Pernahkah Sahabat mendengar nama seorang filsuf yang dieksekusi mati oleh penguasa pada usia 38 tahun, lalu justru namanya semakin melegenda? Itulah Yahya Suhrawardi, Syaikh al-Isyraq (Sang Guru Iluminasi), yang oleh para pengikutnya dijuluki al-Maqtul, "Yang Terbunuh". Ia suatu sosok langka: seorang mistikus yang berani bersentuhan dengan politik, seorang teosof yang menyusun doktrin kenegaraan, seorang pemuda Iran yang menghidupkan kembali kearifan kuno Persia sekaligus membaca Plato, Al-Farabi, dan Al-Qur’an dalam satu tarikan nafas yang sama.
Di tengah perang Salib yang berkecamuk dan pertikaian mazhab yang memecah belah, Suhrawardi menawarkan sebuah visi: politik bukanlah soal pedang dan perebutan tahta, melainkan soal cahaya. Baginya, seorang pemimpin sejati bukanlah yang paling kuat atau paling licik, melainkan yang paling bersinar jiwanya, sang hakim muta’allih, filsuf yang telah mencapai pencerahan dan mampu mendekatkan masyarakat kepada Sang Cahaya di Atas Segala Cahaya (Nūr al-Anwār, sebutan Suhrawardi bagi Tuhan).
Berabad-abad berselang, gagasan itu justru terasa segar kembali. Di kala banyak negara dihadapkan pada krisis kepemimpinan, korupsi yang akut, dan keterputusan antara moralitas pribadi dan praktik politik publik, Suhrawardi seolah berbisik: “Jangan serahkan tampuk kekuasaan kepada mereka yang gelap jiwanya.” Esai ini akan menelusuri pemikiran politik Suhrawardi dari akar metafisikanya, mengurai konsep-konsep inti, proposisi pengelolaan politik yang diajukannya, syarat-syarat yang ia kenakan bagi calon pemimpin, lalu mengevaluasi relevansi semua itu bagi fenomena politik kontemporer, baik di pentas global maupun di Indonesia.
Biografi Singkat Yahya Suhrawardi
Pernahkah Sahabat mendengar nama seorang filsuf yang dieksekusi mati oleh penguasa pada usia 38 tahun, lalu justru namanya semakin melegenda? Itulah Yahya Suhrawardi, Syaikh al-Isyraq (Sang Guru Iluminasi), yang oleh para pengikutnya dijuluki al-Maqtul, "Yang Terbunuh". Ia suatu sosok langka: seorang mistikus yang berani bersentuhan dengan politik, seorang teosof yang menyusun doktrin kenegaraan, seorang pemuda Iran yang menghidupkan kembali kearifan kuno Persia sekaligus membaca Plato, Al-Farabi, dan Al-Qur’an dalam satu tarikan nafas yang sama.
Di tengah perang Salib yang berkecamuk dan pertikaian mazhab yang memecah belah, Suhrawardi menawarkan sebuah visi: politik bukanlah soal pedang dan perebutan tahta, melainkan soal cahaya. Baginya, seorang pemimpin sejati bukanlah yang paling kuat atau paling licik, melainkan yang paling bersinar jiwanya, sang hakim muta’allih, filsuf yang telah mencapai pencerahan dan mampu mendekatkan masyarakat kepada Sang Cahaya di Atas Segala Cahaya (Nūr al-Anwār, sebutan Suhrawardi bagi Tuhan).
Berabad-abad berselang, gagasan itu justru terasa segar kembali. Di kala banyak negara dihadapkan pada krisis kepemimpinan, korupsi yang akut, dan keterputusan antara moralitas pribadi dan praktik politik publik, Suhrawardi seolah berbisik: “Jangan serahkan tampuk kekuasaan kepada mereka yang gelap jiwanya.” Esai ini akan menelusuri pemikiran politik Suhrawardi dari akar metafisikanya, mengurai konsep-konsep inti, proposisi pengelolaan politik yang diajukannya, syarat-syarat yang ia kenakan bagi calon pemimpin, lalu mengevaluasi relevansi semua itu bagi fenomena politik kontemporer, baik di pentas global maupun di Indonesia.
Biografi Singkat Yahya Suhrawardi