Bayangkan sebuah pemandangan intelektual. Di satu sisi, berdiri tegak para pemikir Muslim yang sejak awal abad ke-20 telah berusaha keras mengejar ketertinggalan dari Barat. Mereka mengimpor ideologi-ideologi besar: Nasionalisme, Marxisme, liberalisme, sekularisme. Mereka menerjemahkan, mengadaptasi, dan berharap bahwa dengan memakai kacamata modern Barat, dunia Islam akan menemukan jalannya menuju kemajuan. Di sisi lain, berdiri kaum Islamis yang menolak mentah-mentah segala yang berbau Barat, menyerukan kembali kepada "Islam autentik," namun seringkali tanpa perangkat konseptual yang memadai untuk berdialog dengan kompleksitas dunia modern.
Di antara dua kutub inilah, yang keduanya, dalam analisis Wael Hallaq, telah gagal, muncul suara seorang filsuf Maroko yang tenang tetapi radikal: Taha Abdurrahman. Lahir pada 28 Mei 1944 di El Jadida, Maroko, ia adalah salah satu filsuf paling signifikan dan produktif di dunia Arab-Islam kontemporer. Karyanya mencakup lebih dari tiga puluh buku dan sekitar sepuluh ribu halaman, merentang dari logika dan filsafat bahasa hingga etika, metafisika, dan teologi politik. "Taha Abderrahmane proved to be a prolific thinker with his thirty-five work consisting of ten thousand pages," catat sebuah studi, dan ia "proposes a deliberative model of political communication in harmony with his theo-political writings and physical and metaphysical integrity" (Gündüzöz, 2021, hlm. 2-3). Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Sorbonne, Paris, dengan disertasi tentang logika argumentatif dan hakikat penalaran. Ia kemudian mengabdi sebagai profesor filsafat bahasa dan logika di Universitas Mohammed V, Rabat, dari tahun 1970 hingga pensiun pada 2005.
Entitas yang membuat Taha istimewa bukan hanya produktivitasnya, melainkan orisinalitas dan keberaniannya. Ia tidak puas dengan mengkritik Barat. Ia juga tidak puas dengan mengkritik kaum Muslim yang latah meniru Barat. Ia melangkah lebih jauh: membangun sebuah paradigma alternatif yang dinamakannya Paradigma Perwalian (al-iʾtimāniyyah, trusteeship paradigm). Paradigma ini adalah teori etika komprehensif yang berakar pada wahyu Al-Qur'an, namun disajikan dengan kecanggihan filosofis yang membuatnya layak berdialog, dan berdebat, dengan para pemikir besar dunia.
Tulisan ini akan membawa Anda menyelami pemikiran Taha Abdurrahman, khususnya kontribusinya yang paling relevan bagi ilmu politik: Rekonstruksi ontologi subjek politik. Sebagaimana dirangkum dalam sebuah artikel terbaru, pemikiran Taha "meletakkan dasar bagi ontologi politik Islam yang diperbarui di mana tata kelola dan kewarganegaraan diorientasikan pada transendensi, keunggulan moral, dan pengingatan Ilahi" (Suhuf, 2025, hlm. 1). Ini adalah fondasi filosofis yang mendalam untuk melampaui antroposentrisme individualistik yang mendominasi teori politik modern, baik di Barat maupun di kalangan Muslim yang menirunya.
Bayangkan sebuah pemandangan intelektual. Di satu sisi, berdiri tegak para pemikir Muslim yang sejak awal abad ke-20 telah berusaha keras mengejar ketertinggalan dari Barat. Mereka mengimpor ideologi-ideologi besar: Nasionalisme, Marxisme, liberalisme, sekularisme. Mereka menerjemahkan, mengadaptasi, dan berharap bahwa dengan memakai kacamata modern Barat, dunia Islam akan menemukan jalannya menuju kemajuan. Di sisi lain, berdiri kaum Islamis yang menolak mentah-mentah segala yang berbau Barat, menyerukan kembali kepada "Islam autentik," namun seringkali tanpa perangkat konseptual yang memadai untuk berdialog dengan kompleksitas dunia modern.
Di antara dua kutub inilah, yang keduanya, dalam analisis Wael Hallaq, telah gagal, muncul suara seorang filsuf Maroko yang tenang tetapi radikal: Taha Abdurrahman. Lahir pada 28 Mei 1944 di El Jadida, Maroko, ia adalah salah satu filsuf paling signifikan dan produktif di dunia Arab-Islam kontemporer. Karyanya mencakup lebih dari tiga puluh buku dan sekitar sepuluh ribu halaman, merentang dari logika dan filsafat bahasa hingga etika, metafisika, dan teologi politik. "Taha Abderrahmane proved to be a prolific thinker with his thirty-five work consisting of ten thousand pages," catat sebuah studi, dan ia "proposes a deliberative model of political communication in harmony with his theo-political writings and physical and metaphysical integrity" (Gündüzöz, 2021, hlm. 2-3). Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Sorbonne, Paris, dengan disertasi tentang logika argumentatif dan hakikat penalaran. Ia kemudian mengabdi sebagai profesor filsafat bahasa dan logika di Universitas Mohammed V, Rabat, dari tahun 1970 hingga pensiun pada 2005.
Entitas yang membuat Taha istimewa bukan hanya produktivitasnya, melainkan orisinalitas dan keberaniannya. Ia tidak puas dengan mengkritik Barat. Ia juga tidak puas dengan mengkritik kaum Muslim yang latah meniru Barat. Ia melangkah lebih jauh: membangun sebuah paradigma alternatif yang dinamakannya Paradigma Perwalian (al-iʾtimāniyyah, trusteeship paradigm). Paradigma ini adalah teori etika komprehensif yang berakar pada wahyu Al-Qur'an, namun disajikan dengan kecanggihan filosofis yang membuatnya layak berdialog, dan berdebat, dengan para pemikir besar dunia.
Tulisan ini akan membawa Anda menyelami pemikiran Taha Abdurrahman, khususnya kontribusinya yang paling relevan bagi ilmu politik: Rekonstruksi ontologi subjek politik. Sebagaimana dirangkum dalam sebuah artikel terbaru, pemikiran Taha "meletakkan dasar bagi ontologi politik Islam yang diperbarui di mana tata kelola dan kewarganegaraan diorientasikan pada transendensi, keunggulan moral, dan pengingatan Ilahi" (Suhuf, 2025, hlm. 1). Ini adalah fondasi filosofis yang mendalam untuk melampaui antroposentrisme individualistik yang mendominasi teori politik modern, baik di Barat maupun di kalangan Muslim yang menirunya.