Pernahkah kita membayangkan seorang figur yang begitu kontroversial sehingga identitas aslinya pun menjadi misteri yang diperdebatkan oleh para sejarawan selama lebih dari satu abad? Seorang yang disebut "the most dramatic figure of nineteenth-century Middle Eastern history" oleh para pengamat kontemporer, dielu-elukan sebagai pembela Islam oleh para pengikutnya, namun dicap sebagai penipu ulung oleh lawan-lawannya? Figur itulah Sayyid Jamal al-Din al-Afghani (1838/39–1897 M) (Bashkin, 2018, hlm. 64).
Bayangkan sebuah panggung dunia di akhir abad ke-19. Kekaisaran Ottoman yang dulu perkasa kini dicemooh sebagai "the sick man of Europe." Di India, Pemberontakan 1857 telah ditumpas dengan brutal oleh Britania Raya. Di Mesir, Kanal Suez yang baru dibuka telah menjadi simbol penetrasi ekonomi dan militer Eropa ke jantung dunia Islam. Intelektual Muslim di mana-mana menanyakan pertanyaan yang sama: Mengapa kami yang dulu perkasa kini begitu lemah? Bagaimana kami bisa melawan balik tanpa kehilangan jati diri?
Di tengah kecemasan peradaban inilah al-Afghani muncul sebagai suara yang paling nyaring dan paling berani. Ia bukan sekadar pemikir yang duduk di menara gading. Ia adalah seorang petualang politik sejati yang hidupnya "full of obscure and clandestine ventures," berpindah dari satu ibu kota ke ibu kota lain, mendirikan perkumpulan rahasia, menerbitkan majalah bawah tanah, dan tanpa gentar menantang para penguasa zalim di zamannya (Keddie, 1983, hlm. xv; Hourani, 1983, hlm. 328). Nikki Keddie, sejarawan yang telah mendedikasikan karirnya untuk mengungkap sosok ini, menyimpulkan bahwa al-Afghani adalah orang pertama yang melakukan "the first significant attempt to answer the modern Western challenge to the Muslim world" (Keddie, 1983, hlm. ix). Ikhtiar serius paling awal guna menyodorkan jawaban terhadap tantangan Barat modern yang mendera dunia Muslim.
Tulisan pemikiran politik Islam Sayyid Jamal al-Din al-Afghani mengupas Pan-Islamisme anti-imperialisme reformisme Islam relevansi bagi Indonesia
Mengapa sosok ini penting untuk dipelajari oleh para mahasiswa Indonesia? Jawabannya sederhana namun mendalam: al-Afghani adalah leluhur spiritual dari gerakan pemikiran yang secara fundamental membentuk Indonesia modern. Gagasan-gagasan al-Afghani mengalir melalui murid-muridnya, terutama Muhammad Abduh dan Rashid Rida, ke para pelajar Indonesia di Kairo pada awal abad ke-20. Majalah al-Manar yang terilhami oleh semangatnya dibaca dengan lahap oleh para pemuda di kota-kota pelabuhan Nusantara.
Muhammadiyah, al-Irsyad, dan jaringan intelektual Islam modernis lainnya di Indonesia tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa merujuk kembali ke api yang dinyalakan oleh al-Afghani (Yatim, 1998, hlm. 61-62). Sebuah studi kontemporer mencatat bahwa pengaruh pemikiran al-Afghani "also had an impact on the development of educational institutions in Indonesia, Jami'at Al-Khairat and Muhammadiyah became institutions that represented this work" (Ardiansyah, 2020, hlm. 7). Ia juga memberikan imbas pula terhadap perkembangan institusi pendidikan di Tanah Air. Jami'at Al-Khairat serta Muhammadiyah menjadi dua lembaga yang paling menonjol sebagai representasi dari usaha pembaruan tersebut. Bahkan, gema Pan-Islamisme-nya masih terasa hingga era Reformasi, di mana beberapa partai politik Islam di Indonesia, secara sadar atau tidak, masih mewarisi perbendaharaan ideologis yang pertama kali diartikulasikan oleh al-Afghani (Gaus, 2015, hlm. 78).
Tulisan ini akan menelusuri pemikiran politik al-Afghani secara sistematis, dimulai dari akar kehidupannya, kemudian membedah konsep-konsep inti pemikirannya, proposisi-proposisi yang ia ajukan untuk pengelolaan politik, persyaratan yang ia tetapkan bagi para pemimpin dan aktivis, dan akhirnya mengevaluasi relevansinya di pentas global dan khususnya di Indonesia kontemporer. Sebagaimana diingatkan oleh Fu dan Kahambing (2025), pemikiran al-Afghani "engaged with modernity in a more nuanced way than is commonly recognized" (hlm. 1). Mari kita selami kompleksitas itu bersama-sama.
Biografi Politik
Pernahkah kita membayangkan seorang figur yang begitu kontroversial sehingga identitas aslinya pun menjadi misteri yang diperdebatkan oleh para sejarawan selama lebih dari satu abad? Seorang yang disebut "the most dramatic figure of nineteenth-century Middle Eastern history" oleh para pengamat kontemporer, dielu-elukan sebagai pembela Islam oleh para pengikutnya, namun dicap sebagai penipu ulung oleh lawan-lawannya? Figur itulah Sayyid Jamal al-Din al-Afghani (1838/39–1897 M) (Bashkin, 2018, hlm. 64).
Bayangkan sebuah panggung dunia di akhir abad ke-19. Kekaisaran Ottoman yang dulu perkasa kini dicemooh sebagai "the sick man of Europe." Di India, Pemberontakan 1857 telah ditumpas dengan brutal oleh Britania Raya. Di Mesir, Kanal Suez yang baru dibuka telah menjadi simbol penetrasi ekonomi dan militer Eropa ke jantung dunia Islam. Intelektual Muslim di mana-mana menanyakan pertanyaan yang sama: Mengapa kami yang dulu perkasa kini begitu lemah? Bagaimana kami bisa melawan balik tanpa kehilangan jati diri?
Di tengah kecemasan peradaban inilah al-Afghani muncul sebagai suara yang paling nyaring dan paling berani. Ia bukan sekadar pemikir yang duduk di menara gading. Ia adalah seorang petualang politik sejati yang hidupnya "full of obscure and clandestine ventures," berpindah dari satu ibu kota ke ibu kota lain, mendirikan perkumpulan rahasia, menerbitkan majalah bawah tanah, dan tanpa gentar menantang para penguasa zalim di zamannya (Keddie, 1983, hlm. xv; Hourani, 1983, hlm. 328). Nikki Keddie, sejarawan yang telah mendedikasikan karirnya untuk mengungkap sosok ini, menyimpulkan bahwa al-Afghani adalah orang pertama yang melakukan "the first significant attempt to answer the modern Western challenge to the Muslim world" (Keddie, 1983, hlm. ix). Ikhtiar serius paling awal guna menyodorkan jawaban terhadap tantangan Barat modern yang mendera dunia Muslim.
Tulisan pemikiran politik Islam Sayyid Jamal al-Din al-Afghani mengupas Pan-Islamisme anti-imperialisme reformisme Islam relevansi bagi Indonesia
Mengapa sosok ini penting untuk dipelajari oleh para mahasiswa Indonesia? Jawabannya sederhana namun mendalam: al-Afghani adalah leluhur spiritual dari gerakan pemikiran yang secara fundamental membentuk Indonesia modern. Gagasan-gagasan al-Afghani mengalir melalui murid-muridnya, terutama Muhammad Abduh dan Rashid Rida, ke para pelajar Indonesia di Kairo pada awal abad ke-20. Majalah al-Manar yang terilhami oleh semangatnya dibaca dengan lahap oleh para pemuda di kota-kota pelabuhan Nusantara.
Muhammadiyah, al-Irsyad, dan jaringan intelektual Islam modernis lainnya di Indonesia tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa merujuk kembali ke api yang dinyalakan oleh al-Afghani (Yatim, 1998, hlm. 61-62). Sebuah studi kontemporer mencatat bahwa pengaruh pemikiran al-Afghani "also had an impact on the development of educational institutions in Indonesia, Jami'at Al-Khairat and Muhammadiyah became institutions that represented this work" (Ardiansyah, 2020, hlm. 7). Ia juga memberikan imbas pula terhadap perkembangan institusi pendidikan di Tanah Air. Jami'at Al-Khairat serta Muhammadiyah menjadi dua lembaga yang paling menonjol sebagai representasi dari usaha pembaruan tersebut. Bahkan, gema Pan-Islamisme-nya masih terasa hingga era Reformasi, di mana beberapa partai politik Islam di Indonesia, secara sadar atau tidak, masih mewarisi perbendaharaan ideologis yang pertama kali diartikulasikan oleh al-Afghani (Gaus, 2015, hlm. 78).
Tulisan ini akan menelusuri pemikiran politik al-Afghani secara sistematis, dimulai dari akar kehidupannya, kemudian membedah konsep-konsep inti pemikirannya, proposisi-proposisi yang ia ajukan untuk pengelolaan politik, persyaratan yang ia tetapkan bagi para pemimpin dan aktivis, dan akhirnya mengevaluasi relevansinya di pentas global dan khususnya di Indonesia kontemporer. Sebagaimana diingatkan oleh Fu dan Kahambing (2025), pemikiran al-Afghani "engaged with modernity in a more nuanced way than is commonly recognized" (hlm. 1). Mari kita selami kompleksitas itu bersama-sama.
Biografi Politik