Tulisan ini lahir dari kegelisahan yang mendalam: Sudah terlalu lama kita membicarakan krisis lingkungan sebagai masalah teknis semata, karbon, emisi, polusi, kepunahan spesies, tanpa menyadari bahwa krisis ini, pada akarnya, adalah krisis tentang siapa yang kita anggap penting di muka bumi.
Sudah terlalu lama pula kita, umat Islam, melupakan bahwa Al-Qur'an sendiri menggambarkan alam semesta bukan sebagai latar bisu bagi drama manusia, melainkan sebagai komunitas makhluk yang sama-sama bertasbih, bersujud, dan berinteraksi dengan Sang Pencipta. Burung-burung, gunung-gunung, sungai-sungai, bahkan benda-benda yang kita anggap mati, semuanya adalah partisipan dalam satu jaringan kehidupan yang oleh para filsuf kontemporer disebut "lebih-dari-manusia" (more-than-human).
Tulisan ini akan menemani Anda, para mahasiswa dan pembaca umum, menyelami arus pemikiran ekoteologi Muslim kontemporer yang berani menantang arus utama: Bahwa manusia bukanlah satu-satunya subjek yang bertindak, bahwa sungai dan tanah bukanlah objek pasif yang bisa dikuasai sesuka hati. Kita akan berdialog dengan dua sarjana yang pemikiran mereka layaknya oase dan gunung: Anna M. Gade yang merumuskan "Muslim Environmentalisms" sebagai jembatan antara tradisi etika Islam dan krisis iklim global, dan Safouan Azouzi yang turun langsung ke oasis-oasis Tunisia untuk menyaksikan bagaimana kapitalisme ekstraktif merampas air, tanah, dan martabat komunitas setempat. Kita juga akan mengurai "Al-Mizan: A Covenant for the Earth," sebuah dokumen bersejarah yang dengan lantang menyatakan bahwa perusakan ekosistem adalah ecocide , kejahatan setara genosida.
Semua pembahasan ini akan kita ikat dalam satu kerangka teoretis yang mungkin terdengar asing di telinga kita: Politik more-than-human, politik yang mengakui bahwa aktor politik bukan hanya manusia, melainkan juga gunung yang menahan longsor, bakteri yang mengurai sampah, dan algoritma yang membentuk opini kita tentang lingkungan. Kerangka ini akan kita uji dalam realitas politik pahit kontemporer: Dari bendungan raksasa di Sungai Nil yang mempertaruhkan jutaan nyawa, hingga paradoks Indonesia yang memuliakan bumi dalam khotbah Jumat tetapi juga membakar batu bara tanpa henti.
Penulis menyusun tulisan ini sebagai undangan untuk "membumikan", bukan sekadar mempelajari teori di ruang kuliah, tetapi sungguh-sungguh merasakan bagaimana gagasan-gagasan ini bisa menyentuh kenyataan hidup umat Islam yang sehari-hari bergulat dengan tanah yang mengering, air yang tercemar, dan udara yang sesak. Inilah ekoteologi Muslim yang hidup dan berdetak. Kepada para pembaca, selamat menunaikan perjalanan. Semoga Allah membukakan mata hati kita untuk melihat-Nya tidak hanya di atas sajadah, tetapi juga di antara rerumputan dan aliran sungai. Wallahul musta'an.
Landasan Teori
Coba bayangkan situasi ini sejenak. Suatu pagi di bulan Januari 2020, kota Wuhan di Tiongkok tiba-tiba menjadi sunyi. Jalan-jalan yang biasanya padat tiba-tiba lengang. Pabrik-pabrik berhenti beroperasi. Dan seluruh dunia panik bukan karena ancaman rudal atau invasi militer, melainkan karena sebuah entitas biologis berukuran 120 nanometer yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang: Virus SARS-CoV-2. Hanya dalam hitungan bulan, "makhluk" yang bahkan tidak memenuhi syarat sebagai makhluk hidup ini menumbangkan ekonomi global, memporak-porandakan sistem kesehatan negara-negara adidaya, dan mengubah secara fundamental cara kita berinteraksi sebagai manusia. Pertanyaannya: siapakah yang "bertindak" dalam peristiwa ini?
Pertanyaan yang sama dapat kita ajukan kepada bencana-bencana kontemporer lainnya. Ketika banjir merendam Jakarta pada tahun 2020 dan membuat lebih dari 60.000 orang mengungsi, siapakah aktor utamanya?
Tulisan ini lahir dari kegelisahan yang mendalam: Sudah terlalu lama kita membicarakan krisis lingkungan sebagai masalah teknis semata, karbon, emisi, polusi, kepunahan spesies, tanpa menyadari bahwa krisis ini, pada akarnya, adalah krisis tentang siapa yang kita anggap penting di muka bumi.
Sudah terlalu lama pula kita, umat Islam, melupakan bahwa Al-Qur'an sendiri menggambarkan alam semesta bukan sebagai latar bisu bagi drama manusia, melainkan sebagai komunitas makhluk yang sama-sama bertasbih, bersujud, dan berinteraksi dengan Sang Pencipta. Burung-burung, gunung-gunung, sungai-sungai, bahkan benda-benda yang kita anggap mati, semuanya adalah partisipan dalam satu jaringan kehidupan yang oleh para filsuf kontemporer disebut "lebih-dari-manusia" (more-than-human).
Tulisan ini akan menemani Anda, para mahasiswa dan pembaca umum, menyelami arus pemikiran ekoteologi Muslim kontemporer yang berani menantang arus utama: Bahwa manusia bukanlah satu-satunya subjek yang bertindak, bahwa sungai dan tanah bukanlah objek pasif yang bisa dikuasai sesuka hati. Kita akan berdialog dengan dua sarjana yang pemikiran mereka layaknya oase dan gunung: Anna M. Gade yang merumuskan "Muslim Environmentalisms" sebagai jembatan antara tradisi etika Islam dan krisis iklim global, dan Safouan Azouzi yang turun langsung ke oasis-oasis Tunisia untuk menyaksikan bagaimana kapitalisme ekstraktif merampas air, tanah, dan martabat komunitas setempat. Kita juga akan mengurai "Al-Mizan: A Covenant for the Earth," sebuah dokumen bersejarah yang dengan lantang menyatakan bahwa perusakan ekosistem adalah ecocide , kejahatan setara genosida.
Semua pembahasan ini akan kita ikat dalam satu kerangka teoretis yang mungkin terdengar asing di telinga kita: Politik more-than-human, politik yang mengakui bahwa aktor politik bukan hanya manusia, melainkan juga gunung yang menahan longsor, bakteri yang mengurai sampah, dan algoritma yang membentuk opini kita tentang lingkungan. Kerangka ini akan kita uji dalam realitas politik pahit kontemporer: Dari bendungan raksasa di Sungai Nil yang mempertaruhkan jutaan nyawa, hingga paradoks Indonesia yang memuliakan bumi dalam khotbah Jumat tetapi juga membakar batu bara tanpa henti.
Penulis menyusun tulisan ini sebagai undangan untuk "membumikan", bukan sekadar mempelajari teori di ruang kuliah, tetapi sungguh-sungguh merasakan bagaimana gagasan-gagasan ini bisa menyentuh kenyataan hidup umat Islam yang sehari-hari bergulat dengan tanah yang mengering, air yang tercemar, dan udara yang sesak. Inilah ekoteologi Muslim yang hidup dan berdetak. Kepada para pembaca, selamat menunaikan perjalanan. Semoga Allah membukakan mata hati kita untuk melihat-Nya tidak hanya di atas sajadah, tetapi juga di antara rerumputan dan aliran sungai. Wallahul musta'an.
Landasan Teori
Coba bayangkan situasi ini sejenak. Suatu pagi di bulan Januari 2020, kota Wuhan di Tiongkok tiba-tiba menjadi sunyi. Jalan-jalan yang biasanya padat tiba-tiba lengang. Pabrik-pabrik berhenti beroperasi. Dan seluruh dunia panik bukan karena ancaman rudal atau invasi militer, melainkan karena sebuah entitas biologis berukuran 120 nanometer yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang: Virus SARS-CoV-2. Hanya dalam hitungan bulan, "makhluk" yang bahkan tidak memenuhi syarat sebagai makhluk hidup ini menumbangkan ekonomi global, memporak-porandakan sistem kesehatan negara-negara adidaya, dan mengubah secara fundamental cara kita berinteraksi sebagai manusia. Pertanyaannya: siapakah yang "bertindak" dalam peristiwa ini?
Pertanyaan yang sama dapat kita ajukan kepada bencana-bencana kontemporer lainnya. Ketika banjir merendam Jakarta pada tahun 2020 dan membuat lebih dari 60.000 orang mengungsi, siapakah aktor utamanya?