Teori Medium sebagai Pesan Marshall McLuhan


Deskripsi

Pernahkah Anda merasa bahwa cara Anda membaca berita, entah lewat derasnya linimasa Twitter, potongan video pendek TikTok, atau siaran berita televisi yang rapi, jauh lebih memengaruhi perasaan dan opini Anda daripada isi berita itu sendiri? Pernahkah Anda bertanya, mengapa sosok yang sama bisa tampak karismatik di satu platform dan kaku di platform lain, meskipun gagasan yang disampaikan serupa? Jika ya, tanpa sadar Anda sedang menyelami pertanyaan besar yang diajukan oleh seorang profesor sastra Inggris asal Kanada yang nyentrik, Herbert Marshall McLuhan.

Pada tahun 1964, McLuhan mengguncang dunia dengan bukunya yang revolusioner, Understanding Media: The Extensions of Man. Di tengah euforia masyarakat yang terpukau oleh konten dan pesan media, McLuhan justru melemparkan sebuah pernyataan yang membingungkan sekaligus provokatif: “The medium is the message.” Medium adalah pesan. Kalimat pendek ini bukan sekadar aforisme cerdas. Ia adalah kunci untuk memahami bagaimana teknologi komunikasi, dari cetakan, radio, televisi, hingga internet dan media sosial, membentuk peradaban manusia secara fundamental.

McLuhan mengajak kita untuk mengalihkan perhatian dari “isi” yang tampak di permukaan menuju “medium” itu sendiri. Baginya, yang benar-benar mengubah skala, pola, dan bentuk hubungan antarmanusia bukanlah konten yang disampaikan, melainkan karakteristik alami dari media yang digunakan untuk menyampaikannya. Sebagaimana ditulisnya, pesan sejati dari sebuah medium adalah “the change of scale or pace or pattern that it introduces into human affairs” (McLuhan, 1964, hlm. 8). Artinya, pesan sesungguhnya adalah perubahan struktural yang diam-diam terjadi dalam kehidupan kita akibat kehadiran sebuah teknologi baru. Sebuah bola lampu tidak memiliki “isi” seperti surat kabar, tetapi kehadirannya telah 


Konten

Teori Medium sebagai Pesan Marshall McLuhan

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Teori Medium sebagai Pesan Marshall McLuhan


Deskripsi

Pernahkah Anda merasa bahwa cara Anda membaca berita, entah lewat derasnya linimasa Twitter, potongan video pendek TikTok, atau siaran berita televisi yang rapi, jauh lebih memengaruhi perasaan dan opini Anda daripada isi berita itu sendiri? Pernahkah Anda bertanya, mengapa sosok yang sama bisa tampak karismatik di satu platform dan kaku di platform lain, meskipun gagasan yang disampaikan serupa? Jika ya, tanpa sadar Anda sedang menyelami pertanyaan besar yang diajukan oleh seorang profesor sastra Inggris asal Kanada yang nyentrik, Herbert Marshall McLuhan.

Pada tahun 1964, McLuhan mengguncang dunia dengan bukunya yang revolusioner, Understanding Media: The Extensions of Man. Di tengah euforia masyarakat yang terpukau oleh konten dan pesan media, McLuhan justru melemparkan sebuah pernyataan yang membingungkan sekaligus provokatif: “The medium is the message.” Medium adalah pesan. Kalimat pendek ini bukan sekadar aforisme cerdas. Ia adalah kunci untuk memahami bagaimana teknologi komunikasi, dari cetakan, radio, televisi, hingga internet dan media sosial, membentuk peradaban manusia secara fundamental.

McLuhan mengajak kita untuk mengalihkan perhatian dari “isi” yang tampak di permukaan menuju “medium” itu sendiri. Baginya, yang benar-benar mengubah skala, pola, dan bentuk hubungan antarmanusia bukanlah konten yang disampaikan, melainkan karakteristik alami dari media yang digunakan untuk menyampaikannya. Sebagaimana ditulisnya, pesan sejati dari sebuah medium adalah “the change of scale or pace or pattern that it introduces into human affairs” (McLuhan, 1964, hlm. 8). Artinya, pesan sesungguhnya adalah perubahan struktural yang diam-diam terjadi dalam kehidupan kita akibat kehadiran sebuah teknologi baru. Sebuah bola lampu tidak memiliki “isi” seperti surat kabar, tetapi kehadirannya telah 


Konten

Teori Medium sebagai Pesan Marshall McLuhan