Bayangkan seorang arsitek yang dihadapkan pada dua pilihan: Merancang gedung pencakar langit yang megah tetapi belum tentu bisa berdiri, atau sekadar menumpuk batu bata tanpa cetak biru. Di hadapan dilema inilah Robert King Merton berdiri. Pada pertengahan abad ke-20, sosiologi Amerika terbelah menjadi dua kutub yang sama-sama problematis: Di satu sisi berdiri megah Talcott Parsons dengan "teori besar" (grand theory)-nya yang menjulang ke langit abstraksi, dan di sisi lain berkeliaran para peneliti empiris yang sibuk mengumpulkan data tanpa kompas teoretis yang memadai. Merton memilih untuk tidak tinggal di kedua ekstrem itu. Ia memilih membangun dari tengah.
Pilihan Merton bukanlah bentuk kompromi yang setengah hati. Sebaliknya, ia merumuskan sebuah strategi intelektual yang revolusioner: Teori jangkauan menengah (middle-range theory). Gagasan ini bukan sekadar posisi taktis antara teori dan data, melainkan sebuah filsafat keilmuan yang utuh tentang bagaimana sosiologi seharusnya bekerja. Sebagaimana ditegaskan oleh Hedström dan Udehn (2011), "teori jangkauan menengah berfokus pada penjelasan parsial atas fenomena yang diamati di berbagai domain sosial melalui identifikasi mekanisme kausal inti" (p. 25).
Merton sendiri merumuskan orientasi ini dengan sangat jernih dalam magnum opus-nya, Social Theory and Social Structure. Dalam edisi 1968 yang diperluas, Merton menuliskan bahwa "teori-teori jangkauan menengah adalah teori-teori yang berada di antara hipotesis-hipotesis kerja minor namun perlu yang berkembang berlimpah selama penelitian sehari-hari, dan upaya-upaya sistematis yang mencakup segalanya untuk mengembangkan teori terpadu yang akan menjelaskan semua keteraturan perilaku sosial, organisasi sosial, dan perubahan sosial yang teramati" (Merton, 1968, p. 39). Definisi ini bukan sekadar taksonomi. Ia adalah deklarasi epistemologis.
Namun, siapakah sebenarnya Robert K. Merton? Sebelum ia menjadi salah satu sosiolog paling berpengaruh abad ke-20, ia hanyalah Meyer Robert Schkolnick, putra imigran Yahudi kelas pekerja dari Eropa Timur yang lahir di Philadelphia pada 4 Juli 1910 (Britannica, 1998). Ia menempuh pendidikan di Temple University di bawah bimbingan George E. Simpson, kemudian melanjutkan ke Harvard University di bawah asuhan Pitirim A. Sorokin dan Talcott Parsons sendiri, dua raksasa yang kelak teorinya akan ia kritik sekaligus ia bangun ulang (Crothers, 2020).
Bayangkan seorang arsitek yang dihadapkan pada dua pilihan: Merancang gedung pencakar langit yang megah tetapi belum tentu bisa berdiri, atau sekadar menumpuk batu bata tanpa cetak biru. Di hadapan dilema inilah Robert King Merton berdiri. Pada pertengahan abad ke-20, sosiologi Amerika terbelah menjadi dua kutub yang sama-sama problematis: Di satu sisi berdiri megah Talcott Parsons dengan "teori besar" (grand theory)-nya yang menjulang ke langit abstraksi, dan di sisi lain berkeliaran para peneliti empiris yang sibuk mengumpulkan data tanpa kompas teoretis yang memadai. Merton memilih untuk tidak tinggal di kedua ekstrem itu. Ia memilih membangun dari tengah.
Pilihan Merton bukanlah bentuk kompromi yang setengah hati. Sebaliknya, ia merumuskan sebuah strategi intelektual yang revolusioner: Teori jangkauan menengah (middle-range theory). Gagasan ini bukan sekadar posisi taktis antara teori dan data, melainkan sebuah filsafat keilmuan yang utuh tentang bagaimana sosiologi seharusnya bekerja. Sebagaimana ditegaskan oleh Hedström dan Udehn (2011), "teori jangkauan menengah berfokus pada penjelasan parsial atas fenomena yang diamati di berbagai domain sosial melalui identifikasi mekanisme kausal inti" (p. 25).
Merton sendiri merumuskan orientasi ini dengan sangat jernih dalam magnum opus-nya, Social Theory and Social Structure. Dalam edisi 1968 yang diperluas, Merton menuliskan bahwa "teori-teori jangkauan menengah adalah teori-teori yang berada di antara hipotesis-hipotesis kerja minor namun perlu yang berkembang berlimpah selama penelitian sehari-hari, dan upaya-upaya sistematis yang mencakup segalanya untuk mengembangkan teori terpadu yang akan menjelaskan semua keteraturan perilaku sosial, organisasi sosial, dan perubahan sosial yang teramati" (Merton, 1968, p. 39). Definisi ini bukan sekadar taksonomi. Ia adalah deklarasi epistemologis.
Namun, siapakah sebenarnya Robert K. Merton? Sebelum ia menjadi salah satu sosiolog paling berpengaruh abad ke-20, ia hanyalah Meyer Robert Schkolnick, putra imigran Yahudi kelas pekerja dari Eropa Timur yang lahir di Philadelphia pada 4 Juli 1910 (Britannica, 1998). Ia menempuh pendidikan di Temple University di bawah bimbingan George E. Simpson, kemudian melanjutkan ke Harvard University di bawah asuhan Pitirim A. Sorokin dan Talcott Parsons sendiri, dua raksasa yang kelak teorinya akan ia kritik sekaligus ia bangun ulang (Crothers, 2020).