Ada satu pengakuan jujur yang jarang diucapkan di ruang-ruang kuliah demokrasi: Bahwa gagasan "pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat", seindah apapun bunyinya, mungkin tidak pernah sepenuhnya menjadi kenyataan di mana pun ia dipraktikkan.
Pengakuan inilah yang, selama lebih dari lima dekade, menjadi inti dari salah satu buku teks paling provokatif dalam sejarah ilmu politik Amerika: The Irony of Democracy: An Uncommon Introduction to American Politics. Ditulis pertama kali pada tahun 1970 oleh Thomas R. Dye dan L. Harmon Zeigler, buku ini hadir bukan untuk merayakan demokrasi, melainkan untuk membongkar ironi paling mendalam yang terkandung di dalamnya: Bahwa demokrasi yang sehat justru bergantung pada kepemimpinan segelintir elit, bukan pada partisipasi aktif massa. Bahwa "pemerintahan oleh rakyat" hanya bisa bertahan jika "rakyat" tidak benar-benar memerintah, melainkan menyerahkan kendali kepada minoritas yang lebih berpendidikan, lebih kaya, dan lebih berkomitmen pada nilai-nilai demokrasi.
Tesis ini tentu saja kontroversial. Ia menyerang langsung jantung keyakinan kita tentang kedaulatan rakyat. Ia membalikkan logika yang kita terima sejak kecil: Bahwa semakin banyak warga berpartisipasi, semakin sehat demokrasi. Dye dan Zeigler mengatakan sebaliknya. Massa, dalam pandangan mereka, justru menjadi ancaman bagi demokrasi. Bukan karena massa itu jahat, melainkan karena massa cenderung apatis, kurang informasi, tidak toleran terhadap perbedaan, dan rentan terhadap hasutan pemimpin otoriter.
Maka, ironinya adalah: Demokrasi hanya bisa diselamatkan oleh mereka yang secara fundamental bertentangan dengan prinsip demokrasi itu sendiri, yakni para elit. Elitlah yang "paling berkomitmen pada nilai-nilai demokrasi." Elitlah yang "menjaga permainan tetap berjalan." Dan elitlah yang harus "memerintah secara bijaksana jika pemerintahan 'oleh rakyat' ingin bertahan hidup."
Tulisan ini akan membawa Anda menyelami pemikiran Dye dan Zeigler. Kita akan memulainya dengan memahami apa itu teori elit dan bagaimana Dye dan Zeigler merumuskannya. Kita akan mengupas bagaimana para Founding Fathers Amerika adalah contoh sempurna dari elit yang membangun sistem untuk melindungi kaum minoritas kaya dari ancaman mayoritas. Kita akan menelisik karakteristik massa yang, menurut data demi data, menunjukkan ketidakpedulian dan intoleransi yang membahayakan demokrasi. Dan akhirnya, kita akan menguji relevansi teori ini pada politik kontemporer: Dari kebangkitan Trump dan populisme global, hingga realitas oligarki di Indonesia pasca-reformasi.
Tujuan tulisan ini bukan untuk membuat Anda menjadi "elitis", yakni meyakini bahwa demokrasi adalah kepalsuan dan bahwa rakyat harus tunduk pada segelintir orang. Sebaliknya, tujuan kami adalah membekali Anda dengan perspektif yang jujur, bahkan jika itu tidak nyaman, tentang bagaimana kekuasaan sesungguhnya bekerja, sehingga Anda dapat menjadi warga negara yang lebih kritis dan, jika diperlukan, menjadi bagian dari perubahan. Wallahul muwaffiq ila aqwam al-thariq.
Pengakuan yang Tidak Nyaman
Pada tahun 1970, ketika sebagian besar buku teks politik Amerika merayakan demokrasi sebagai sistem yang inklusif dan partisipatif, Thomas R. Dye dan L. Harmon Zeigler menerbitkan sebuah buku dengan judul yang sengaja provokatif: The Irony of Democracy. Buku ini tidak ditulis untuk memperkuat keyakinan para mahasiswa bahwa mereka hidup dalam sistem yang adil. Sebaliknya, buku ini ditulis untuk mengusik keyakinan itu. "The elites and not the masses govern our country" (Kaum elit, bukan massa, yang memerintah negeri ini). Demikian tema sentral yang diusung buku ini sejak edisi pertamanya dan bertahan hingga edisi ke-17 yang terbit pada 2015 (Schubert, Dye, & Zeigler, 2015).
Ada satu pengakuan jujur yang jarang diucapkan di ruang-ruang kuliah demokrasi: Bahwa gagasan "pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat", seindah apapun bunyinya, mungkin tidak pernah sepenuhnya menjadi kenyataan di mana pun ia dipraktikkan.
Pengakuan inilah yang, selama lebih dari lima dekade, menjadi inti dari salah satu buku teks paling provokatif dalam sejarah ilmu politik Amerika: The Irony of Democracy: An Uncommon Introduction to American Politics. Ditulis pertama kali pada tahun 1970 oleh Thomas R. Dye dan L. Harmon Zeigler, buku ini hadir bukan untuk merayakan demokrasi, melainkan untuk membongkar ironi paling mendalam yang terkandung di dalamnya: Bahwa demokrasi yang sehat justru bergantung pada kepemimpinan segelintir elit, bukan pada partisipasi aktif massa. Bahwa "pemerintahan oleh rakyat" hanya bisa bertahan jika "rakyat" tidak benar-benar memerintah, melainkan menyerahkan kendali kepada minoritas yang lebih berpendidikan, lebih kaya, dan lebih berkomitmen pada nilai-nilai demokrasi.
Tesis ini tentu saja kontroversial. Ia menyerang langsung jantung keyakinan kita tentang kedaulatan rakyat. Ia membalikkan logika yang kita terima sejak kecil: Bahwa semakin banyak warga berpartisipasi, semakin sehat demokrasi. Dye dan Zeigler mengatakan sebaliknya. Massa, dalam pandangan mereka, justru menjadi ancaman bagi demokrasi. Bukan karena massa itu jahat, melainkan karena massa cenderung apatis, kurang informasi, tidak toleran terhadap perbedaan, dan rentan terhadap hasutan pemimpin otoriter.
Maka, ironinya adalah: Demokrasi hanya bisa diselamatkan oleh mereka yang secara fundamental bertentangan dengan prinsip demokrasi itu sendiri, yakni para elit. Elitlah yang "paling berkomitmen pada nilai-nilai demokrasi." Elitlah yang "menjaga permainan tetap berjalan." Dan elitlah yang harus "memerintah secara bijaksana jika pemerintahan 'oleh rakyat' ingin bertahan hidup."
Tulisan ini akan membawa Anda menyelami pemikiran Dye dan Zeigler. Kita akan memulainya dengan memahami apa itu teori elit dan bagaimana Dye dan Zeigler merumuskannya. Kita akan mengupas bagaimana para Founding Fathers Amerika adalah contoh sempurna dari elit yang membangun sistem untuk melindungi kaum minoritas kaya dari ancaman mayoritas. Kita akan menelisik karakteristik massa yang, menurut data demi data, menunjukkan ketidakpedulian dan intoleransi yang membahayakan demokrasi. Dan akhirnya, kita akan menguji relevansi teori ini pada politik kontemporer: Dari kebangkitan Trump dan populisme global, hingga realitas oligarki di Indonesia pasca-reformasi.
Tujuan tulisan ini bukan untuk membuat Anda menjadi "elitis", yakni meyakini bahwa demokrasi adalah kepalsuan dan bahwa rakyat harus tunduk pada segelintir orang. Sebaliknya, tujuan kami adalah membekali Anda dengan perspektif yang jujur, bahkan jika itu tidak nyaman, tentang bagaimana kekuasaan sesungguhnya bekerja, sehingga Anda dapat menjadi warga negara yang lebih kritis dan, jika diperlukan, menjadi bagian dari perubahan. Wallahul muwaffiq ila aqwam al-thariq.
Pengakuan yang Tidak Nyaman
Pada tahun 1970, ketika sebagian besar buku teks politik Amerika merayakan demokrasi sebagai sistem yang inklusif dan partisipatif, Thomas R. Dye dan L. Harmon Zeigler menerbitkan sebuah buku dengan judul yang sengaja provokatif: The Irony of Democracy. Buku ini tidak ditulis untuk memperkuat keyakinan para mahasiswa bahwa mereka hidup dalam sistem yang adil. Sebaliknya, buku ini ditulis untuk mengusik keyakinan itu. "The elites and not the masses govern our country" (Kaum elit, bukan massa, yang memerintah negeri ini). Demikian tema sentral yang diusung buku ini sejak edisi pertamanya dan bertahan hingga edisi ke-17 yang terbit pada 2015 (Schubert, Dye, & Zeigler, 2015).