Segala puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan rahmat dan hidayah-Nya, diktat mata kuliah Sosiologi Politik ini akhirnya dapat diselesaikan dan sampai di tangan para pembaca, khususnya mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini.
Diktat ini lahir dari sebuah kegelisahan intelektual yang telah lama saya rasakan. Selama bertahun-tahun mengampu mata kuliah ini, saya menyaksikan bagaimana sebagian besar mahasiswa datang ke ruang kuliah dengan pemahaman bahwa "politik" adalah sesuatu yang terjadi di gedung parlemen, di istana presiden, atau di bilik suara tempat pemilu. Politik, dalam bayangan mereka, adalah urusan para elite, para politisi, dan para pejabat negara. Politik adalah sesuatu yang "jauh" dari kehidupan sehari-hari mereka, sesuatu yang mereka tonton di berita malam, tetapi bukan sesuatu yang mereka jalani setiap hari. Pandangan seperti ini, meskipun tidak sepenuhnya salah, sangatlah miskin dan mereduksi makna politik yang sesungguhnya jauh lebih luas, lebih dalam, dan lebih personal.
Di sinilah diktat ini menemukan raison d'être-nya. Diktat ini disusun dengan satu keyakinan fundamental: bahwa politik bukan hanya tentang negara, partai, dan pemilu, melainkan tentang setiap relasi kuasa yang membentuk kehidupan kita sehari-hari, mulai dari cara kita berbicara, cara kita mencintai, cara kita beribadah, hingga cara kita mati. Politik, dalam pengertian yang paling elementer, adalah tentang siapa yang mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana, sebuah definisi klasik dari Harold Lasswell yang masih sangat relevan hingga hari ini. Namun, diktat ini mengajak kita untuk melangkah lebih jauh: untuk melihat bahwa "siapa mendapatkan apa" tidak hanya ditentukan oleh undang-undang atau kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh norma-norma sosial yang kita anggap wajar, oleh bahasa yang kita gunakan, oleh iklan yang kita tonton, dan oleh algoritma yang memfilter informasi yang sampai ke layar ponsel kita.
Pendekatan yang ditawarkan dalam diktat ini adalah pendekatan sosiologi politik, sebuah jembatan intelektual yang menghubungkan Ilmu Politik dengan Sosiologi. Jika Ilmu Politik tradisional cenderung berfokus pada institusi-institusi formal seperti negara, partai, dan konstitusi, maka Sosiologi Politik memperluas cakrawala analisisnya ke ranah yang lebih luas: ke masyarakat, ke budaya, ke identitas, dan ke relasi-relasi kuasa yang bekerja secara halus dan seringkali tidak kita sadari. Sosiologi Politik, dalam pengertian ini, adalah "kacamata" yang memungkinkan kita melihat bahwa tindakan-tindakan yang tampak paling pribadi dan paling sepele sekalipun, seperti pilihan kita untuk membeli produk ramah lingkungan, gaya hidup vegan, atau cara kita mendidik anak, adalah tindakan politik yang sarat dengan implikasi kuasa.
Keyakinan inilah yang mendasari struktur diktat ini. Diktat ini dibagi ke dalam lima bagian besar yang masing-masing menyoroti dimensi-dimensi kunci dari Sosiologi Politik kontemporer.
Bagian I: Fondasi dan Kerangka Analitis (Pertemuan 1-3) dirancang untuk membangun "kacamata" sosiologis yang akan kita gunakan sepanjang perkuliahan. Di sini, kita akan mendefinisikan ulang apa itu politik, melampaui definisi sempit yang hanya mengidentikkan politik dengan negara dan pemilu. Kita akan menjelajahi pemikiran tiga serangkai klasik, Karl Marx, Max Weber, dan Émile Durkheim, bukan sebagai artefak sejarah yang berdebu, melainkan sebagai kerangka analitis yang masih sangat hidup dan relevan untuk membaca fenomena kontemporer seperti ekonomi gig, reformasi birokrasi, dan polarisasi politik. Kita juga akan menyelami konsep-konsep kunci tentang kekuasaan, hegemoni, dan dominasi, dengan belajar dari pemikir-pemikir seperti Steven Lukes, Michel Foucault, dan Antonio Gramsci, untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja tidak hanya melalui paksaan fisik, tetapi juga melalui produksi wacana, pembentukan "kewajaran," dan penguasaan atas akal sehat (common sense) kita.
Bagian II: Struktur dan Lanskap Politik Klasik (Pertemuan 4-6) mengajak kita untuk menengok institusi-institusi politik yang lebih "tradisional", negara, masyarakat sipil, gerakan sosial, partai politik, dan pemilu, tetapi membacanya dengan perspektif yang segar dan kritis. Kita tidak akan mempelajari negara sebagai entitas yang netral dan baik hati, melainkan sebagai institusi yang lahir dari sejarah kekerasan dan yang memonopoli penggunaan kekerasan yang sah, sebagaimana diajarkan oleh Max Weber dan Charles Tilly. Kita akan mendiskusikan bagaimana masyarakat sipil dan gerakan sosial, dari demo jalanan hingga petisi online, menjadi energi politik dari bawah yang menyeimbangkan dominasi negara dan pasar. Dan kita akan membedah bagaimana partai politik dan pemilu bertransformasi di era "post-truth," di mana data besar (big data) dan micro-targeting mengubah cara kita berkampanye dan cara kita dipengaruhi.
Bagian III: Kebudayaan, Identitas, dan Media (Pertemuan 7-9) adalah jantung dari diktat ini. Di sinilah kita benar-benar masuk ke dalam "dapur" masyarakat: bagaimana cara kita berpikir, merasa, dan berinteraksi. Kita akan melacak bagaimana identitas kolektif, agama, etnis, nasionalisme, dibentuk dan dirawat. Konsep "imagined communities" dari Benedict Anderson akan membantu kita memahami mengapa kita merasa terikat dengan jutaan orang yang tidak pernah kita temui. Kita akan menyelami bagaimana ruang publik, arena di mana opini publik seharusnya dibentuk melalui diskusi rasional, mengalami kemunduran akibat algoritma, echo chamber, dan filter bubble, dan bagaimana influencer serta buzzer mengisi kekosongan yang ditinggalkan. Kita juga akan bergulat dengan pertanyaan yang semakin mendesak: bagaimana agama kembali ke ruang publik di era yang konon sudah "sekuler," dan bagaimana negara demokratis bisa merespons warga yang religius tanpa kehilangan netralitasnya?
Bagian IV: Isu-Isu Kontemporer Mutakhir (Pertemuan 10-12) adalah bagian yang mungkin paling eksperimental dan paling menantang. Di sini, kita akan menerapkan seluruh konsep yang telah kita pelajari untuk membaca fenomena-fenomena yang sangat baru dan seringkali mengganggu kenyamanan intelektual kita. Kita akan memasuki ranah biopolitik, bagaimana kehidupan biologis kita, dari lahir sampai mati, dari sakit sampai sehat, dari gender sampai orientasi seksual, menjadi arena pertarungan politik. Kita akan membahas politik vaksinasi, kebijakan publik atas tubuh (aborsi, sunat, jilbab), dan revolusi bioteknologi yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan etis dan politis yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Kita akan menyelami ekologi politik, melihat bagaimana krisis iklim dan perusakan lingkungan bukan semata-mata masalah teknis atau ilmiah, melainkan masalah kuasa, ketidakadilan, dan konflik kepentingan. Dan kita akan merenungkan hidup di bawah bayang-bayang algoritma, di mana kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism) mengubah data pribadi kita menjadi komoditas dan di mana otonomi individu, privasi, serta deliberasi demokratis menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bagian V: Penutup dan Konteks Indonesia (Pertemuan 13-14) adalah upaya untuk merajut benang merah dan membumikan seluruh perjalanan intelektual kita ke dalam konteks Indonesia. Di sini, kita akan menggunakan semua alat analisis yang telah kita miliki untuk membaca dinamika politik Indonesia kontemporer: oligarki pasca-Reformasi, politik kekerabatan, fenomena hoaks dan polarisasi, bangkitnya politik identitas dan agama di ruang digital. Kita akan mengakhiri perjalanan ini dengan sebuah pertanyaan spekulatif namun mendesak: bagaimana masa depan politik di era pasca-manusia? Akankah kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi warga negara? Bagaimana kita bisa menjadi warga negara yang kritis dan efektif di era yang serba tidak pasti ini?
Diktat ini tidak dirancang sebagai kitab suci yang berisi kebenaran-kebenaran final. Sebaliknya, diktat ini adalah undangan, undangan untuk berpikir, untuk bertanya, untuk meragukan, dan untuk berdebat. Saya mendorong para mahasiswa untuk tidak menerima begitu saja apa yang tertulis di halaman-halaman ini, melainkan untuk mengkritisinya, mengujinya dengan realitas di sekitar, dan mengembangkannya lebih lanjut. Tugas saya sebagai pengajar bukanlah untuk memberikan jawaban, melainkan untuk membantu Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, pertanyaan-pertanyaan yang akan membawa Anda pada pemahaman yang lebih dalam tentang dunia yang kita huni dan tentang peran yang dapat Anda mainkan di dalamnya.
Akhir kata, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan diktat ini. Kepada para mahasiswa yang pertanyaan-pertanyaan kritisnya di kelas menjadi bahan bakar intelektual bagi penulisan diktat ini. Kepada para kolega yang telah berdiskusi dan memberikan masukan berharga. Dan kepada keluarga yang selalu mendukung dengan penuh kesabaran. Semoga diktat ini dapat menjadi teman perjalanan intelektual yang bermanfaat bagi siapa pun yang ingin memahami politik dengan cara yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih manusiawi.
Selamat membaca, selamat berpikir, dan selamat berjuang untuk dunia yang lebih adil.
PRAKATA iii
1 Memperkenalkan "Kacamata" Sosiologi Politik 1
2 Sebuah Jembatan Antardisiplin 2
3 "The Personal is Political" 3
4 Dari Foucault hingga Negara 5
5 Pilihan Pribadi sebagai Tindakan Politik 9
6 Kesimpulan 13
Daftar Pustaka 14
1 Mengapa Kita Masih Membutuhkan Mereka? 16
2 Karl Marx 17
3 Max Weber 21
4 Émile Durkheim 25
5 Tiga Lensa untuk Satu Realitas 30
6 Kesimpulan 31
Daftar Pustaka 32
1 Mengapa Kekuasaan Seringkali Tak Terlihat? 35
2 Tiga Wajah Kekuasaan 36
3 Antonio Gramsci 39
4 Hegemoni dalam Praktik 42
4.2. Standar Sukses dan Ideologi Neoliberal 44
5 Perlawanan terhadap Hegemoni 47
6 Membuka Topeng Kekuasaan yang Tersembunyi 48
Daftar Pustaka 48
1 Negara Bukan Entitas Netral 50
2 Weberian tentang Negara dan Monopoli Kekerasan 51
3 "War Made the State" 53
4 Ketika Monopoli Runtuh 56
5 Studi Kasus dan Implementasi 58
6 Pelajaran Komparatif 62
7 Menimbang Kembali Hubungan Kita dengan Negara 63
Daftar Pustaka 64
1 Energi Politik dari Bawah 66
2 Medan Pertarungan antara Negara, Pasar, dan Warga 67
3 Dari Kerumunan ke Kolektif Terorganisasi 69
4 Masyarakat Jaringan dalam Aksi 72
4 Politik Perlawanan di Indonesia 77
6 Masa Depan Politik Perlawanan 78
Daftar Pustaka 79
1 Ironi Demokrasi di Era Informasi 82
2 Iron Law of Oligarchy Robert Michels 83
3 Kartelisasi Partai Politik 85
4 Personalisasi Politik dan Politik Identitas 87
5 Revolusi dalam Manipulasi Politik 88
6 Studi Kasus dan Implementasi 91
7 Masa Depan Partai Politik dan Pemilu di Era Post-Truth 93
Daftar Pustaka 95
1 Dari Mana Asal “Perasaan Kita”? 97
2 Revolusi Pemikiran Benedict Anderson 98
3 Perdebatan Primordial vs. Instrumental 102
4 Budaya Populer sebagai Medan Pembentukan Identitas Politik 106
5 Memahami "Kita" di Era Fragmentasi 111
Daftar Pustaka 112
1 Di Mana "Kita" Berbicara Hari Ini? 114
2 Ruang Publik Jürgen Habermas 115
3 Kemunduran Ruang Publik Digital 117
4 Influencer, Buzzer, dan Pembentukan Opini 120
5 Studi Kasus dan Implementasi 123
6 Menuju Rekonstruksi Ruang Publik Digital? 126
7 Masa Depan Ruang Publik di Era Opinionscape 127
Daftar Pustaka 128
1 Kembalinya Tuhan ke Panggung Politik 130
2 Tesis Sekularisasi dan Keruntuhannya 131
3 Kebangkitan Agama Politik dan Fundamentalisme 133
4 Konsep Pasca-Sekuler 136
5 Fundamentalisme dan Radikalisme di Era Digital 139
6 Antara Sekularisme dan Teokrasi 140
7 Hidup Bersama di Bawah Atap yang Bocor 142
Daftar Pustaka 144
1 Ketika Kehidupan Biologis Menjadi Arena Politik 146
2 Biopolitik Michel Foucault 147
3 Politik Vaksinasi 149
4 Tubuh sebagai Medan Pertarungan 151
5 Bioteknologi dan "Masa Depan" Biopolitik 153
6 Kehidupan sebagai Proyek Politik 155
Daftar Pustaka 156
1 Memahami Krisis Iklim sebagai Krisis Kuasa 158
2 Antroposen dan Kritiknya 159
3 Membaca Kuasa di Balik Krisis 160
4 Keadilan Iklim 162
5 Politik Hijau dan Kebangkitan Eko-Nasionalisme 165
6 Indonesia dan Global 167
7 Dari Krisis ke Keadilan 168
Daftar Pustaka 169
1 Hidup di Bawah Bayang-Bayang Algoritma 172
2: Dari Panopticon ke Ban-Opticon 173
3 Analisis Shoshana Zuboff 177
4 Studi Kasus dan Implementasi: Indonesia dan Global 180
5 Kedaulatan Data dan Masa Depan Demokrasi Digital 183
6 Dari Pengawasan ke Kedaulatan 185
Daftar Pustaka 187
Pertemuan 13 - Dinamika Sosiologi Politik Indonesia Kontemporer
1 Membaca Indonesia dengan Kacamata yang Telah Kita Rakit 189
2 Dari Sultan ke Pasar 190
3 Politik Kekerabatan 193
4 Ekosistem Post-Truth di Indonesia 195
5 Politik Identitas dan Agama di Ruang Digital 197
6 Mahasiswa dan Diaspora 199
7 Antara Pesimisme dan Harapan 202
Daftar Pustaka 203
1 Sampai di Penghujung, Menatap ke Depan 205
2 Benang Merah Sosiologi Politik 206
3 Akankah AI Menjadi Warga Negara? 208
4 Politik di Era Trans-Humanisme? 211
5 Menjadi Warga Negara yang Kritis dan Efektif di Era Ketidakpastian 214
6 Tugas Analisis Mandiri 216
Daftar Pustaka 217
Segala puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan rahmat dan hidayah-Nya, diktat mata kuliah Sosiologi Politik ini akhirnya dapat diselesaikan dan sampai di tangan para pembaca, khususnya mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini.
Diktat ini lahir dari sebuah kegelisahan intelektual yang telah lama saya rasakan. Selama bertahun-tahun mengampu mata kuliah ini, saya menyaksikan bagaimana sebagian besar mahasiswa datang ke ruang kuliah dengan pemahaman bahwa "politik" adalah sesuatu yang terjadi di gedung parlemen, di istana presiden, atau di bilik suara tempat pemilu. Politik, dalam bayangan mereka, adalah urusan para elite, para politisi, dan para pejabat negara. Politik adalah sesuatu yang "jauh" dari kehidupan sehari-hari mereka, sesuatu yang mereka tonton di berita malam, tetapi bukan sesuatu yang mereka jalani setiap hari. Pandangan seperti ini, meskipun tidak sepenuhnya salah, sangatlah miskin dan mereduksi makna politik yang sesungguhnya jauh lebih luas, lebih dalam, dan lebih personal.
Di sinilah diktat ini menemukan raison d'être-nya. Diktat ini disusun dengan satu keyakinan fundamental: bahwa politik bukan hanya tentang negara, partai, dan pemilu, melainkan tentang setiap relasi kuasa yang membentuk kehidupan kita sehari-hari, mulai dari cara kita berbicara, cara kita mencintai, cara kita beribadah, hingga cara kita mati. Politik, dalam pengertian yang paling elementer, adalah tentang siapa yang mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana, sebuah definisi klasik dari Harold Lasswell yang masih sangat relevan hingga hari ini. Namun, diktat ini mengajak kita untuk melangkah lebih jauh: untuk melihat bahwa "siapa mendapatkan apa" tidak hanya ditentukan oleh undang-undang atau kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh norma-norma sosial yang kita anggap wajar, oleh bahasa yang kita gunakan, oleh iklan yang kita tonton, dan oleh algoritma yang memfilter informasi yang sampai ke layar ponsel kita.
Pendekatan yang ditawarkan dalam diktat ini adalah pendekatan sosiologi politik, sebuah jembatan intelektual yang menghubungkan Ilmu Politik dengan Sosiologi. Jika Ilmu Politik tradisional cenderung berfokus pada institusi-institusi formal seperti negara, partai, dan konstitusi, maka Sosiologi Politik memperluas cakrawala analisisnya ke ranah yang lebih luas: ke masyarakat, ke budaya, ke identitas, dan ke relasi-relasi kuasa yang bekerja secara halus dan seringkali tidak kita sadari. Sosiologi Politik, dalam pengertian ini, adalah "kacamata" yang memungkinkan kita melihat bahwa tindakan-tindakan yang tampak paling pribadi dan paling sepele sekalipun, seperti pilihan kita untuk membeli produk ramah lingkungan, gaya hidup vegan, atau cara kita mendidik anak, adalah tindakan politik yang sarat dengan implikasi kuasa.
Keyakinan inilah yang mendasari struktur diktat ini. Diktat ini dibagi ke dalam lima bagian besar yang masing-masing menyoroti dimensi-dimensi kunci dari Sosiologi Politik kontemporer.
Bagian I: Fondasi dan Kerangka Analitis (Pertemuan 1-3) dirancang untuk membangun "kacamata" sosiologis yang akan kita gunakan sepanjang perkuliahan. Di sini, kita akan mendefinisikan ulang apa itu politik, melampaui definisi sempit yang hanya mengidentikkan politik dengan negara dan pemilu. Kita akan menjelajahi pemikiran tiga serangkai klasik, Karl Marx, Max Weber, dan Émile Durkheim, bukan sebagai artefak sejarah yang berdebu, melainkan sebagai kerangka analitis yang masih sangat hidup dan relevan untuk membaca fenomena kontemporer seperti ekonomi gig, reformasi birokrasi, dan polarisasi politik. Kita juga akan menyelami konsep-konsep kunci tentang kekuasaan, hegemoni, dan dominasi, dengan belajar dari pemikir-pemikir seperti Steven Lukes, Michel Foucault, dan Antonio Gramsci, untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja tidak hanya melalui paksaan fisik, tetapi juga melalui produksi wacana, pembentukan "kewajaran," dan penguasaan atas akal sehat (common sense) kita.
Bagian II: Struktur dan Lanskap Politik Klasik (Pertemuan 4-6) mengajak kita untuk menengok institusi-institusi politik yang lebih "tradisional", negara, masyarakat sipil, gerakan sosial, partai politik, dan pemilu, tetapi membacanya dengan perspektif yang segar dan kritis. Kita tidak akan mempelajari negara sebagai entitas yang netral dan baik hati, melainkan sebagai institusi yang lahir dari sejarah kekerasan dan yang memonopoli penggunaan kekerasan yang sah, sebagaimana diajarkan oleh Max Weber dan Charles Tilly. Kita akan mendiskusikan bagaimana masyarakat sipil dan gerakan sosial, dari demo jalanan hingga petisi online, menjadi energi politik dari bawah yang menyeimbangkan dominasi negara dan pasar. Dan kita akan membedah bagaimana partai politik dan pemilu bertransformasi di era "post-truth," di mana data besar (big data) dan micro-targeting mengubah cara kita berkampanye dan cara kita dipengaruhi.
Bagian III: Kebudayaan, Identitas, dan Media (Pertemuan 7-9) adalah jantung dari diktat ini. Di sinilah kita benar-benar masuk ke dalam "dapur" masyarakat: bagaimana cara kita berpikir, merasa, dan berinteraksi. Kita akan melacak bagaimana identitas kolektif, agama, etnis, nasionalisme, dibentuk dan dirawat. Konsep "imagined communities" dari Benedict Anderson akan membantu kita memahami mengapa kita merasa terikat dengan jutaan orang yang tidak pernah kita temui. Kita akan menyelami bagaimana ruang publik, arena di mana opini publik seharusnya dibentuk melalui diskusi rasional, mengalami kemunduran akibat algoritma, echo chamber, dan filter bubble, dan bagaimana influencer serta buzzer mengisi kekosongan yang ditinggalkan. Kita juga akan bergulat dengan pertanyaan yang semakin mendesak: bagaimana agama kembali ke ruang publik di era yang konon sudah "sekuler," dan bagaimana negara demokratis bisa merespons warga yang religius tanpa kehilangan netralitasnya?
Bagian IV: Isu-Isu Kontemporer Mutakhir (Pertemuan 10-12) adalah bagian yang mungkin paling eksperimental dan paling menantang. Di sini, kita akan menerapkan seluruh konsep yang telah kita pelajari untuk membaca fenomena-fenomena yang sangat baru dan seringkali mengganggu kenyamanan intelektual kita. Kita akan memasuki ranah biopolitik, bagaimana kehidupan biologis kita, dari lahir sampai mati, dari sakit sampai sehat, dari gender sampai orientasi seksual, menjadi arena pertarungan politik. Kita akan membahas politik vaksinasi, kebijakan publik atas tubuh (aborsi, sunat, jilbab), dan revolusi bioteknologi yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan etis dan politis yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Kita akan menyelami ekologi politik, melihat bagaimana krisis iklim dan perusakan lingkungan bukan semata-mata masalah teknis atau ilmiah, melainkan masalah kuasa, ketidakadilan, dan konflik kepentingan. Dan kita akan merenungkan hidup di bawah bayang-bayang algoritma, di mana kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism) mengubah data pribadi kita menjadi komoditas dan di mana otonomi individu, privasi, serta deliberasi demokratis menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bagian V: Penutup dan Konteks Indonesia (Pertemuan 13-14) adalah upaya untuk merajut benang merah dan membumikan seluruh perjalanan intelektual kita ke dalam konteks Indonesia. Di sini, kita akan menggunakan semua alat analisis yang telah kita miliki untuk membaca dinamika politik Indonesia kontemporer: oligarki pasca-Reformasi, politik kekerabatan, fenomena hoaks dan polarisasi, bangkitnya politik identitas dan agama di ruang digital. Kita akan mengakhiri perjalanan ini dengan sebuah pertanyaan spekulatif namun mendesak: bagaimana masa depan politik di era pasca-manusia? Akankah kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi warga negara? Bagaimana kita bisa menjadi warga negara yang kritis dan efektif di era yang serba tidak pasti ini?
Diktat ini tidak dirancang sebagai kitab suci yang berisi kebenaran-kebenaran final. Sebaliknya, diktat ini adalah undangan, undangan untuk berpikir, untuk bertanya, untuk meragukan, dan untuk berdebat. Saya mendorong para mahasiswa untuk tidak menerima begitu saja apa yang tertulis di halaman-halaman ini, melainkan untuk mengkritisinya, mengujinya dengan realitas di sekitar, dan mengembangkannya lebih lanjut. Tugas saya sebagai pengajar bukanlah untuk memberikan jawaban, melainkan untuk membantu Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, pertanyaan-pertanyaan yang akan membawa Anda pada pemahaman yang lebih dalam tentang dunia yang kita huni dan tentang peran yang dapat Anda mainkan di dalamnya.
Akhir kata, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan diktat ini. Kepada para mahasiswa yang pertanyaan-pertanyaan kritisnya di kelas menjadi bahan bakar intelektual bagi penulisan diktat ini. Kepada para kolega yang telah berdiskusi dan memberikan masukan berharga. Dan kepada keluarga yang selalu mendukung dengan penuh kesabaran. Semoga diktat ini dapat menjadi teman perjalanan intelektual yang bermanfaat bagi siapa pun yang ingin memahami politik dengan cara yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih manusiawi.
Selamat membaca, selamat berpikir, dan selamat berjuang untuk dunia yang lebih adil.
PRAKATA iii
1 Memperkenalkan "Kacamata" Sosiologi Politik 1
2 Sebuah Jembatan Antardisiplin 2
3 "The Personal is Political" 3
4 Dari Foucault hingga Negara 5
5 Pilihan Pribadi sebagai Tindakan Politik 9
6 Kesimpulan 13
Daftar Pustaka 14
1 Mengapa Kita Masih Membutuhkan Mereka? 16
2 Karl Marx 17
3 Max Weber 21
4 Émile Durkheim 25
5 Tiga Lensa untuk Satu Realitas 30
6 Kesimpulan 31
Daftar Pustaka 32
1 Mengapa Kekuasaan Seringkali Tak Terlihat? 35
2 Tiga Wajah Kekuasaan 36
3 Antonio Gramsci 39
4 Hegemoni dalam Praktik 42
4.2. Standar Sukses dan Ideologi Neoliberal 44
5 Perlawanan terhadap Hegemoni 47
6 Membuka Topeng Kekuasaan yang Tersembunyi 48
Daftar Pustaka 48
1 Negara Bukan Entitas Netral 50
2 Weberian tentang Negara dan Monopoli Kekerasan 51
3 "War Made the State" 53
4 Ketika Monopoli Runtuh 56
5 Studi Kasus dan Implementasi 58
6 Pelajaran Komparatif 62
7 Menimbang Kembali Hubungan Kita dengan Negara 63
Daftar Pustaka 64
1 Energi Politik dari Bawah 66
2 Medan Pertarungan antara Negara, Pasar, dan Warga 67
3 Dari Kerumunan ke Kolektif Terorganisasi 69
4 Masyarakat Jaringan dalam Aksi 72
4 Politik Perlawanan di Indonesia 77
6 Masa Depan Politik Perlawanan 78
Daftar Pustaka 79
1 Ironi Demokrasi di Era Informasi 82
2 Iron Law of Oligarchy Robert Michels 83
3 Kartelisasi Partai Politik 85
4 Personalisasi Politik dan Politik Identitas 87
5 Revolusi dalam Manipulasi Politik 88
6 Studi Kasus dan Implementasi 91
7 Masa Depan Partai Politik dan Pemilu di Era Post-Truth 93
Daftar Pustaka 95
1 Dari Mana Asal “Perasaan Kita”? 97
2 Revolusi Pemikiran Benedict Anderson 98
3 Perdebatan Primordial vs. Instrumental 102
4 Budaya Populer sebagai Medan Pembentukan Identitas Politik 106
5 Memahami "Kita" di Era Fragmentasi 111
Daftar Pustaka 112
1 Di Mana "Kita" Berbicara Hari Ini? 114
2 Ruang Publik Jürgen Habermas 115
3 Kemunduran Ruang Publik Digital 117
4 Influencer, Buzzer, dan Pembentukan Opini 120
5 Studi Kasus dan Implementasi 123
6 Menuju Rekonstruksi Ruang Publik Digital? 126
7 Masa Depan Ruang Publik di Era Opinionscape 127
Daftar Pustaka 128
1 Kembalinya Tuhan ke Panggung Politik 130
2 Tesis Sekularisasi dan Keruntuhannya 131
3 Kebangkitan Agama Politik dan Fundamentalisme 133
4 Konsep Pasca-Sekuler 136
5 Fundamentalisme dan Radikalisme di Era Digital 139
6 Antara Sekularisme dan Teokrasi 140
7 Hidup Bersama di Bawah Atap yang Bocor 142
Daftar Pustaka 144
1 Ketika Kehidupan Biologis Menjadi Arena Politik 146
2 Biopolitik Michel Foucault 147
3 Politik Vaksinasi 149
4 Tubuh sebagai Medan Pertarungan 151
5 Bioteknologi dan "Masa Depan" Biopolitik 153
6 Kehidupan sebagai Proyek Politik 155
Daftar Pustaka 156
1 Memahami Krisis Iklim sebagai Krisis Kuasa 158
2 Antroposen dan Kritiknya 159
3 Membaca Kuasa di Balik Krisis 160
4 Keadilan Iklim 162
5 Politik Hijau dan Kebangkitan Eko-Nasionalisme 165
6 Indonesia dan Global 167
7 Dari Krisis ke Keadilan 168
Daftar Pustaka 169
1 Hidup di Bawah Bayang-Bayang Algoritma 172
2: Dari Panopticon ke Ban-Opticon 173
3 Analisis Shoshana Zuboff 177
4 Studi Kasus dan Implementasi: Indonesia dan Global 180
5 Kedaulatan Data dan Masa Depan Demokrasi Digital 183
6 Dari Pengawasan ke Kedaulatan 185
Daftar Pustaka 187
Pertemuan 13 - Dinamika Sosiologi Politik Indonesia Kontemporer
1 Membaca Indonesia dengan Kacamata yang Telah Kita Rakit 189
2 Dari Sultan ke Pasar 190
3 Politik Kekerabatan 193
4 Ekosistem Post-Truth di Indonesia 195
5 Politik Identitas dan Agama di Ruang Digital 197
6 Mahasiswa dan Diaspora 199
7 Antara Pesimisme dan Harapan 202
Daftar Pustaka 203
1 Sampai di Penghujung, Menatap ke Depan 205
2 Benang Merah Sosiologi Politik 206
3 Akankah AI Menjadi Warga Negara? 208
4 Politik di Era Trans-Humanisme? 211
5 Menjadi Warga Negara yang Kritis dan Efektif di Era Ketidakpastian 214
6 Tugas Analisis Mandiri 216
Daftar Pustaka 217