Runtuhnya Sistem Kepartaian Eropa dan Indonesia


Deskripsi

Pernahkah Anda menonton pertandingan sepak bola di mana para pemainnya terus bertukar kostum, aturan mainnya berubah-ubah setiap beberapa menit, dan skor akhirnya tidak lagi bisa diprediksi? Seperti itulah kira-kira situasi sistem kepartaian di banyak negara demokrasi saat ini. Dunia politik diramaikan bukan oleh pertarungan ideologis yang konsisten, tetapi oleh manuver-manuver elite yang cair, koalisi yang fluktuatif, dan pemilih yang semakin sulit ditebak.

Fenomena inilah yang oleh para ilmuwan politik kontemporer disebut sebagai menurunnya "systemness", derajat di mana interaksi antar partai politik membentuk sebuah "sistem" yang terpola, stabil, dan dapat diprediksi. Studi terbaru yang dilakukan oleh Alessandro Chiaramonte, Vincenzo Emanuele, dan Marco Improta (2025) bahkan menyimpulkan bahwa banyak sistem kepartaian di Eropa Barat sejak tahun 1989 telah berubah menjadi apa yang mereka sebut sebagai "non-system". Di dalam "non-system", pola interaksi antar partai begitu cair, fluktuatif, dan tidak stabil sehingga istilah "sistem" itu sendiri seakan kehilangan maknanya (Chiaramonte et al., 2025, hlm. 3-4).

Esai ini hadir untuk membedah fenomena tersebut secara mendalam. Ibarat seorang detektif, kita akan menelusuri jejak-jejak keruntuhan "systemness" ini. Perjalanan kita akan dimulai dari ruang kuliah teori, menuju ke laboratorium data empiris, dan berakhir di panggung politik nyata. Kita akan membongkar mesin-mesin penggerak perubahan, mulai dari aturan main (sistem pemilu), struktur sosial (pembelahan historis dan kontemporer), hingga pola kompetisi ideologis, dan melihat bagaimana semuanya berinteraksi menciptakan sebuah lanskap politik yang sama sekali baru.

Pendahuluan

Selama lebih dari setengah abad, ilmuwan politik bertumpu pada asumsi bahwa sistem kepartaian di negara demokrasi maju bersifat stabil. Tesis "pembekuan" (freezing hypothesis) dari Lipset dan Rokkan (1967) yang terkenal menyatakan bahwa sistem kepartaian di Eropa Barat pada tahun 1960-an mencerminkan struktur pembelahan sosial (cleavages) yang terbentuk sejak Revolusi Nasional dan Revolusi Industri, dan cenderung "membeku" atau tidak banyak berubah (Lipset & Rokkan, 1967, hlm. 50). Entah itu pertarungan antara kelas pekerja versus pemilik modal, atau konflik antara pusat versus daerah, semuanya terwadahi secara apik dalam partai-partai politik yang jelas.

Namun, lanskap itu kini telah berubah secara radikal. Peter Mair (1997), salah satu ilmuwan politik paling berpengaruh dalam studi ini, telah lama memperingatkan tentang perubahan fundamental yang dialami partai politik dan sistemnya. Ia mengamati bahwa partai-partai di Eropa Barat semakin menjauh dari basis sosial tradisionalnya, menjadi lebih bergantung pada sumber daya negara, dan membentuk semacam "kartel" dengan para pesaingnya (Mair, 1997, hlm. 152-153). Hubungan antara partai dan pemilih, yang dulu kokoh dan terberi, kini menjadi semakin transaksional dan rapuh.


Konten

Runtuhnya Sistem Kepartaian Eropa dan Indonesia

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Runtuhnya Sistem Kepartaian Eropa dan Indonesia


Deskripsi

Pernahkah Anda menonton pertandingan sepak bola di mana para pemainnya terus bertukar kostum, aturan mainnya berubah-ubah setiap beberapa menit, dan skor akhirnya tidak lagi bisa diprediksi? Seperti itulah kira-kira situasi sistem kepartaian di banyak negara demokrasi saat ini. Dunia politik diramaikan bukan oleh pertarungan ideologis yang konsisten, tetapi oleh manuver-manuver elite yang cair, koalisi yang fluktuatif, dan pemilih yang semakin sulit ditebak.

Fenomena inilah yang oleh para ilmuwan politik kontemporer disebut sebagai menurunnya "systemness", derajat di mana interaksi antar partai politik membentuk sebuah "sistem" yang terpola, stabil, dan dapat diprediksi. Studi terbaru yang dilakukan oleh Alessandro Chiaramonte, Vincenzo Emanuele, dan Marco Improta (2025) bahkan menyimpulkan bahwa banyak sistem kepartaian di Eropa Barat sejak tahun 1989 telah berubah menjadi apa yang mereka sebut sebagai "non-system". Di dalam "non-system", pola interaksi antar partai begitu cair, fluktuatif, dan tidak stabil sehingga istilah "sistem" itu sendiri seakan kehilangan maknanya (Chiaramonte et al., 2025, hlm. 3-4).

Esai ini hadir untuk membedah fenomena tersebut secara mendalam. Ibarat seorang detektif, kita akan menelusuri jejak-jejak keruntuhan "systemness" ini. Perjalanan kita akan dimulai dari ruang kuliah teori, menuju ke laboratorium data empiris, dan berakhir di panggung politik nyata. Kita akan membongkar mesin-mesin penggerak perubahan, mulai dari aturan main (sistem pemilu), struktur sosial (pembelahan historis dan kontemporer), hingga pola kompetisi ideologis, dan melihat bagaimana semuanya berinteraksi menciptakan sebuah lanskap politik yang sama sekali baru.

Pendahuluan

Selama lebih dari setengah abad, ilmuwan politik bertumpu pada asumsi bahwa sistem kepartaian di negara demokrasi maju bersifat stabil. Tesis "pembekuan" (freezing hypothesis) dari Lipset dan Rokkan (1967) yang terkenal menyatakan bahwa sistem kepartaian di Eropa Barat pada tahun 1960-an mencerminkan struktur pembelahan sosial (cleavages) yang terbentuk sejak Revolusi Nasional dan Revolusi Industri, dan cenderung "membeku" atau tidak banyak berubah (Lipset & Rokkan, 1967, hlm. 50). Entah itu pertarungan antara kelas pekerja versus pemilik modal, atau konflik antara pusat versus daerah, semuanya terwadahi secara apik dalam partai-partai politik yang jelas.

Namun, lanskap itu kini telah berubah secara radikal. Peter Mair (1997), salah satu ilmuwan politik paling berpengaruh dalam studi ini, telah lama memperingatkan tentang perubahan fundamental yang dialami partai politik dan sistemnya. Ia mengamati bahwa partai-partai di Eropa Barat semakin menjauh dari basis sosial tradisionalnya, menjadi lebih bergantung pada sumber daya negara, dan membentuk semacam "kartel" dengan para pesaingnya (Mair, 1997, hlm. 152-153). Hubungan antara partai dan pemilih, yang dulu kokoh dan terberi, kini menjadi semakin transaksional dan rapuh.


Konten

Runtuhnya Sistem Kepartaian Eropa dan Indonesia