Teori Benturan Peradaban Samuel P. Huntington Apakah Masih Relevan


Deskripsi

Esai ini mengajak Anda menyelami salah satu teori paling kontroversial dan berpengaruh dalam Hubungan Internasional kontemporer: Teori Benturan Peradaban (The Clash of Civilizations) karya Samuel P. Huntington. Jika runtuhnya Tembok Berlin menandai berakhirnya pertarungan ideologi kapitalisme versus komunisme, Huntington hadir dengan sebuah tesis provokatif: Konflik global di masa depan tidak lagi dipicu oleh ekonomi atau ideologi, melainkan oleh jurang perbedaan kultural, agama, dan identitas antarperadaban. 

Apakah dunia benar-benar ditakdirkan untuk berbenturan antara "Barat", "Islam", dan "Konfusian"? Esai ini akan membedah fondasi teori, memetakan arsitektur peta peradaban Huntington, serta mengukur relevansi dan ketidakrelevansiannya di tengah kepungan politik identitas, rivalitas AS-Tiongkok, hingga perang di Gaza dan Ukraina.

Coba kita bayangkan sejenak suasana dunia di awal dekade 1990-an. Tembok Berlin baru saja runtuh, Uni Soviet bubar, dan Perang Dingin yang mencekam selama hampir setengah abad tiba-tiba usai. Suasana dipenuhi euforia. Para pemikir Barat buru-buru menulis obituari bagi sejarah konflik besar. Yang paling terkenal adalah Francis Fukuyama, yang dengan lantang menyatakan bahwa dunia telah mencapai "The End of History", titik akhir evolusi ideologis umat manusia, di mana demokrasi liberal Barat dinyatakan sebagai pemenang akhir yang tak terbantahkan.

Di tengah pesta kemenangan inilah, seorang profesor ilmu politik dari Universitas Harvard bernama Samuel P. Huntington melontarkan sebuah tesis yang bagai menyiram air dingin ke wajah para optimis. Pada tahun 1993, melalui artikelnya yang menggelegar di jurnal Foreign Affairs, "The Clash of Civilizations?", ia berargumen bahwa runtuhnya Uni Soviet bukanlah akhir dari konflik, melainkan awal dari jenis konflik yang sama sekali baru. Artikel tersebut, menurut para editor jurnal itu, "telah menghasilkan lebih banyak diskusi ketimbang artikel mana pun sejak artikel 'X' karya George Kennan tentang pembendungan (containment) di tahun 1940-an" (Huntington, 1996, hlm. 13).


Konten

Teori Benturan Peradaban Samuel P. Huntington Apakah Masih Relevan

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Teori Benturan Peradaban Samuel P. Huntington Apakah Masih Relevan


Deskripsi

Esai ini mengajak Anda menyelami salah satu teori paling kontroversial dan berpengaruh dalam Hubungan Internasional kontemporer: Teori Benturan Peradaban (The Clash of Civilizations) karya Samuel P. Huntington. Jika runtuhnya Tembok Berlin menandai berakhirnya pertarungan ideologi kapitalisme versus komunisme, Huntington hadir dengan sebuah tesis provokatif: Konflik global di masa depan tidak lagi dipicu oleh ekonomi atau ideologi, melainkan oleh jurang perbedaan kultural, agama, dan identitas antarperadaban. 

Apakah dunia benar-benar ditakdirkan untuk berbenturan antara "Barat", "Islam", dan "Konfusian"? Esai ini akan membedah fondasi teori, memetakan arsitektur peta peradaban Huntington, serta mengukur relevansi dan ketidakrelevansiannya di tengah kepungan politik identitas, rivalitas AS-Tiongkok, hingga perang di Gaza dan Ukraina.

Coba kita bayangkan sejenak suasana dunia di awal dekade 1990-an. Tembok Berlin baru saja runtuh, Uni Soviet bubar, dan Perang Dingin yang mencekam selama hampir setengah abad tiba-tiba usai. Suasana dipenuhi euforia. Para pemikir Barat buru-buru menulis obituari bagi sejarah konflik besar. Yang paling terkenal adalah Francis Fukuyama, yang dengan lantang menyatakan bahwa dunia telah mencapai "The End of History", titik akhir evolusi ideologis umat manusia, di mana demokrasi liberal Barat dinyatakan sebagai pemenang akhir yang tak terbantahkan.

Di tengah pesta kemenangan inilah, seorang profesor ilmu politik dari Universitas Harvard bernama Samuel P. Huntington melontarkan sebuah tesis yang bagai menyiram air dingin ke wajah para optimis. Pada tahun 1993, melalui artikelnya yang menggelegar di jurnal Foreign Affairs, "The Clash of Civilizations?", ia berargumen bahwa runtuhnya Uni Soviet bukanlah akhir dari konflik, melainkan awal dari jenis konflik yang sama sekali baru. Artikel tersebut, menurut para editor jurnal itu, "telah menghasilkan lebih banyak diskusi ketimbang artikel mana pun sejak artikel 'X' karya George Kennan tentang pembendungan (containment) di tahun 1940-an" (Huntington, 1996, hlm. 13).


Konten

Teori Benturan Peradaban Samuel P. Huntington Apakah Masih Relevan