Teori Framing dan Opini Publik bagi Mahasiswa dan Umum


Deskripsi

Pada suatu pagi di bulan Agustus 2024, ribuan mahasiswa turun ke jalan di berbagai kota di Indonesia. Mereka memprotes revisi Undang-Undang Pilkada yang dinilai mengkhianati putusan Mahkamah Konstitusi. Beberapa jam kemudian, dua portal berita daring terkemuka menurunkan laporan tentang aksi yang sama.

Portal A menulis, "Mahasiswa Kawal Demokrasi, Tolak Pengkhianatan Konstitusi." Sementara Portal B menurunkan judul, "Aksi Tolak Revisi UU Pilkada Diwarnai Kericuhan, Fasilitas Umum Rusak." Peristiwa yang sama. Fakta yang kurang lebih serupa. Tapi dua cerita yang sama sekali berbeda. Portal yang satu menonjolkan idealisme dan perjuangan demokrasi. Portal lainnya menyoroti kerusuhan dan vandalisme.

Inilah yang disebut pembingkaian atau framing. Dan seperti yang akan kita lihat dalam esai ini, pembingkaian bukan sekadar soal pemilihan judul berita. Ia adalah proses fundamental yang membentuk bagaimana kita memahami realitas, bagaimana opini publik terbentuk, dan pada akhirnya, bagaimana keputusan-keputusan politik diambil.

Esai ini akan membawa Anda menyusuri lorong-lorong teori pembingkaian, dari laboratorium psikologi kognitif di Universitas Stanford hingga ruang redaksi media di Jakarta; dari pidato kampanye di televisi hingga perang tagar di media sosial. Kita akan belajar dari para pemikir besar: Erving Goffman yang meletakkan fondasi sosiologis, Robert Entman yang menyatukan paradigma yang tercerai-berai, Shanto Iyengar yang menunjukkan bagaimana televisi membingkai isu politik, hingga Daniel Kahneman dan Amos Tversky yang membuktikan bahwa cara informasi disajikan bisa mengubah keputusan kita secara radikal.


Konten

Teori Framing dan Opini Publik bagi Mahasiswa dan Umum

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Teori Framing dan Opini Publik bagi Mahasiswa dan Umum


Deskripsi

Pada suatu pagi di bulan Agustus 2024, ribuan mahasiswa turun ke jalan di berbagai kota di Indonesia. Mereka memprotes revisi Undang-Undang Pilkada yang dinilai mengkhianati putusan Mahkamah Konstitusi. Beberapa jam kemudian, dua portal berita daring terkemuka menurunkan laporan tentang aksi yang sama.

Portal A menulis, "Mahasiswa Kawal Demokrasi, Tolak Pengkhianatan Konstitusi." Sementara Portal B menurunkan judul, "Aksi Tolak Revisi UU Pilkada Diwarnai Kericuhan, Fasilitas Umum Rusak." Peristiwa yang sama. Fakta yang kurang lebih serupa. Tapi dua cerita yang sama sekali berbeda. Portal yang satu menonjolkan idealisme dan perjuangan demokrasi. Portal lainnya menyoroti kerusuhan dan vandalisme.

Inilah yang disebut pembingkaian atau framing. Dan seperti yang akan kita lihat dalam esai ini, pembingkaian bukan sekadar soal pemilihan judul berita. Ia adalah proses fundamental yang membentuk bagaimana kita memahami realitas, bagaimana opini publik terbentuk, dan pada akhirnya, bagaimana keputusan-keputusan politik diambil.

Esai ini akan membawa Anda menyusuri lorong-lorong teori pembingkaian, dari laboratorium psikologi kognitif di Universitas Stanford hingga ruang redaksi media di Jakarta; dari pidato kampanye di televisi hingga perang tagar di media sosial. Kita akan belajar dari para pemikir besar: Erving Goffman yang meletakkan fondasi sosiologis, Robert Entman yang menyatukan paradigma yang tercerai-berai, Shanto Iyengar yang menunjukkan bagaimana televisi membingkai isu politik, hingga Daniel Kahneman dan Amos Tversky yang membuktikan bahwa cara informasi disajikan bisa mengubah keputusan kita secara radikal.


Konten

Teori Framing dan Opini Publik bagi Mahasiswa dan Umum