Semua bermula pada hari Rabu yang cerah di Washington D.C., tepatnya pukul 03.47 dini hari. Di dalam toilet pribadi Ruang Oval, yang konon dilapisi emas 24 karat hingga ke gagang sikatnya, Donald J. Trump sedang duduk di singgasananya yang lebih sederhana, sebuah iPhone 17 Pro Max edisi terbatas berwarna "Patriotic Gold".
Ia baru saja menyantap dua Big Mac dan satu McFlurry rasa karamel asin yang menurut dokter pribadinya "sama sehatnya dengan triathlon." Kini, dengan jemari yang masih sedikit berminyak, ia berselancar di aplikasi Truth Social sembari sesekali mendengus.
Scroll. Scroll. Scroll.
"Lihat ini," gerutunya pada bayangannya sendiri di ubin marmer yang mengilap. "Orang-orang mengatakan saya jenius. SANGAT jenius. Tapi ada yang bilang... rambut saya tidak seindah dulu?!"
Ia berhenti di sebuah video. Di layar, Kanselir Jerman yang baru terpilih, Friedrich Merz, seorang pria berkacamata dengan wajah yang seolah berkata "Saya minum teh chamomile dan menikmati laporan kuartalan", sedang berpidato di Bundestag. Teks terjemahan berjalan di bawahnya:
"...dan Jerman TIDAK boleh tinggal diam melihat agresi militer yang tidak proporsional di Iran. Intervensi ini, "
Trump memencet tombol jeda. Matanya menyipit seperti elang botak yang baru sadar sarangnya disewakan Airbnb.
"Apa katanya?! Agresi militer tidak... pro-por-si-o-nal?!"
Kata itu membuat keningnya berkerut dalam-dalam, menghasilkan lekukan-lekukan yang mengingatkan pada topografi Grand Canyon jika Grand Canyon dipenuhi foundation oranye.
"TIDAK PROPORSIONAL?!" ulangnya, kali ini lebih keras, hingga seorang agen Secret Service di luar pintu bergerak refleks memegang senjatanya sebelum menyadari suara itu adalah rutinitas dini hari yang normal.
Di rumah dinas Kanselir di Berlin, delapan jam kemudian, Friedrich Merz sedang sarapan. Menu: satu telur rebus, dua potong roti gandum utuh dengan keju quark, dan satu apel yang diiris tipis-tipis setipis toleransinya terhadap kebijakan luar negeri yang gegabah.
Semua bermula pada hari Rabu yang cerah di Washington D.C., tepatnya pukul 03.47 dini hari. Di dalam toilet pribadi Ruang Oval, yang konon dilapisi emas 24 karat hingga ke gagang sikatnya, Donald J. Trump sedang duduk di singgasananya yang lebih sederhana, sebuah iPhone 17 Pro Max edisi terbatas berwarna "Patriotic Gold".
Ia baru saja menyantap dua Big Mac dan satu McFlurry rasa karamel asin yang menurut dokter pribadinya "sama sehatnya dengan triathlon." Kini, dengan jemari yang masih sedikit berminyak, ia berselancar di aplikasi Truth Social sembari sesekali mendengus.
Scroll. Scroll. Scroll.
"Lihat ini," gerutunya pada bayangannya sendiri di ubin marmer yang mengilap. "Orang-orang mengatakan saya jenius. SANGAT jenius. Tapi ada yang bilang... rambut saya tidak seindah dulu?!"
Ia berhenti di sebuah video. Di layar, Kanselir Jerman yang baru terpilih, Friedrich Merz, seorang pria berkacamata dengan wajah yang seolah berkata "Saya minum teh chamomile dan menikmati laporan kuartalan", sedang berpidato di Bundestag. Teks terjemahan berjalan di bawahnya:
"...dan Jerman TIDAK boleh tinggal diam melihat agresi militer yang tidak proporsional di Iran. Intervensi ini, "
Trump memencet tombol jeda. Matanya menyipit seperti elang botak yang baru sadar sarangnya disewakan Airbnb.
"Apa katanya?! Agresi militer tidak... pro-por-si-o-nal?!"
Kata itu membuat keningnya berkerut dalam-dalam, menghasilkan lekukan-lekukan yang mengingatkan pada topografi Grand Canyon jika Grand Canyon dipenuhi foundation oranye.
"TIDAK PROPORSIONAL?!" ulangnya, kali ini lebih keras, hingga seorang agen Secret Service di luar pintu bergerak refleks memegang senjatanya sebelum menyadari suara itu adalah rutinitas dini hari yang normal.
Di rumah dinas Kanselir di Berlin, delapan jam kemudian, Friedrich Merz sedang sarapan. Menu: satu telur rebus, dua potong roti gandum utuh dengan keju quark, dan satu apel yang diiris tipis-tipis setipis toleransinya terhadap kebijakan luar negeri yang gegabah.