Ruang Publik Bukan Medan Perang: Melawan Hoaks, Polarisasi, dan Sensor di Indonesia


Deskripsi

Esai ini lahir dari kegelisahan yang sudah lama mengendap: mengapa ruang publik kita semakin penuh dengan kebohongan, kebencian, dan ketakutan? Kegelisahan itu bukan datang dari ruang redaksi atau perpustakaan, melainkan dari hal-hal kecil yang kita alami sehari-hari. Dari pesan berantai di grup keluarga yang isinya ternyata palsu. Dari tetangga yang tiba-tiba berhenti saling menyapa karena berbeda pilihan. Dari anak muda yang takut bersuara karena ramai-ramai dituding sebagai pengkhianat. Dan dari para jurnalis serta aktivis yang harus berurusan dengan pasal-pasal yang lebih menakutkan daripada kebenaran yang mereka bawa.

Patologi komunikasi dan budaya politik adalah istilah yang terdengar berat. Tetapi ia sesungguhnya membicarakan sesuatu yang sangat dekat: cara kita berkomunikasi sebagai warga, cara kita memperlakukan fakta, cara kita menghadapi perbedaan, dan cara kita merawat kejujuran. Esai ini mencoba memetakan sembilan penyakit utama, disinformasi dan hoaks, propaganda dan indoktrinasi, polarisasi ekstrem, politik identitas, politik adu domba, politik ketakutan, politik kebencian, sensor dan pembungkaman oposisi, serta kriminalisasi aktivis dan jurnalis. Sembilan penyakit itu tidak berdiri sendiri; mereka saling menguatkan, membentuk lingkaran yang membuat ruang publik semakin sempit.

Dalam menulis, saya banyak berutang pada para pemikir yang telah lebih dulu menyalakan lentera di lorong gelap ini: John Stuart Mill, Hannah Arendt, Jacques Ellul, George Orwell, Edward Herman dan Noam Chomsky, serta Kathleen Hall Jamieson. Kutipan langsung dari sumber primer sengaja dipertahankan agar pembaca dapat menelusuri sendiri gagasan-gagasan itu. Saya juga berusaha menghadirkan contoh-contoh dari Indonesia dan dunia, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menunjukkan bahwa penyakit ini punya wajah yang sangat nyata dan bisa menimpa siapa saja.

Esai ini tidak menawarkan harapan yang murah. Ia tidak menjanjikan bahwa ruang publik akan sembuh dalam semalam. Tetapi ia juga menolak menyerah pada sinisme. Di antara keduanya, ada ruang untuk bekerja: memeriksa fakta, melindungi jurnalis, mendidik warga, dan menuntut platform digital untuk lebih bertanggung jawab. Semoga esai ini menjadi salah satu peta kecil untuk pekerjaan itu.


Konten

Ruang Publik Bukan Medan Perang: Melawan Hoaks, Polarisasi, dan Sensor di Indonesia

Harga

Rp 3.800

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Ruang Publik Bukan Medan Perang: Melawan Hoaks, Polarisasi, dan Sensor di Indonesia


Deskripsi

Esai ini lahir dari kegelisahan yang sudah lama mengendap: mengapa ruang publik kita semakin penuh dengan kebohongan, kebencian, dan ketakutan? Kegelisahan itu bukan datang dari ruang redaksi atau perpustakaan, melainkan dari hal-hal kecil yang kita alami sehari-hari. Dari pesan berantai di grup keluarga yang isinya ternyata palsu. Dari tetangga yang tiba-tiba berhenti saling menyapa karena berbeda pilihan. Dari anak muda yang takut bersuara karena ramai-ramai dituding sebagai pengkhianat. Dan dari para jurnalis serta aktivis yang harus berurusan dengan pasal-pasal yang lebih menakutkan daripada kebenaran yang mereka bawa.

Patologi komunikasi dan budaya politik adalah istilah yang terdengar berat. Tetapi ia sesungguhnya membicarakan sesuatu yang sangat dekat: cara kita berkomunikasi sebagai warga, cara kita memperlakukan fakta, cara kita menghadapi perbedaan, dan cara kita merawat kejujuran. Esai ini mencoba memetakan sembilan penyakit utama, disinformasi dan hoaks, propaganda dan indoktrinasi, polarisasi ekstrem, politik identitas, politik adu domba, politik ketakutan, politik kebencian, sensor dan pembungkaman oposisi, serta kriminalisasi aktivis dan jurnalis. Sembilan penyakit itu tidak berdiri sendiri; mereka saling menguatkan, membentuk lingkaran yang membuat ruang publik semakin sempit.

Dalam menulis, saya banyak berutang pada para pemikir yang telah lebih dulu menyalakan lentera di lorong gelap ini: John Stuart Mill, Hannah Arendt, Jacques Ellul, George Orwell, Edward Herman dan Noam Chomsky, serta Kathleen Hall Jamieson. Kutipan langsung dari sumber primer sengaja dipertahankan agar pembaca dapat menelusuri sendiri gagasan-gagasan itu. Saya juga berusaha menghadirkan contoh-contoh dari Indonesia dan dunia, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menunjukkan bahwa penyakit ini punya wajah yang sangat nyata dan bisa menimpa siapa saja.

Esai ini tidak menawarkan harapan yang murah. Ia tidak menjanjikan bahwa ruang publik akan sembuh dalam semalam. Tetapi ia juga menolak menyerah pada sinisme. Di antara keduanya, ada ruang untuk bekerja: memeriksa fakta, melindungi jurnalis, mendidik warga, dan menuntut platform digital untuk lebih bertanggung jawab. Semoga esai ini menjadi salah satu peta kecil untuk pekerjaan itu.


Konten

Ruang Publik Bukan Medan Perang: Melawan Hoaks, Polarisasi, dan Sensor di Indonesia