Pernahkah Anda menonton sebuah permainan “koprok” kelas tinggi? Di tanah beralaskan plastik bekas baliho Caleg Gagal, para pemain memasang taruhan, saling menggertak, dan akhirnya salah satu dari mereka membawa pulang semua keping. Bagi orang awam, permainan itu tampak mendebarkan, penuh ketegangan, strategi, dan keberuntungan.
Tapi tunggu dulu. Bagaimana jika saya memberitahu Anda bahwa alas “koprok” dari baliho itu sendiri sudah dirancang sedemikian rupa sehingga, siapapun yang "menang" pada malam itu, bandar “koprok” tidak akan pernah benar-benar kalah? Bagaimana jika aturan mainnya, jumlah pemain yang diundang, bahkan penerangan lampu remang-remang, semuanya sudah diatur sebelumnya oleh segelintir orang yang tidak pernah terlihat medan laga “koprok” tersebut?
Inilah, secara metaforis, tawaran cara pandang G. William Domhoff tentang politik di Amerika Serikat, dan, seperti yang akan kita lihat, relevansinya merentang jauh ke jantung demokrasi di Indonesia. Selama lebih dari setengah abad, Domhoff, seorang sosiolog yang kini berstatus profesor emeritus di University of California, Santa Cruz, telah mendedikasikan hidupnya untuk membuktikan satu tesis yang provokatif: Bahwa di balik hiruk-pikuk kampanye, debat presiden, dan sidang kongres, ada segelintir orang, tepatnya pemilik dan manajer puncak korporasi besar, yang menjadi "figur dominan dalam masyarakat Amerika" (Domhoff, 2022, hlm. 1).
Jangan salah paham dulu. Domhoff bukanlah seorang konspirasionis yang membayangkan sekelompok orang tua a la Elder of Zion berkumpul di ruang bawah tanah sambil mengatur dunia. Argumennya jauh lebih canggih, lebih empiris, dan justru karena itu, lebih meresahkan. Ia adalah penerus paling setia dari tradisi "analisis struktur kekuasaan" yang dirintis oleh dua raksasa sosiologi abad ke-20: C. Wright Mills dan Floyd Hunter. Jika Mills, dalam The Power Elite (1956), memberikan potret provokatif tentang "segitiga kekuasaan" yang terdiri dari pemilik korporasi, panglima militer, dan direktur politik, maka Domhoff-lah yang datang dengan membawa kalkulator, data sensus, dan peta jejaring sosial untuk membuktikannya secara saintifik.
Tugas penulis kali ini bukan sekadar mengagumi atau mencerca. Melalui metode "riset struktur kekuasaan" (power structure research), kita akan diajak menyelami mekanisme detail bagaimana kelas atas korporat Amerika, Domhoff menyebut mereka sebagai "komunitas korporat" (the corporate community), telah berhasil membangun "jaringan perencana kebijakan" (policy-planning network), mempengaruhi opini publik, dan menyeleksi kandidat politik yang "aman" bagi kepentingan mereka. Mereka tidak berteriak dari podium; mereka berbisik di klub-klub eksklusif, rapat dewan yayasan, dan boardroom perusahaan. Inilah kekuasaan yang, meminjam istilah Robert J.S. Ross, bergerak secara "lambat" (slow power), tak terlihat, bertahap, namun sangat kokoh (Ross, 2017, hlm. x).
Kita akan memulai perjalanan ini dengan menyelami fondasi teori Domhoff: Hubungan antara kelas atas sosial, komunitas korporat, dan jaringan pembentuk kebijakan. Setelah itu, kita akan mengupas empat proses kekuasaan yang menjadi mesin utama dominasi kelas, serta bagaimana jaringan ini bekerja di berbagai arena, dari penyangkalan perubahan iklim hingga politik lokal. Pada bab terakhir, kita akan membawa teori ini ke Indonesia, mengujinya dalam realitas oligarki, dinasti politik, dan state capture yang semakin akut di era pasca-reformasi.
Tulisan ini ditulis dengan satu keyakinan: Untuk memperbaiki demokrasi, kita harus terlebih dahulu memahami dengan jujur bagaimana kekuasaan sesungguhnya bekerja. Sebab, seperti yang akan kita lihat, mengandalkan pemilu lima tahunan tanpa membongkar struktur kekuasaan di baliknya adalah seperti berharap menang di meja judi yang sudah dicurangi. Selamat membaca dan, terutama, selamat berpikir kritis. Wallahul muwaffiq ila aqwam al-thariq.
Tiga Pilar Dominasi Kelas
G. William Domhoff tidak pernah bermaksud menulis buku yang akan menjadi sensasi. Pada tahun 1967, sebagai seorang psikolog muda yang baru menyelesaikan studi tentang mimpi, ia menerbitkan Who Rules America?. Buku itu segera masuk daftar best-seller (#12) dan mengubah lanskap sosiologi politik Amerika secara fundamental. Apa yang membuatnya begitu menggetarkan? Bukan retorika atau ideologi, melainkan data.
Pernahkah Anda menonton sebuah permainan “koprok” kelas tinggi? Di tanah beralaskan plastik bekas baliho Caleg Gagal, para pemain memasang taruhan, saling menggertak, dan akhirnya salah satu dari mereka membawa pulang semua keping. Bagi orang awam, permainan itu tampak mendebarkan, penuh ketegangan, strategi, dan keberuntungan.
Tapi tunggu dulu. Bagaimana jika saya memberitahu Anda bahwa alas “koprok” dari baliho itu sendiri sudah dirancang sedemikian rupa sehingga, siapapun yang "menang" pada malam itu, bandar “koprok” tidak akan pernah benar-benar kalah? Bagaimana jika aturan mainnya, jumlah pemain yang diundang, bahkan penerangan lampu remang-remang, semuanya sudah diatur sebelumnya oleh segelintir orang yang tidak pernah terlihat medan laga “koprok” tersebut?
Inilah, secara metaforis, tawaran cara pandang G. William Domhoff tentang politik di Amerika Serikat, dan, seperti yang akan kita lihat, relevansinya merentang jauh ke jantung demokrasi di Indonesia. Selama lebih dari setengah abad, Domhoff, seorang sosiolog yang kini berstatus profesor emeritus di University of California, Santa Cruz, telah mendedikasikan hidupnya untuk membuktikan satu tesis yang provokatif: Bahwa di balik hiruk-pikuk kampanye, debat presiden, dan sidang kongres, ada segelintir orang, tepatnya pemilik dan manajer puncak korporasi besar, yang menjadi "figur dominan dalam masyarakat Amerika" (Domhoff, 2022, hlm. 1).
Jangan salah paham dulu. Domhoff bukanlah seorang konspirasionis yang membayangkan sekelompok orang tua a la Elder of Zion berkumpul di ruang bawah tanah sambil mengatur dunia. Argumennya jauh lebih canggih, lebih empiris, dan justru karena itu, lebih meresahkan. Ia adalah penerus paling setia dari tradisi "analisis struktur kekuasaan" yang dirintis oleh dua raksasa sosiologi abad ke-20: C. Wright Mills dan Floyd Hunter. Jika Mills, dalam The Power Elite (1956), memberikan potret provokatif tentang "segitiga kekuasaan" yang terdiri dari pemilik korporasi, panglima militer, dan direktur politik, maka Domhoff-lah yang datang dengan membawa kalkulator, data sensus, dan peta jejaring sosial untuk membuktikannya secara saintifik.
Tugas penulis kali ini bukan sekadar mengagumi atau mencerca. Melalui metode "riset struktur kekuasaan" (power structure research), kita akan diajak menyelami mekanisme detail bagaimana kelas atas korporat Amerika, Domhoff menyebut mereka sebagai "komunitas korporat" (the corporate community), telah berhasil membangun "jaringan perencana kebijakan" (policy-planning network), mempengaruhi opini publik, dan menyeleksi kandidat politik yang "aman" bagi kepentingan mereka. Mereka tidak berteriak dari podium; mereka berbisik di klub-klub eksklusif, rapat dewan yayasan, dan boardroom perusahaan. Inilah kekuasaan yang, meminjam istilah Robert J.S. Ross, bergerak secara "lambat" (slow power), tak terlihat, bertahap, namun sangat kokoh (Ross, 2017, hlm. x).
Kita akan memulai perjalanan ini dengan menyelami fondasi teori Domhoff: Hubungan antara kelas atas sosial, komunitas korporat, dan jaringan pembentuk kebijakan. Setelah itu, kita akan mengupas empat proses kekuasaan yang menjadi mesin utama dominasi kelas, serta bagaimana jaringan ini bekerja di berbagai arena, dari penyangkalan perubahan iklim hingga politik lokal. Pada bab terakhir, kita akan membawa teori ini ke Indonesia, mengujinya dalam realitas oligarki, dinasti politik, dan state capture yang semakin akut di era pasca-reformasi.
Tulisan ini ditulis dengan satu keyakinan: Untuk memperbaiki demokrasi, kita harus terlebih dahulu memahami dengan jujur bagaimana kekuasaan sesungguhnya bekerja. Sebab, seperti yang akan kita lihat, mengandalkan pemilu lima tahunan tanpa membongkar struktur kekuasaan di baliknya adalah seperti berharap menang di meja judi yang sudah dicurangi. Selamat membaca dan, terutama, selamat berpikir kritis. Wallahul muwaffiq ila aqwam al-thariq.
Tiga Pilar Dominasi Kelas
G. William Domhoff tidak pernah bermaksud menulis buku yang akan menjadi sensasi. Pada tahun 1967, sebagai seorang psikolog muda yang baru menyelesaikan studi tentang mimpi, ia menerbitkan Who Rules America?. Buku itu segera masuk daftar best-seller (#12) dan mengubah lanskap sosiologi politik Amerika secara fundamental. Apa yang membuatnya begitu menggetarkan? Bukan retorika atau ideologi, melainkan data.