Teori Ersatz Kapitalisme dan Ekonomi Politik bagi Mahasiswa dan Umum


Deskripsi

Pernahkah Anda merenungkan kontradiksi fundamental dalam perekonomian Indonesia? Di satu sisi, kita menyaksikan deretan shopping mall yang menjamur bak jamur di musim hujan, hiruk-pikuk klub malam yang mempertontonkan gelimang kemewahan, serta jajaran mobil Eropa yang mengular di jalan-jalan protokol. Namun di sisi lain, di balik panggung konsumsi yang seolah-olah “modern” itu, basis produksi kita tetaplah ekstraktif: Tambang, kelapa sawit, dan manufaktur perakitan yang enggan merambah ke jantung teknologi. Inilah paradoks yang mengusik benak para pengamat: Mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama puluhan tahun tidak juga melahirkan kapitalisme yang kokoh, inovatif, dan mandiri secara teknologi?

Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat dari salah satu konsep paling provokatif dalam khazanah ekonomi politik pembangunan: Ersatz Capitalism, atau yang kerap diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai kapitalisme semu. Istilah ini pertama kali diperkenalkan secara sistematis oleh Kunio Yoshihara, seorang ekonom Jepang yang menghabiskan karier akademiknya mengamati denyut nadi perekonomian Asia Tenggara. Dalam magnum opus-nya, The Rise of Ersatz Capitalism in South-East Asia (1988), Yoshihara melontarkan tesis yang menggelisahkan: Apa yang tumbuh di Asia Tenggara bukanlah kapitalisme yang sesungguhnya, melainkan sebuah tiruan inferior (ersatz) dari kapitalisme yang pernah menggerakkan Revolusi Industri di Inggris dan belakangan “keajaiban ekonomi” di Asia Timur Laut.

Mengapa disebut ersatz? Kata ersatz berasal dari bahasa Jerman yang secara harfiah berarti “pengganti” atau “substitusi”, tetapi dengan konotasi peyoratif: Sebuah barang tiruan yang kualitasnya lebih rendah dari aslinya. Dalam konteks Perang Dunia, istilah ini populer merujuk pada Ersatzkaffee kopi tiruan yang dibuat dari biji ek atau jelai karena blokade sekutu memutus pasokan kopi asli. Rasanya tentu tidak pernah menyamai kopi Brasil atau Jawa. Dengan analogi yang tajam ini, Yoshihara hendak menyampaikan bahwa kapitalisme di Asia Tenggara adalah kapitalisme kopi jelai: Tampak seperti kapitalisme, berfungsi dalam kerangka pasar, tetapi kehilangan roh sejatinya yaitu entrepreneurship yang inovatif, kompetisi yang sehat, dan akumulasi kapital yang bertumpu pada kemajuan teknologi.

Kapitalisme semu Asia Tenggara, menurut Yoshihara,


Konten

Teori Ersatz Kapitalisme dan Ekonomi Politik bagi Mahasiswa dan Umum

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Teori Ersatz Kapitalisme dan Ekonomi Politik bagi Mahasiswa dan Umum


Deskripsi

Pernahkah Anda merenungkan kontradiksi fundamental dalam perekonomian Indonesia? Di satu sisi, kita menyaksikan deretan shopping mall yang menjamur bak jamur di musim hujan, hiruk-pikuk klub malam yang mempertontonkan gelimang kemewahan, serta jajaran mobil Eropa yang mengular di jalan-jalan protokol. Namun di sisi lain, di balik panggung konsumsi yang seolah-olah “modern” itu, basis produksi kita tetaplah ekstraktif: Tambang, kelapa sawit, dan manufaktur perakitan yang enggan merambah ke jantung teknologi. Inilah paradoks yang mengusik benak para pengamat: Mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama puluhan tahun tidak juga melahirkan kapitalisme yang kokoh, inovatif, dan mandiri secara teknologi?

Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat dari salah satu konsep paling provokatif dalam khazanah ekonomi politik pembangunan: Ersatz Capitalism, atau yang kerap diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai kapitalisme semu. Istilah ini pertama kali diperkenalkan secara sistematis oleh Kunio Yoshihara, seorang ekonom Jepang yang menghabiskan karier akademiknya mengamati denyut nadi perekonomian Asia Tenggara. Dalam magnum opus-nya, The Rise of Ersatz Capitalism in South-East Asia (1988), Yoshihara melontarkan tesis yang menggelisahkan: Apa yang tumbuh di Asia Tenggara bukanlah kapitalisme yang sesungguhnya, melainkan sebuah tiruan inferior (ersatz) dari kapitalisme yang pernah menggerakkan Revolusi Industri di Inggris dan belakangan “keajaiban ekonomi” di Asia Timur Laut.

Mengapa disebut ersatz? Kata ersatz berasal dari bahasa Jerman yang secara harfiah berarti “pengganti” atau “substitusi”, tetapi dengan konotasi peyoratif: Sebuah barang tiruan yang kualitasnya lebih rendah dari aslinya. Dalam konteks Perang Dunia, istilah ini populer merujuk pada Ersatzkaffee kopi tiruan yang dibuat dari biji ek atau jelai karena blokade sekutu memutus pasokan kopi asli. Rasanya tentu tidak pernah menyamai kopi Brasil atau Jawa. Dengan analogi yang tajam ini, Yoshihara hendak menyampaikan bahwa kapitalisme di Asia Tenggara adalah kapitalisme kopi jelai: Tampak seperti kapitalisme, berfungsi dalam kerangka pasar, tetapi kehilangan roh sejatinya yaitu entrepreneurship yang inovatif, kompetisi yang sehat, dan akumulasi kapital yang bertumpu pada kemajuan teknologi.

Kapitalisme semu Asia Tenggara, menurut Yoshihara,


Konten

Teori Ersatz Kapitalisme dan Ekonomi Politik bagi Mahasiswa dan Umum