Di era yang serba cepat ini, kita adalah saksi dari sebuah dinamika tanpa henti. Setiap hari, kita mendengar kisah tentang seorang anak petani yang berhasil menjadi sarjana dan bekerja di perusahaan multinasional, atau sebaliknya, tentang seorang pengusaha sukses yang jatuh bangkrut. Kita juga mungkin mengenal seseorang yang pindah keyakinan, atau yang memutuskan untuk pindah kewarganegaraan demi kehidupan yang dianggap lebih baik. Semua fenomena ini, pada hakikatnya, adalah potret dari satu konsep inti dalam sosiologi: Mobilitas sosial.
Konsep ini bukanlah sekadar istilah akademis yang kaku. Ia adalah nadi yang mengalir dalam tubuh masyarakat, yang menentukan seberapa dinamis atau kaku sebuah tatanan sosial. Untuk benar-benar memahami irama dan alur pergerakan ini, kita perlu kembali ke gagasan salah seorang peletak fondasinya, seorang pemikir brilian yang karya monumentalnya hingga kini masih relevan, bahkan terasa semakin menemukan konteksnya: Pitirim A. Sorokin.
Sosiolog asal Rusia-Amerika ini bukanlah sekadar ilmuwan "zaman dulu" yang teorinya berdebu di rak perpustakaan. Sorokin adalah seorang visioner yang meletakkan dasar-dasar analitis untuk membedah bagaimana dan mengapa manusia, dan juga objek sosial, bergerak dalam ruang sosial. Dalam karya magnum opus-nya, Social Mobility (1927), ia tidak hanya mendefinisikan mobilitas sosial, tetapi juga meramalkan pola-pola pergerakan yang kini kita saksikan dalam skala global.
Tulisan ini mengajak Anda, untuk menyelami lautan pemikiran Sorokin. Kita akan membedah konsep mobilitas vertikal dan horizontal, menjelajahi "saluran-saluran" yang menjadi tangga atau eskalator sosial, dan yang paling penting, menguji kesaktian teori ini dalam menghadapi realitas kompleks abad ke-21. Dari riuhnya platform ekonomi digital hingga isu ketimpangan akses pendidikan di pelosok Indonesia, dari janji manis meritokrasi hingga bayang-bayang "pseudo-meritokrasi", kita akan melihat bagaimana lensa Sorokin membantu kita melihat masalah klasik dengan cara yang baru. Mari kita mulai perjalanan intelektual ini.
Pitirim A. Sorokin
Untuk memahami gagasan, kita perlu mengenal sang pemikir. Pitirim Alexandrovich Sorokin bukanlah sosiolog yang lahir dari kenyamanan ruang kuliah. Ia lahir pada 1889 di sebuah desa terpencil di Rusia Utara, dari keluarga petani sederhana. Kehidupannya adalah sebuah kisah mobilitas sosial vertikal yang dramatis.
Sorokin muda adalah seorang aktivis politik yang menentang rezim Tsar, beberapa kali dipenjara, tetapi kemudian menjadi sekretaris Perdana Menteri Alexander Kerensky dalam pemerintahan Rusia pasca-revolusi. Namun, revolusi Oktober 1917 yang membawa Bolshevik ke tampuk kekuasaan membuatnya menjadi buronan. Ia dijatuhi hukuman mati, namun berhasil melarikan diri dan akhirnya diasingkan dari Uni Soviet pada 1922 (Mangone, 2018, hlm. 5).
Di era yang serba cepat ini, kita adalah saksi dari sebuah dinamika tanpa henti. Setiap hari, kita mendengar kisah tentang seorang anak petani yang berhasil menjadi sarjana dan bekerja di perusahaan multinasional, atau sebaliknya, tentang seorang pengusaha sukses yang jatuh bangkrut. Kita juga mungkin mengenal seseorang yang pindah keyakinan, atau yang memutuskan untuk pindah kewarganegaraan demi kehidupan yang dianggap lebih baik. Semua fenomena ini, pada hakikatnya, adalah potret dari satu konsep inti dalam sosiologi: Mobilitas sosial.
Konsep ini bukanlah sekadar istilah akademis yang kaku. Ia adalah nadi yang mengalir dalam tubuh masyarakat, yang menentukan seberapa dinamis atau kaku sebuah tatanan sosial. Untuk benar-benar memahami irama dan alur pergerakan ini, kita perlu kembali ke gagasan salah seorang peletak fondasinya, seorang pemikir brilian yang karya monumentalnya hingga kini masih relevan, bahkan terasa semakin menemukan konteksnya: Pitirim A. Sorokin.
Sosiolog asal Rusia-Amerika ini bukanlah sekadar ilmuwan "zaman dulu" yang teorinya berdebu di rak perpustakaan. Sorokin adalah seorang visioner yang meletakkan dasar-dasar analitis untuk membedah bagaimana dan mengapa manusia, dan juga objek sosial, bergerak dalam ruang sosial. Dalam karya magnum opus-nya, Social Mobility (1927), ia tidak hanya mendefinisikan mobilitas sosial, tetapi juga meramalkan pola-pola pergerakan yang kini kita saksikan dalam skala global.
Tulisan ini mengajak Anda, untuk menyelami lautan pemikiran Sorokin. Kita akan membedah konsep mobilitas vertikal dan horizontal, menjelajahi "saluran-saluran" yang menjadi tangga atau eskalator sosial, dan yang paling penting, menguji kesaktian teori ini dalam menghadapi realitas kompleks abad ke-21. Dari riuhnya platform ekonomi digital hingga isu ketimpangan akses pendidikan di pelosok Indonesia, dari janji manis meritokrasi hingga bayang-bayang "pseudo-meritokrasi", kita akan melihat bagaimana lensa Sorokin membantu kita melihat masalah klasik dengan cara yang baru. Mari kita mulai perjalanan intelektual ini.
Pitirim A. Sorokin
Untuk memahami gagasan, kita perlu mengenal sang pemikir. Pitirim Alexandrovich Sorokin bukanlah sosiolog yang lahir dari kenyamanan ruang kuliah. Ia lahir pada 1889 di sebuah desa terpencil di Rusia Utara, dari keluarga petani sederhana. Kehidupannya adalah sebuah kisah mobilitas sosial vertikal yang dramatis.
Sorokin muda adalah seorang aktivis politik yang menentang rezim Tsar, beberapa kali dipenjara, tetapi kemudian menjadi sekretaris Perdana Menteri Alexander Kerensky dalam pemerintahan Rusia pasca-revolusi. Namun, revolusi Oktober 1917 yang membawa Bolshevik ke tampuk kekuasaan membuatnya menjadi buronan. Ia dijatuhi hukuman mati, namun berhasil melarikan diri dan akhirnya diasingkan dari Uni Soviet pada 1922 (Mangone, 2018, hlm. 5).