Bayangkan Anda sedang membaca peta politik dunia. Anda melihat Amerika Serikat dengan dua partainya, Indonesia dengan belasan partainya, China dengan satu partainya, dan India dengan puluhan partainya. Pertanyaan yang mengusik setiap pengamat politik adalah: bagaimana kita bisa membandingkan dan mengelompokkan sistem-sistem yang tampak begitu berbeda ini? Apakah cukup dengan menghitung jumlah partai?
Hingga awal 1970-an, jawaban terhadap pertanyaan ini masih sangat sederhana, bahkan bisa dibilang naif. Para ilmuwan politik pada umumnya mengelompokkan sistem kepartaian berdasarkan satu kriteria utama: jumlah partai. Ada sistem satu partai, dua partai, dan multipartai. Klasifikasi ini, yang dipopulerkan oleh Maurice Duverger (1954) dan disempurnakan oleh Jean Blondel (1968), memang mudah dipahami, tetapi meninggalkan banyak lubang menganga. Apakah semua sistem multipartai bekerja dengan cara yang sama? Apakah sistem dua partai di Amerika Serikat identik dengan sistem dua partai di Inggris era klasik? Apakah partai-partai kecil yang tidak pernah memenangkan kursi tetap harus dihitung?
Giovanni Sartori, seorang ilmuwan politik Italia yang brilian dan tajam, melihat kelemahan fatal dalam klasifikasi berbasis jumlah semata. Pada tahun 1976, ia menerbitkan sebuah buku yang akan mengubah wajah ilmu politik perbandingan selamanya: Parties and Party Systems: A Framework for Analysis. Dalam buku setebal 370 halaman itu, Sartori tidak hanya menawarkan tipologi baru, tetapi juga sebuah kerangka berpikir (framework) yang sama sekali berbeda dalam memandang sistem kepartaian. Karyanya dianggap sebagai "inovasi paling masyhur dalam sejarah ilmu politik" (Lee & Casal Bértoa, 2025, hlm. 1) dan "sampai hari ini masih merupakan kerangka paling efektif dan menyeluruh untuk mempertentangkan properti-properti dari sistem kepartaian yang berbeda" (Mair, 1990, sebagaimana dikutip dalam Lee & Casal Bértoa, 2025, hlm. 2).
"Tipologi Sartori melampaui klasifikasi-klasifikasi sebelumnya dalam beberapa hal. Sartori tidak hanya mempertimbangkan jumlah partai, tetapi juga memperhitungkan ukuran relatif, kekuatan koalisi, dan, yang paling penting, jarak ideologis di antara mereka." (Chiaramonte et al., 2025, hlm. 3)
Esai ini akan membawa Anda menyelami pemikiran Sartori secara mendalam. Lalu kita bahas bersama kritik Sartori terhadap klasifikasi sebelumnya dan aturan penghitungan partai yang relevan. Selanjutkan mari kita kupas tipologinya secara menyeluruh, dari sistem non-kompetitif hingga sistem kompetitif. Esai ini kemudian dilanjutkan guna mengevaluasi relevansi tipologi ini dalam lanskap politik kontemporer yang semakin fluktuatif. Sebagai bahan refleksi kita akan secara khusus menguji tipologi Sartori pada konteks Indonesia. Terakhir, penulis akan memberikan sintesis dan refleksi kritis.
Giovanni Sartori dan Revolusi Klasifikasi Partai
Giovanni Sartori (1924–2017) adalah pemikir besar yang tidak bisa dilepaskan dari ilmu politik modern. Lahir di Florence, Italia, ia mengajar di berbagai universitas ternama, termasuk Universitas Florence dan Columbia University di New York. Sartori dikenal sebagai pemikir yang tajam, lugas, dan seringkali polemis. Ia tidak segan-segan mengkritik teori-teori mapan yang menurutnya kurang memiliki kekuatan analitis. Karya-karyanya yang paling berpengaruh mencakup Democratic Theory (1962), Parties and Party Systems (1976), dan Comparative Constitutional Engineering (1994). Namun, jika harus memilih satu magnum opus yang paling sering dikutip dalam studi perbandingan politik, jawabannya adalah Parties and Party Systems (Sartori, 1976).
Bayangkan Anda sedang membaca peta politik dunia. Anda melihat Amerika Serikat dengan dua partainya, Indonesia dengan belasan partainya, China dengan satu partainya, dan India dengan puluhan partainya. Pertanyaan yang mengusik setiap pengamat politik adalah: bagaimana kita bisa membandingkan dan mengelompokkan sistem-sistem yang tampak begitu berbeda ini? Apakah cukup dengan menghitung jumlah partai?
Hingga awal 1970-an, jawaban terhadap pertanyaan ini masih sangat sederhana, bahkan bisa dibilang naif. Para ilmuwan politik pada umumnya mengelompokkan sistem kepartaian berdasarkan satu kriteria utama: jumlah partai. Ada sistem satu partai, dua partai, dan multipartai. Klasifikasi ini, yang dipopulerkan oleh Maurice Duverger (1954) dan disempurnakan oleh Jean Blondel (1968), memang mudah dipahami, tetapi meninggalkan banyak lubang menganga. Apakah semua sistem multipartai bekerja dengan cara yang sama? Apakah sistem dua partai di Amerika Serikat identik dengan sistem dua partai di Inggris era klasik? Apakah partai-partai kecil yang tidak pernah memenangkan kursi tetap harus dihitung?
Giovanni Sartori, seorang ilmuwan politik Italia yang brilian dan tajam, melihat kelemahan fatal dalam klasifikasi berbasis jumlah semata. Pada tahun 1976, ia menerbitkan sebuah buku yang akan mengubah wajah ilmu politik perbandingan selamanya: Parties and Party Systems: A Framework for Analysis. Dalam buku setebal 370 halaman itu, Sartori tidak hanya menawarkan tipologi baru, tetapi juga sebuah kerangka berpikir (framework) yang sama sekali berbeda dalam memandang sistem kepartaian. Karyanya dianggap sebagai "inovasi paling masyhur dalam sejarah ilmu politik" (Lee & Casal Bértoa, 2025, hlm. 1) dan "sampai hari ini masih merupakan kerangka paling efektif dan menyeluruh untuk mempertentangkan properti-properti dari sistem kepartaian yang berbeda" (Mair, 1990, sebagaimana dikutip dalam Lee & Casal Bértoa, 2025, hlm. 2).
"Tipologi Sartori melampaui klasifikasi-klasifikasi sebelumnya dalam beberapa hal. Sartori tidak hanya mempertimbangkan jumlah partai, tetapi juga memperhitungkan ukuran relatif, kekuatan koalisi, dan, yang paling penting, jarak ideologis di antara mereka." (Chiaramonte et al., 2025, hlm. 3)
Esai ini akan membawa Anda menyelami pemikiran Sartori secara mendalam. Lalu kita bahas bersama kritik Sartori terhadap klasifikasi sebelumnya dan aturan penghitungan partai yang relevan. Selanjutkan mari kita kupas tipologinya secara menyeluruh, dari sistem non-kompetitif hingga sistem kompetitif. Esai ini kemudian dilanjutkan guna mengevaluasi relevansi tipologi ini dalam lanskap politik kontemporer yang semakin fluktuatif. Sebagai bahan refleksi kita akan secara khusus menguji tipologi Sartori pada konteks Indonesia. Terakhir, penulis akan memberikan sintesis dan refleksi kritis.
Giovanni Sartori dan Revolusi Klasifikasi Partai
Giovanni Sartori (1924–2017) adalah pemikir besar yang tidak bisa dilepaskan dari ilmu politik modern. Lahir di Florence, Italia, ia mengajar di berbagai universitas ternama, termasuk Universitas Florence dan Columbia University di New York. Sartori dikenal sebagai pemikir yang tajam, lugas, dan seringkali polemis. Ia tidak segan-segan mengkritik teori-teori mapan yang menurutnya kurang memiliki kekuatan analitis. Karya-karyanya yang paling berpengaruh mencakup Democratic Theory (1962), Parties and Party Systems (1976), dan Comparative Constitutional Engineering (1994). Namun, jika harus memilih satu magnum opus yang paling sering dikutip dalam studi perbandingan politik, jawabannya adalah Parties and Party Systems (Sartori, 1976).