Russell J. Dalton dan Teori Kelangsungan Hidup Partai Politik di Era Volatilitas


Deskripsi

Bayangkan sebuah panggung teater di mana para aktor terus berganti kostum, naskah berubah setiap babak, dan penonton bebas keluar-masuk kapan saja. Inilah gambaran yang paling mendekati potret sistem kepartaian di sebagian besar negara demokrasi kontemporer. 

Partai-partai yang dulu menjadi pilar kokoh identitas politik, yang bisa diandalkan pemilih dari generasi ke generasi, dari orang tua ke anak, dari sesepuh desa ke seluruh anggota komunitas, kini lebih menyerupai tenda sirkus yang bisa dibongkar kapan saja. Loyalitas pemilih melemah, suara berpindah dari satu pemilu ke pemilu berikutnya dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan partai-partai baru bermunculan menantang kemapanan dengan pesan-pesan yang mengguncang.

Di tengah pusaran perubahan inilah seorang sarjana bernama Russell J. Dalton, Research Professor of Political Science di University of California, Irvine, dan salah satu ilmuwan politik paling berpengaruh dalam studi politik elektoral komparatif, menawarkan peta untuk memahami, mendiagnosis, dan membaca arah angin perubahan tersebut.

Dalton bukanlah sekadar pengamat. Selama lebih dari empat dekade, ia telah menjadi arsitek utama pemahaman kita tentang bagaimana warga negara di demokrasi industri maju berubah dalam cara mereka berpikir tentang politik, berpartisipasi dalam proses demokrasi, dan, yang paling krusial untuk tulisan ini, terhubung dengan partai politik. Melalui karya-karya monumentalnya, dari Citizen Politics yang kini mencapai edisi ketujuh hingga Political Realignment (2018) yang memetakan pergeseran lanskap elektoral kontemporer, Dalton telah memberikan kepada kita kosakata dan kerangka analitis untuk mendeskripsikan dunia yang tampaknya kacau: Dealignment, cognitive mobilization, apartisanship, realignment, dan political linkage.

Pertanyaan sentral yang diajukan oleh perspektif Dalton, dan yang akan menjadi benang merah tulisan ini, adalah: Bagaimana partai arus utama bertahan atau gagal di tengah perubahan lanskap politik yang bergejolak? Ketika pemilih tidak lagi memiliki identifikasi partisan yang mendalam, ketika partai-partai baru terus bermunculan, dan ketika volatilitas elektoral menjadi norma baru, strategi apa yang memungkinkan sebuah partai untuk tetap relevan, dan strategi apa yang menghukumnya dengan kemunduran atau bahkan kematian politik?

Dari Michigan hingga Dealignment

Dalton mengawali eksplorasi intelektualnya dari sebuah paradoks yang menggelisahkan: Partai politik tetap menjadi institusi sentral demokrasi, namun publik semakin menjauh dari mereka. Dalam bab pembuka Parties Without Partisans (2000), Dalton dan Wattenberg menyatakan bahwa "jika demokrasi tanpa partai politik tidak terpikirkan, apa yang akan terjadi jika peran partai politik dalam proses demokrasi dilemahkan?" (Dalton & Wattenberg, 2000, hlm. 3).


Konten

Russell J. Dalton dan Teori Kelangsungan Hidup Partai Politik di Era Volatilitas

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Russell J. Dalton dan Teori Kelangsungan Hidup Partai Politik di Era Volatilitas


Deskripsi

Bayangkan sebuah panggung teater di mana para aktor terus berganti kostum, naskah berubah setiap babak, dan penonton bebas keluar-masuk kapan saja. Inilah gambaran yang paling mendekati potret sistem kepartaian di sebagian besar negara demokrasi kontemporer. 

Partai-partai yang dulu menjadi pilar kokoh identitas politik, yang bisa diandalkan pemilih dari generasi ke generasi, dari orang tua ke anak, dari sesepuh desa ke seluruh anggota komunitas, kini lebih menyerupai tenda sirkus yang bisa dibongkar kapan saja. Loyalitas pemilih melemah, suara berpindah dari satu pemilu ke pemilu berikutnya dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan partai-partai baru bermunculan menantang kemapanan dengan pesan-pesan yang mengguncang.

Di tengah pusaran perubahan inilah seorang sarjana bernama Russell J. Dalton, Research Professor of Political Science di University of California, Irvine, dan salah satu ilmuwan politik paling berpengaruh dalam studi politik elektoral komparatif, menawarkan peta untuk memahami, mendiagnosis, dan membaca arah angin perubahan tersebut.

Dalton bukanlah sekadar pengamat. Selama lebih dari empat dekade, ia telah menjadi arsitek utama pemahaman kita tentang bagaimana warga negara di demokrasi industri maju berubah dalam cara mereka berpikir tentang politik, berpartisipasi dalam proses demokrasi, dan, yang paling krusial untuk tulisan ini, terhubung dengan partai politik. Melalui karya-karya monumentalnya, dari Citizen Politics yang kini mencapai edisi ketujuh hingga Political Realignment (2018) yang memetakan pergeseran lanskap elektoral kontemporer, Dalton telah memberikan kepada kita kosakata dan kerangka analitis untuk mendeskripsikan dunia yang tampaknya kacau: Dealignment, cognitive mobilization, apartisanship, realignment, dan political linkage.

Pertanyaan sentral yang diajukan oleh perspektif Dalton, dan yang akan menjadi benang merah tulisan ini, adalah: Bagaimana partai arus utama bertahan atau gagal di tengah perubahan lanskap politik yang bergejolak? Ketika pemilih tidak lagi memiliki identifikasi partisan yang mendalam, ketika partai-partai baru terus bermunculan, dan ketika volatilitas elektoral menjadi norma baru, strategi apa yang memungkinkan sebuah partai untuk tetap relevan, dan strategi apa yang menghukumnya dengan kemunduran atau bahkan kematian politik?

Dari Michigan hingga Dealignment

Dalton mengawali eksplorasi intelektualnya dari sebuah paradoks yang menggelisahkan: Partai politik tetap menjadi institusi sentral demokrasi, namun publik semakin menjauh dari mereka. Dalam bab pembuka Parties Without Partisans (2000), Dalton dan Wattenberg menyatakan bahwa "jika demokrasi tanpa partai politik tidak terpikirkan, apa yang akan terjadi jika peran partai politik dalam proses demokrasi dilemahkan?" (Dalton & Wattenberg, 2000, hlm. 3).


Konten

Russell J. Dalton dan Teori Kelangsungan Hidup Partai Politik di Era Volatilitas