Teori Pembangunan Sosial James Midgley dan Politik Indonesia


Deskripsi

Penulis hendak mengkaji teori pembangunan sosial yang digagas oleh James Midgley, seorang pemikir terkemuka di bidang kesejahteraan sosial, serta relevansinya bagi panggung politik Indonesia. Pembangunan sosial, sebagaimana didefinisikan oleh Midgley, adalah sebuah proses perubahan sosial terencana yang dirancang untuk memajukan kesejahteraan seluruh penduduk, berjalan beriringan secara harmonis dengan proses pembangunan ekonomi yang dinamis. 

Tulisan ini mengurai pokok-pokok pikiran utama sang teori, yang mencakup integrasi kebijakan ekonomi dan sosial, peran negara (statisme), investasi sosial, serta kemitraan multipihak. Inti dari pendekatan ini adalah tawaran "jalan tengah" yang elegan: Mendamaikan pertumbuhan ekonomi yang seringkali elitis dengan pemerataan hasilnya secara inklusif, sebuah paradigma yang melampaui perdebatan usang antara penganut pasar bebas dan penggila intervensi negara.

Selanjutnya, tulisan ini hendak membedah bagaimana resep Midgley tersebut diterapkan, atau tepatnya, diuji, dalam realitas politik dan kebijakan sosial di Indonesia. Analisis menyoroti sejumlah program nasional seperti Program Keluarga Harapan (PKH), berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat, serta kebijakan afirmatif untuk penyandang disabilitas. 

Dengan menghubungkan praktik di lapangan dengan kerangka konseptual sang profesor dari Berkeley, tulisan ini menemukan sebuah ironi yang mencolok: Alih-alih terwujud sebagai strategi holistik yang terintegrasi, kebijakan-kebijakan tersebut lebih tampak sebagai "pulau-pulau" pembangunan sosial di tengah "lautan" ortodoksi pertumbuhan ekonomi. 

Akibatnya, visi Midgley tentang sinergi antara ekonomi dan kesejahteraan masih kerap terdistorsi oleh dominasi logika ekonomi yang parsial. Pada akhirnya, tulisan ini menyimpulkan bahwa untuk keluar dari jebakan "pembangunan yang gagal" (distorted development), transformasi paradigma politik secara fundamental mutlak diperlukan, menempatkan kesejahteraan manusia sebagai tujuan akhir, bukan sekadar efek samping dari pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan Belum Tentu Pemerataan

Pernahkah kita merenungkan sejenak: Untuk apa sesungguhnya pembangunan itu? Selama puluhan tahun, jawaban atas pertanyaan tersebut nyaris tunggal dan seragam, terutama dari para teknokrat dan pengambil kebijakan: Pembangunan adalah soal pertumbuhan ekonomi. Selama Produk Domestik Bruto (PDB) meroket, investasi asing mengalir deras, dan gedung-gedung pencakar langit menjamur, kita semua diyakinkan bahwa "kue" kemakmuran akan menetes dengan sendirinya ke seluruh lapisan masyarakat. Teori "efek tetesan ke bawah" (trickle-down effect) ini begitu menggoda karena sederhana dan melegakan: Kita hanya perlu fokus menumbuhkan kue, dan pada saatnya, remah-remahnya akan cukup untuk semua orang.


Konten

Teori Pembangunan Sosial James Midgley dan Politik Indonesia

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Teori Pembangunan Sosial James Midgley dan Politik Indonesia


Deskripsi

Penulis hendak mengkaji teori pembangunan sosial yang digagas oleh James Midgley, seorang pemikir terkemuka di bidang kesejahteraan sosial, serta relevansinya bagi panggung politik Indonesia. Pembangunan sosial, sebagaimana didefinisikan oleh Midgley, adalah sebuah proses perubahan sosial terencana yang dirancang untuk memajukan kesejahteraan seluruh penduduk, berjalan beriringan secara harmonis dengan proses pembangunan ekonomi yang dinamis. 

Tulisan ini mengurai pokok-pokok pikiran utama sang teori, yang mencakup integrasi kebijakan ekonomi dan sosial, peran negara (statisme), investasi sosial, serta kemitraan multipihak. Inti dari pendekatan ini adalah tawaran "jalan tengah" yang elegan: Mendamaikan pertumbuhan ekonomi yang seringkali elitis dengan pemerataan hasilnya secara inklusif, sebuah paradigma yang melampaui perdebatan usang antara penganut pasar bebas dan penggila intervensi negara.

Selanjutnya, tulisan ini hendak membedah bagaimana resep Midgley tersebut diterapkan, atau tepatnya, diuji, dalam realitas politik dan kebijakan sosial di Indonesia. Analisis menyoroti sejumlah program nasional seperti Program Keluarga Harapan (PKH), berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat, serta kebijakan afirmatif untuk penyandang disabilitas. 

Dengan menghubungkan praktik di lapangan dengan kerangka konseptual sang profesor dari Berkeley, tulisan ini menemukan sebuah ironi yang mencolok: Alih-alih terwujud sebagai strategi holistik yang terintegrasi, kebijakan-kebijakan tersebut lebih tampak sebagai "pulau-pulau" pembangunan sosial di tengah "lautan" ortodoksi pertumbuhan ekonomi. 

Akibatnya, visi Midgley tentang sinergi antara ekonomi dan kesejahteraan masih kerap terdistorsi oleh dominasi logika ekonomi yang parsial. Pada akhirnya, tulisan ini menyimpulkan bahwa untuk keluar dari jebakan "pembangunan yang gagal" (distorted development), transformasi paradigma politik secara fundamental mutlak diperlukan, menempatkan kesejahteraan manusia sebagai tujuan akhir, bukan sekadar efek samping dari pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan Belum Tentu Pemerataan

Pernahkah kita merenungkan sejenak: Untuk apa sesungguhnya pembangunan itu? Selama puluhan tahun, jawaban atas pertanyaan tersebut nyaris tunggal dan seragam, terutama dari para teknokrat dan pengambil kebijakan: Pembangunan adalah soal pertumbuhan ekonomi. Selama Produk Domestik Bruto (PDB) meroket, investasi asing mengalir deras, dan gedung-gedung pencakar langit menjamur, kita semua diyakinkan bahwa "kue" kemakmuran akan menetes dengan sendirinya ke seluruh lapisan masyarakat. Teori "efek tetesan ke bawah" (trickle-down effect) ini begitu menggoda karena sederhana dan melegakan: Kita hanya perlu fokus menumbuhkan kue, dan pada saatnya, remah-remahnya akan cukup untuk semua orang.


Konten

Teori Pembangunan Sosial James Midgley dan Politik Indonesia