era ketika internet masih merupakan barang langka dan telepon seluler hanyalah alat komunikasi suara, seorang sosiolog Spanyol-Katalan menerbitkan sebuah buku yang kelak akan mendefinisikan cara kita memahami peradaban kontemporer. Buku itu berjudul The Rise of the Network Society, volume pertama dari trilogi ambisius The Information Age: Economy, Society and Culture. Penulisnya adalah Manuel Castells, dan premis dasarnya sangat radikal: kita sedang menyaksikan lahirnya sebuah bentuk masyarakat yang secara fundamental baru, diorganisir oleh dan melalui jaringan (networks). Bukan jaringan dalam arti metaforis, melainkan sebagai morfologi sosial yang sesungguhnya, tulang punggung dan sistem saraf dari kehidupan ekonomi, politik, dan kultural kontemporer (Castells, 2000, hlm. 500).

Lebih dari seperempat abad kemudian, kita hidup di dunia yang telah melampaui bahkan imajinasi paling berani Castells pada 1996. Jejaring sosial telah menjadi ruang publik de facto. Algoritma, bukan editor surat kabar, menentukan apa yang kita ketahui. Kecerdasan buatan menghasilkan konten yang tidak bisa dibedakan dari buatan manusia, dan identitas kita terpecah antara diri fisik dan persona digital yang seringkali bertentangan. Di Indonesia, dengan lebih dari 221 juta pengguna internet dan 143 juta pengguna media sosial aktif pada 2024, network society bukanlah abstraksi akademik, ia adalah kenyataan sehari-hari, terasa dalam setiap scroll di TikTok, setiap pesan di WhatsApp, dan setiap perdebatan di X (Twitter) (APJII, 2024). Pertanyaannya mengusik: Apakah masyarakat jaringan ini memberdayakan warga dan memperdalam demokrasi, seperti yang dijanjikan oleh utopianisme digital awal? Ataukah ia justru menciptakan bentuk-bentuk baru dari dominasi, polarisasi, dan kontrol yang lebih halus namun lebih efektif daripada yang pernah ada sebelumnya?

Esai ini bertujuan untuk melakukan dua hal besar. Pertama, menguraikan fondasi teoretis Network Society Castells secara komprehensif, dengan fokus pada elemen-elemen yang paling relevan untuk memahami politik digital kontemporer: logika jaringan, konsep space of flows dan timeless time, kebangkitan mass self-communication, serta dialektika fundamental antara the Net dan the Self. Kedua, mengevaluasi relevansi kerangka ini dalam lanskap politik Indonesia kontemporer melalui analisis empiris terhadap Pemilu 2024, budaya buzzer, dan gelombang resistensi sipil. Argumen utama yang dibangun adalah bahwa Indonesia merupakan kasus paradigmatik yang menegaskan sekaligus memperumit teori Castells: potensi pemberdayaan jaringan yang dijanjikan Castells memang terbukti, tetapi begitu pula potensi manipulasi dan kontrol yang mungkin diremehkan oleh optimisme awalnya.

Fondasi Teoretis Network Society

Untuk memahami network society, kita harus memulainya dari fondasi material yang mendasarinya. Castells berargumen bahwa pada akhir abad ke-20, dunia menyaksikan sebuah revolusi teknologi informasi yang signifikansinya setara dengan Revolusi Industri abad ke-18. Revolusi ini, menurutnya, bukanlah sekadar inovasi teknologi, ia adalah perubahan paradigma (paradigm shift) dalam cara 


Konten

Relevansi Teori Network Society Manuel Castells dalam Lanskap Politik Digital Indonesia

Harga

Rp 3.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Relevansi Teori Network Society Manuel Castells dalam Lanskap Politik Digital Indonesia


Deskripsi

Pada suatu hari di tahun 1996, di tengah era ketika internet masih merupakan barang langka dan telepon seluler hanyalah alat komunikasi suara, seorang sosiolog Spanyol-Katalan menerbitkan sebuah buku yang kelak akan mendefinisikan cara kita memahami peradaban kontemporer. Buku itu berjudul The Rise of the Network Society, volume pertama dari trilogi ambisius The Information Age: Economy, Society and Culture. Penulisnya adalah Manuel Castells, dan premis dasarnya sangat radikal: kita sedang menyaksikan lahirnya sebuah bentuk masyarakat yang secara fundamental baru, diorganisir oleh dan melalui jaringan (networks). Bukan jaringan dalam arti metaforis, melainkan sebagai morfologi sosial yang sesungguhnya, tulang punggung dan sistem saraf dari kehidupan ekonomi, politik, dan kultural kontemporer (Castells, 2000, hlm. 500).

Lebih dari seperempat abad kemudian, kita hidup di dunia yang telah melampaui bahkan imajinasi paling berani Castells pada 1996. Jejaring sosial telah menjadi ruang publik de facto. Algoritma, bukan editor surat kabar, menentukan apa yang kita ketahui. Kecerdasan buatan menghasilkan konten yang tidak bisa dibedakan dari buatan manusia, dan identitas kita terpecah antara diri fisik dan persona digital yang seringkali bertentangan. Di Indonesia, dengan lebih dari 221 juta pengguna internet dan 143 juta pengguna media sosial aktif pada 2024, network society bukanlah abstraksi akademik, ia adalah kenyataan sehari-hari, terasa dalam setiap scroll di TikTok, setiap pesan di WhatsApp, dan setiap perdebatan di X (Twitter) (APJII, 2024). Pertanyaannya mengusik: Apakah masyarakat jaringan ini memberdayakan warga dan memperdalam demokrasi, seperti yang dijanjikan oleh utopianisme digital awal? Ataukah ia justru menciptakan bentuk-bentuk baru dari dominasi, polarisasi, dan kontrol yang lebih halus namun lebih efektif daripada yang pernah ada sebelumnya?

Esai ini bertujuan untuk melakukan dua hal besar. Pertama, menguraikan fondasi teoretis Network Society Castells secara komprehensif, dengan fokus pada elemen-elemen yang paling relevan untuk memahami politik digital kontemporer: logika jaringan, konsep space of flows dan timeless time, kebangkitan mass self-communication, serta dialektika fundamental antara the Net dan the Self. Kedua, mengevaluasi relevansi kerangka ini dalam lanskap politik Indonesia kontemporer melalui analisis empiris terhadap Pemilu 2024, budaya buzzer, dan gelombang resistensi sipil. Argumen utama yang dibangun adalah bahwa Indonesia merupakan kasus paradigmatik yang menegaskan sekaligus memperumit teori Castells: potensi pemberdayaan jaringan yang dijanjikan Castells memang terbukti, tetapi begitu pula potensi manipulasi dan kontrol yang mungkin diremehkan oleh optimisme awalnya.

Fondasi Teoretis Network Society

Untuk memahami network society, kita harus memulainya dari fondasi material yang mendasarinya. Castells berargumen bahwa pada akhir abad ke-20, dunia menyaksikan sebuah revolusi teknologi informasi yang signifikansinya setara dengan Revolusi Industri abad ke-18. Revolusi ini, menurutnya, bukanlah sekadar inovasi teknologi, ia adalah perubahan paradigma (paradigm shift) dalam cara 


Konten

Relevansi Teori Network Society Manuel Castells dalam Lanskap Politik Digital Indonesia