Republik Recehan: Tragedi Lucu Miliarder Oranye dan Zombie Zionis


Deskripsi

Bagian 1: Di Bawah Langit Washington yang Sedang Marah-Marah

Langit Washington D.C. pagi itu tidak sedang bercanda. Warnanya kelabu seperti muka pegawai negeri yang baru saja dipotong tunjangannya oleh Elon Musk versi palsu. Di sepanjang Pennsylvania Avenue, lautan manusia bergelombang, mengibarkan spanduk-spanduk yang isinya lebih kreatif daripada skripsi mahasiswa desain komunikasi visual. Mereka datang dari segala penjuru: Portland dengan rambut warna-warni, Texas dengan topi koboi anti-Trump, New York dengan gelas kopi organik non-GMO seharga 12 dolar yang isinya sebenarnya cuma air putih rasa marah, dan California yang membawa sekte yoga anti-stres tapi teriaknya paling histeris.

emonstrasi hari itu bertajuk “National Trump-is-a-Cheeto Day”, sebuah perayaan informal yang sudah berlangsung setiap hari Selasa, Rabu, dan kadang-kadang Senin pagi setelah akhir pekan yang buruk. Poster-poster yang dibawa massa sungguh inventif. Ada yang bertuliskan: “Trump, Kembalikan Otakmu ke Salon!”, “Kau Bilang Tembok, Tapi Nyatanya Cuma Pagar Rumah Mertua”, dan favorit pribadiku: “Trump 2024: Karena Amerika Butuh Raja Badut.” Seseorang bahkan membawa patung kertas raksasa berbentuk Donald Trump sedang duduk di toilet emas sambil memegang remote TV yang tertulis “Nuclear Button”, dan di bagian bawahnya ada tulisan “Flush Me!”

Demonstrasi ini dipimpin oleh seorang perempuan bernama Sarah dari Brooklyn, yang konon nenek moyangnya adalah aktivis hak-hak sipil, tapi yang dia warisi hanya bakat membuat plakat sarkastik dan volume teriakan yang bisa memecahkan kacamata. Sarah, dengan kaos oblong hitam bertuliskan “I’m Not Yelling, I’m Just Projecting My Childhood Trauma”, berteriak di megafon sewaan:

“Kita tidak akan diam! Trump telah menjual negara ini ke oligarki! Dia boneka! Boneka Putin! Boneka Musk! Boneka Bibirinya sendiri!”

Massa bersorak. Seseorang di belakang menimpali: “Boneka Zionis juga!” Teriakan itu membuat kerumunan sedikit terbelah, karena faksi demonstran memang terdiri dari aliansi unik: anti-fasis, sosialis demokrat, vegan, flat-earther yang nyasar, dan juga aktivis pro-Palestina yang secara ideologis sebenarnya berseberangan tapi disatukan oleh kebencian yang sama pada pria berambut jagung itu. Sarah buru-buru merevisi teriakannya:

“Boneka oligarki global! Yang penting oligarki!”


Konten

Republik Recehan: Tragedi Lucu Miliarder Oranye dan Zombie Zionis

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Humor

Loading...

Republik Recehan: Tragedi Lucu Miliarder Oranye dan Zombie Zionis


Deskripsi

Bagian 1: Di Bawah Langit Washington yang Sedang Marah-Marah

Langit Washington D.C. pagi itu tidak sedang bercanda. Warnanya kelabu seperti muka pegawai negeri yang baru saja dipotong tunjangannya oleh Elon Musk versi palsu. Di sepanjang Pennsylvania Avenue, lautan manusia bergelombang, mengibarkan spanduk-spanduk yang isinya lebih kreatif daripada skripsi mahasiswa desain komunikasi visual. Mereka datang dari segala penjuru: Portland dengan rambut warna-warni, Texas dengan topi koboi anti-Trump, New York dengan gelas kopi organik non-GMO seharga 12 dolar yang isinya sebenarnya cuma air putih rasa marah, dan California yang membawa sekte yoga anti-stres tapi teriaknya paling histeris.

emonstrasi hari itu bertajuk “National Trump-is-a-Cheeto Day”, sebuah perayaan informal yang sudah berlangsung setiap hari Selasa, Rabu, dan kadang-kadang Senin pagi setelah akhir pekan yang buruk. Poster-poster yang dibawa massa sungguh inventif. Ada yang bertuliskan: “Trump, Kembalikan Otakmu ke Salon!”, “Kau Bilang Tembok, Tapi Nyatanya Cuma Pagar Rumah Mertua”, dan favorit pribadiku: “Trump 2024: Karena Amerika Butuh Raja Badut.” Seseorang bahkan membawa patung kertas raksasa berbentuk Donald Trump sedang duduk di toilet emas sambil memegang remote TV yang tertulis “Nuclear Button”, dan di bagian bawahnya ada tulisan “Flush Me!”

Demonstrasi ini dipimpin oleh seorang perempuan bernama Sarah dari Brooklyn, yang konon nenek moyangnya adalah aktivis hak-hak sipil, tapi yang dia warisi hanya bakat membuat plakat sarkastik dan volume teriakan yang bisa memecahkan kacamata. Sarah, dengan kaos oblong hitam bertuliskan “I’m Not Yelling, I’m Just Projecting My Childhood Trauma”, berteriak di megafon sewaan:

“Kita tidak akan diam! Trump telah menjual negara ini ke oligarki! Dia boneka! Boneka Putin! Boneka Musk! Boneka Bibirinya sendiri!”

Massa bersorak. Seseorang di belakang menimpali: “Boneka Zionis juga!” Teriakan itu membuat kerumunan sedikit terbelah, karena faksi demonstran memang terdiri dari aliansi unik: anti-fasis, sosialis demokrat, vegan, flat-earther yang nyasar, dan juga aktivis pro-Palestina yang secara ideologis sebenarnya berseberangan tapi disatukan oleh kebencian yang sama pada pria berambut jagung itu. Sarah buru-buru merevisi teriakannya:

“Boneka oligarki global! Yang penting oligarki!”


Konten

Republik Recehan: Tragedi Lucu Miliarder Oranye dan Zombie Zionis