Bagi penguasa Orde Baru, Datuk Ibrahim Sutan Malaka atau Tan Malaka beraroma komunis dan penguasa tersebut alergi dengan sentuhan bebauan jenis itu. Buktinya gelar anumerta Datuk sebagai Pahlawan Nasional yang diberikan Sukarno tahun 1963 dicabut oleh Penguasa Orde Baru dan hingga kini tiada pernah dikembalikan. Ironisnya, partai politik yang Tan Malaka dirikan yaitu Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) tidak dibubarkan karena partai ini diakui kendati difusikan ke dalam blok Demokrasi: Partai Demokrasi Indonesia tahun 1973. Bahkan salah seorang kader Tan Malaka bernama Adam Malik dipercaya Soeharto menjadi Wakil Presidennya di periode ke-2.
Tidak seperti tokoh-tokoh komunis lain (jika memang beliau hendak Anda golongkan ke dalamnya), Tan Malaka tidak pernah menghujat Islam. Justru sebaliknya Tan Malaka memandang Islam secara sangat positif, khususnya sebagai kekuatan revolusioner kontra penindasan. Hal ini akan kita lihat di badan artikel saya ini. Tan Malaka lahir sebagai seorang Muslim dari dua orang tua yang taat dididik dalam agama Islam. Inilah dimensi ideosinkretis yang hingga kapan pun tiada akan dapat dilepaskan dari pola pikir Tan Malaka hingga akhir hayatnya. Pernyataan ini tidaklah sembarangan melainkan didasarkan atas tulisan asli Tan Malaka sendiri di dalam magnum opus-nya: MaDiLog (Materialisme Dialektika Logika).
Bagi penguasa Orde Baru, Datuk Ibrahim Sutan Malaka atau Tan Malaka beraroma komunis dan penguasa tersebut alergi dengan sentuhan bebauan jenis itu. Buktinya gelar anumerta Datuk sebagai Pahlawan Nasional yang diberikan Sukarno tahun 1963 dicabut oleh Penguasa Orde Baru dan hingga kini tiada pernah dikembalikan. Ironisnya, partai politik yang Tan Malaka dirikan yaitu Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) tidak dibubarkan karena partai ini diakui kendati difusikan ke dalam blok Demokrasi: Partai Demokrasi Indonesia tahun 1973. Bahkan salah seorang kader Tan Malaka bernama Adam Malik dipercaya Soeharto menjadi Wakil Presidennya di periode ke-2.
Tidak seperti tokoh-tokoh komunis lain (jika memang beliau hendak Anda golongkan ke dalamnya), Tan Malaka tidak pernah menghujat Islam. Justru sebaliknya Tan Malaka memandang Islam secara sangat positif, khususnya sebagai kekuatan revolusioner kontra penindasan. Hal ini akan kita lihat di badan artikel saya ini. Tan Malaka lahir sebagai seorang Muslim dari dua orang tua yang taat dididik dalam agama Islam. Inilah dimensi ideosinkretis yang hingga kapan pun tiada akan dapat dilepaskan dari pola pikir Tan Malaka hingga akhir hayatnya. Pernyataan ini tidaklah sembarangan melainkan didasarkan atas tulisan asli Tan Malaka sendiri di dalam magnum opus-nya: MaDiLog (Materialisme Dialektika Logika).