Teori Kultivasi George Gerbner dan Politik Indonesia


Deskripsi

Pernahkah Anda merasa bahwa dunia di luar sana semakin berbahaya? Merasa was-was saat bepergian sendirian, curiga pada orang asing, atau percaya bahwa kejahatan mengintai di setiap sudut, meskipun data statistik menunjukkan bahwa tingkat kriminalitas sebenarnya menurun? Jika ya, Anda mungkin sedang mengalami apa yang oleh seorang profesor komunikasi asal Hungaria-Amerika, George Gerbner, disebut sebagai Mean World Syndrome, Sindrom Dunia Kejam. Ini adalah salah satu temuan paling penting dan meresahkan dari Teori Kultivasi (Cultivation Theory).

Jika Marshall McLuhan mengajarkan kita bahwa the medium is the message, maka Gerbner mengajak kita selangkah lebih maju dengan bertanya, “Apa isi pesan dominan yang diceritakan oleh medium tersebut, dan bagaimana cerita itu, ketika dikonsumsi terus-menerus, membentuk persepsi kita tentang realitas?” Bagi Gerbner, televisi bukan sekadar kotak ajaib yang menampilkan hiburan dan berita. Televisi, terutama konten dramatiknya, adalah agen sosialisasi utama masyarakat modern, sebuah sistem penceritaan terpusat yang menanamkan (cultivate) nilai-nilai, ideologi, dan pandangan dunia tertentu kepada para penontonnya secara perlahan, kumulatif, dan hampir tak terasa.

Teori Kultivasi lahir dari sebuah proyek penelitian ambisius bernama Cultural Indicators Project yang dimulai Gerbner dan koleganya di Annenberg School for Communication, University of Pennsylvania, pada akhir 1960-an. Proyek ini berangkat dari keprihatinan mendalam terhadap dampak kekerasan di televisi, namun dengan cepat berkembang menjadi sebuah kerangka analitis yang jauh lebih luas. Gerbner dan timnya berpendapat bahwa televisi telah menjadi "the most pervasive and constant learning system in society" (Gerbner, 1969, hlm. 138). Ia adalah sumber utama cerita yang kita konsumsi bersama, menggantikan peran keluarga, agama, dan sekolah dalam membentuk pemahaman kita tentang dunia.

Teori ini menawarkan pisau analisis yang sangat tajam untuk membedah lanskap politik Indonesia kontemporer. Di negeri ini, 


Konten

Teori Kultivasi George Gerbner dan Politik Indonesia

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Teori Kultivasi George Gerbner dan Politik Indonesia


Deskripsi

Pernahkah Anda merasa bahwa dunia di luar sana semakin berbahaya? Merasa was-was saat bepergian sendirian, curiga pada orang asing, atau percaya bahwa kejahatan mengintai di setiap sudut, meskipun data statistik menunjukkan bahwa tingkat kriminalitas sebenarnya menurun? Jika ya, Anda mungkin sedang mengalami apa yang oleh seorang profesor komunikasi asal Hungaria-Amerika, George Gerbner, disebut sebagai Mean World Syndrome, Sindrom Dunia Kejam. Ini adalah salah satu temuan paling penting dan meresahkan dari Teori Kultivasi (Cultivation Theory).

Jika Marshall McLuhan mengajarkan kita bahwa the medium is the message, maka Gerbner mengajak kita selangkah lebih maju dengan bertanya, “Apa isi pesan dominan yang diceritakan oleh medium tersebut, dan bagaimana cerita itu, ketika dikonsumsi terus-menerus, membentuk persepsi kita tentang realitas?” Bagi Gerbner, televisi bukan sekadar kotak ajaib yang menampilkan hiburan dan berita. Televisi, terutama konten dramatiknya, adalah agen sosialisasi utama masyarakat modern, sebuah sistem penceritaan terpusat yang menanamkan (cultivate) nilai-nilai, ideologi, dan pandangan dunia tertentu kepada para penontonnya secara perlahan, kumulatif, dan hampir tak terasa.

Teori Kultivasi lahir dari sebuah proyek penelitian ambisius bernama Cultural Indicators Project yang dimulai Gerbner dan koleganya di Annenberg School for Communication, University of Pennsylvania, pada akhir 1960-an. Proyek ini berangkat dari keprihatinan mendalam terhadap dampak kekerasan di televisi, namun dengan cepat berkembang menjadi sebuah kerangka analitis yang jauh lebih luas. Gerbner dan timnya berpendapat bahwa televisi telah menjadi "the most pervasive and constant learning system in society" (Gerbner, 1969, hlm. 138). Ia adalah sumber utama cerita yang kita konsumsi bersama, menggantikan peran keluarga, agama, dan sekolah dalam membentuk pemahaman kita tentang dunia.

Teori ini menawarkan pisau analisis yang sangat tajam untuk membedah lanskap politik Indonesia kontemporer. Di negeri ini, 


Konten

Teori Kultivasi George Gerbner dan Politik Indonesia