Di sebuah rumah petak sempit di Rawajati, Jakarta Selatan, pada awal tahun 1949, seorang laki-laki separuh baya duduk di depan mesin tik tuanya. Ia bukanlah siapa-siapa, hanya seorang guru yang kehilangan pekerjaan, seorang suami yang merindukan istrinya, seorang ayah yang anaknya telah lama tiada.
Di meja kerjanya yang reyot, laki-laki itu mengetik surat untuk istrinya yang berada di penjara. "Aku di sini sendirian, sering sakit kepala, dan uang pun semakin menipis. Tapi jangan khawatir, aku masih bisa mengetik dan menerjemahkan untuk menyambung hidup" (Surat Tan Malaka kepada Djaenah, 12 Maret 1949, dalam Poeze 2008, jilid 6, hlm. 227). Laki-laki itu menandatangani suratnya dengan nama "Ibrahim", nama asli yang jarang diketahui orang.
Nama itu, Ibrahim, adalah nama yang diberikan oleh orang tuanya di sebuah desa kecil di Sumatera Barat pada tahun 1897. Namun dunia mengenalnya sebagai Tan Malaka. Nama ini telah menjadi legenda, mitos, sekaligus hantu yang menghantui sejarah Indonesia. Ia disebut sebagai "Bapak Republik yang Terlupakan," "revolusioner sejati," "musuh negara," dan "pahlawan nasional." Namun di balik semua label itu, siapakah manusia yang bernama Ibrahim? Bagaimana ia hidup dari hari ke hari? Apa yang ia makan, di mana ia tidur, bagaimana ia mencintai, dan apa yang ia takutkan?
Biografi ini tidak hendak menulis tentang Tan Malaka sebagai tokoh politik, ideolog, atau pahlawan. Biografi ini hendak menulis tentang Ibrahim, manusia biasa yang lahir dari rahim seorang ibu, yang pernah menangis ketika lapar, yang jatuh cinta, yang sakit gigi, yang kesepian, yang merindukan kampung halamannya, dan yang akhirnya mati dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. "Setiap orang besar adalah manusia biasa yang melakukan hal-hal biasa dengan cara yang luar biasa," tulis Mrázek dalam pengantar biografinya (Mrázek 1972, hlm. 9). Justru dari hal-hal biasa inilah, besar-kecilnya seorang manusia bisa kita nilai.
Di sebuah rumah petak sempit di Rawajati, Jakarta Selatan, pada awal tahun 1949, seorang laki-laki separuh baya duduk di depan mesin tik tuanya. Ia bukanlah siapa-siapa, hanya seorang guru yang kehilangan pekerjaan, seorang suami yang merindukan istrinya, seorang ayah yang anaknya telah lama tiada.
Di meja kerjanya yang reyot, laki-laki itu mengetik surat untuk istrinya yang berada di penjara. "Aku di sini sendirian, sering sakit kepala, dan uang pun semakin menipis. Tapi jangan khawatir, aku masih bisa mengetik dan menerjemahkan untuk menyambung hidup" (Surat Tan Malaka kepada Djaenah, 12 Maret 1949, dalam Poeze 2008, jilid 6, hlm. 227). Laki-laki itu menandatangani suratnya dengan nama "Ibrahim", nama asli yang jarang diketahui orang.
Nama itu, Ibrahim, adalah nama yang diberikan oleh orang tuanya di sebuah desa kecil di Sumatera Barat pada tahun 1897. Namun dunia mengenalnya sebagai Tan Malaka. Nama ini telah menjadi legenda, mitos, sekaligus hantu yang menghantui sejarah Indonesia. Ia disebut sebagai "Bapak Republik yang Terlupakan," "revolusioner sejati," "musuh negara," dan "pahlawan nasional." Namun di balik semua label itu, siapakah manusia yang bernama Ibrahim? Bagaimana ia hidup dari hari ke hari? Apa yang ia makan, di mana ia tidur, bagaimana ia mencintai, dan apa yang ia takutkan?
Biografi ini tidak hendak menulis tentang Tan Malaka sebagai tokoh politik, ideolog, atau pahlawan. Biografi ini hendak menulis tentang Ibrahim, manusia biasa yang lahir dari rahim seorang ibu, yang pernah menangis ketika lapar, yang jatuh cinta, yang sakit gigi, yang kesepian, yang merindukan kampung halamannya, dan yang akhirnya mati dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. "Setiap orang besar adalah manusia biasa yang melakukan hal-hal biasa dengan cara yang luar biasa," tulis Mrázek dalam pengantar biografinya (Mrázek 1972, hlm. 9). Justru dari hal-hal biasa inilah, besar-kecilnya seorang manusia bisa kita nilai.