Pada suatu senja musim panas tahun 431 Sebelum Masehi, armada Athena berlayar menuju Peloponnesos. Tidak ada yang menyangka bahwa pertikaian antara dua polis Yunani itu akan berkembang menjadi perang dahsyat yang berlangsung hampir tiga puluh tahun, menghancurkan peradaban yang telah dibangun selama berabad-abad. Sekitar 2.400 tahun kemudian, sejarawan Thucydides menuliskan refleksi abadi tentang malapetaka itu, "Adalah bangkitnya kekuasaan Athena dan ketakutan yang ditimbulkannya di Sparta yang membuat perang tak terelakkan" (Allison, 2017, hlm. 3).
Pernyataan Thucydides ini menjadi fondasi bagi generasi pemikir hubungan internasional yang bertanya, “mengapa perang besar terjadi?” Apakah perang merupakan kecelakaan sejarah yang bisa dihindari, ataukah ia adalah keniscayaan struktural yang lahir dari dinamika kekuasaan antarnegara? Pertanyaan inilah yang menjadi jantung dari Teori Transisi Kekuasaan dan Hegemoni.
Dalam dunia yang kita huni saat ini, pertanyaan itu kembali mendesak. Tiongkok bangkit dengan kecepatan yang belum pernah disaksikan dalam sejarah modern. Pada 2001, produk domestik bruto Tiongkok baru sekitar seperdelapan Amerika Serikat; pada 2024, ia telah mencapai lebih dari dua pertiga. Armada laut Tiongkok kini menjadi yang terbesar di dunia dalam jumlah kapal. Sementara itu, Rusia menginvasi Ukraina pada 2022, menantang tatanan keamanan Eropa yang telah dibangun sejak Perang Dingin berakhir. Perang di Gaza dan Lebanon mengobarkan ketegangan di Timur Tengah. Dunia seolah bergerak menuju titik didih.
Apakah kita sedang menyaksikan pengulangan pola Thucydides? Apakah kebangkitan Tiongkok dan perlawanan Rusia merupakan sinyal bahwa perang besar antara rising power dan status quo power akan segera meletus? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu menelusuri pemikiran tiga tokoh besar: A.F.K. Organski, Robert Gilpin, dan John J. Mearsheimer. Ketiganya menawarkan lensa teoretis yang berbeda untuk memahami hubungan antara transisi kekuasaan, hegemoni, dan perang.
Paparan selanjutnya akan mengupas secara mendalam pemikiran masing-masing tokoh, dimulai dari biografi singkat dan fondasi teoretis, dilanjutkan dengan penjelasan kerangka analitis mereka, dan diakhiri dengan evaluasi kritis terhadap relevansinya di tengah dinamika politik internasional masa kini. Kita akan melihat bahwa meskipun ketiganya berakar pada tradisi realis dan memberikan peringatan serius tentang bahaya transisi kekuasaan, mereka berbeda dalam memahami seberapa besar ruang yang tersedia bagi diplomasi, kerja sama, dan harapan.
Pada suatu senja musim panas tahun 431 Sebelum Masehi, armada Athena berlayar menuju Peloponnesos. Tidak ada yang menyangka bahwa pertikaian antara dua polis Yunani itu akan berkembang menjadi perang dahsyat yang berlangsung hampir tiga puluh tahun, menghancurkan peradaban yang telah dibangun selama berabad-abad. Sekitar 2.400 tahun kemudian, sejarawan Thucydides menuliskan refleksi abadi tentang malapetaka itu, "Adalah bangkitnya kekuasaan Athena dan ketakutan yang ditimbulkannya di Sparta yang membuat perang tak terelakkan" (Allison, 2017, hlm. 3).
Pernyataan Thucydides ini menjadi fondasi bagi generasi pemikir hubungan internasional yang bertanya, “mengapa perang besar terjadi?” Apakah perang merupakan kecelakaan sejarah yang bisa dihindari, ataukah ia adalah keniscayaan struktural yang lahir dari dinamika kekuasaan antarnegara? Pertanyaan inilah yang menjadi jantung dari Teori Transisi Kekuasaan dan Hegemoni.
Dalam dunia yang kita huni saat ini, pertanyaan itu kembali mendesak. Tiongkok bangkit dengan kecepatan yang belum pernah disaksikan dalam sejarah modern. Pada 2001, produk domestik bruto Tiongkok baru sekitar seperdelapan Amerika Serikat; pada 2024, ia telah mencapai lebih dari dua pertiga. Armada laut Tiongkok kini menjadi yang terbesar di dunia dalam jumlah kapal. Sementara itu, Rusia menginvasi Ukraina pada 2022, menantang tatanan keamanan Eropa yang telah dibangun sejak Perang Dingin berakhir. Perang di Gaza dan Lebanon mengobarkan ketegangan di Timur Tengah. Dunia seolah bergerak menuju titik didih.
Apakah kita sedang menyaksikan pengulangan pola Thucydides? Apakah kebangkitan Tiongkok dan perlawanan Rusia merupakan sinyal bahwa perang besar antara rising power dan status quo power akan segera meletus? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu menelusuri pemikiran tiga tokoh besar: A.F.K. Organski, Robert Gilpin, dan John J. Mearsheimer. Ketiganya menawarkan lensa teoretis yang berbeda untuk memahami hubungan antara transisi kekuasaan, hegemoni, dan perang.
Paparan selanjutnya akan mengupas secara mendalam pemikiran masing-masing tokoh, dimulai dari biografi singkat dan fondasi teoretis, dilanjutkan dengan penjelasan kerangka analitis mereka, dan diakhiri dengan evaluasi kritis terhadap relevansinya di tengah dinamika politik internasional masa kini. Kita akan melihat bahwa meskipun ketiganya berakar pada tradisi realis dan memberikan peringatan serius tentang bahaya transisi kekuasaan, mereka berbeda dalam memahami seberapa besar ruang yang tersedia bagi diplomasi, kerja sama, dan harapan.