Tidak seperti tokoh-tokoh komunis lain (jika memang beliau hendak Anda golongkan ke dalamnya), Tan Malaka tidak pernah menghujat Islam. Justru sebaliknya Tan Malaka memandang Islam secara sangat positif, khususnya sebagai kekuatan revolusioner kontra penindasan. Hal ini akan kita lihat di badan artikel saya ini. Tan Malaka lahir sebagai seorang Muslim dari dua orang tua yang taat dididik dalam agama Islam. Inilah dimensi ideosinkretis yang hingga kapan pun tiada akan dapat dilepaskan dari pola pikir Tan Malaka hingga akhir hayatnya. Pernyataan ini tidaklah sembarangan melainkan didasarkan atas tulisan asli Tan Malaka sendiri di dalam magnum opus-nya: MaDiLog (Materialisme Dialektika Logika).
Buku inilah inti sari epistemologi Tan Malaka dalam menjalankan pikirannya, sementara karya-karya lain semisal Naar de Republiek Indonesia, Dari Penjara ke Penjara, Massa Actie, Gerpolek, merupakan karya-karya intelektual yang lebih populis dan politis sifatnya. Pada lain pihak, MaDiLog lumayan sulit dicerna, terutama subnya yang mengenai Logika. Namun, mungkin pula ini dikarenakan saya (penulis artikel) tidak terbiasa dengan Matematika dan Ilmu Pasti. Intinya, MaDiLog adalah buah karya Tan Malaka mengenai Epistemologi atas “hampir” segala hal yang masuk kategori Materialisme, Dialektika, dan Logika.
Tidak seperti tokoh-tokoh komunis lain (jika memang beliau hendak Anda golongkan ke dalamnya), Tan Malaka tidak pernah menghujat Islam. Justru sebaliknya Tan Malaka memandang Islam secara sangat positif, khususnya sebagai kekuatan revolusioner kontra penindasan. Hal ini akan kita lihat di badan artikel saya ini. Tan Malaka lahir sebagai seorang Muslim dari dua orang tua yang taat dididik dalam agama Islam. Inilah dimensi ideosinkretis yang hingga kapan pun tiada akan dapat dilepaskan dari pola pikir Tan Malaka hingga akhir hayatnya. Pernyataan ini tidaklah sembarangan melainkan didasarkan atas tulisan asli Tan Malaka sendiri di dalam magnum opus-nya: MaDiLog (Materialisme Dialektika Logika).
Buku inilah inti sari epistemologi Tan Malaka dalam menjalankan pikirannya, sementara karya-karya lain semisal Naar de Republiek Indonesia, Dari Penjara ke Penjara, Massa Actie, Gerpolek, merupakan karya-karya intelektual yang lebih populis dan politis sifatnya. Pada lain pihak, MaDiLog lumayan sulit dicerna, terutama subnya yang mengenai Logika. Namun, mungkin pula ini dikarenakan saya (penulis artikel) tidak terbiasa dengan Matematika dan Ilmu Pasti. Intinya, MaDiLog adalah buah karya Tan Malaka mengenai Epistemologi atas “hampir” segala hal yang masuk kategori Materialisme, Dialektika, dan Logika.