Yang Bukan Manusia Juga Berpolitik, Memahami Agensi Terdistribusi (Distributed Agency)


Deskripsi

Bayangkan sejenak: Anda sedang duduk di teras rumah di sebuah kota di Jawa Tengah. Di kejauhan, Gunung Merapi berdiri tenang, tetapi di perutnya, magma terus bergerak. Ponsel di tangan Anda bergetar, sebuah notifikasi dari aplikasi mitigasi bencana. Di dapur, kompor gas menyala, gas yang berasal dari ladang-ladang yang terbentang di bawah tanah. Di jalan depan rumah, warga bergotong-royong membangun talud untuk menahan longsor yang mengancam musim hujan depan.

Siapakah yang "bertindak" dalam adegan ini? Apakah hanya Anda, warga desa, dan pemerintah? Ataukah gunung, magma, gas, tanah, hujan, dan ponsel itu sendiri juga bertindak, menghasilkan efek, membentuk jalannya peristiwa, mengubah nasib manusia dan non-manusia sekaligus?

Pertanyaan inilah yang menjadi jantung dari konsep agensi terdistribusi (distributed agency) dalam politik "more-than-human". Dalam pandangan ini, kapasitas untuk bertindak dan menghasilkan efek di dunia, yang selama ini dianggap sebagai hak istimewa subjek manusia yang otonom dan rasional, tidak lagi dipahami sebagai milik eksklusif kita. Sebaliknya, agensi "muncul dari dan didistribusikan melalui" jejaring relasi antara entitas manusia dan non-manusia (Enfield & Kockelman, 2017, hlm. 1-2). Subjek politik, dengan kata lain, "tidak pernah hanya manusia" (Crowley, 2022, hlm. 3).

Esai ini akan membawa Anda menyelami pemikiran yang tampak asing tetapi sesungguhnya sangat relevan ini. Sebagai awal kita akan menelusuri fondasi teori agensi terdistribusi melalui empat pemikir kunci: Bruno Latour dengan Actor-Network Theory-nya, Jane Bennett dengan konsep vibrant matter, Timothy Morton dengan gagasan hyperobjects, dan N. J. Enfield bersama Paul Kockelman yang menyunting volume penting Distributed Agency. Setelah itu, kita akan memasuki ranah politik more-than-human, bagaimana konsep ini mengubah pemahaman kita tentang demokrasi, keadilan, dan aksi politik. Pada bagian akhir, kita akan menguji relevansi teori ini bagi dunia Islam kontemporer: Dari krisis ekologi, bencana alam, hingga rekayasa digital yang membentuk ulang lanskap keberagamaan umat.

Agensi Terdistribusi

Untuk memahami mengapa gagasan agensi terdistribusi begitu revolusioner, kita perlu mundur sejenak dan melihat warisan filosofis yang selama berabad-abad membentuk cara berpikir kita. Filsafat modern, yang sering dirunut dari René Descartes, mewariskan kepada kita sebuah pembagian yang tegas: di satu sisi ada res cogitans (substansi berpikir, manusia), dan di sisi lain ada res extensa (substansi meluas, benda-benda dan alam). Manusia adalah subjek yang berpikir, berkehendak, dan bertindak; sementara alam, hewan, dan benda-benda adalah objek pasif yang dikenai tindakan (Hornborg, 2019, hlm. 177).


Konten

Yang Bukan Manusia Juga Berpolitik, Memahami Agensi Terdistribusi (Distributed Agency)

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Yang Bukan Manusia Juga Berpolitik, Memahami Agensi Terdistribusi (Distributed Agency)


Deskripsi

Bayangkan sejenak: Anda sedang duduk di teras rumah di sebuah kota di Jawa Tengah. Di kejauhan, Gunung Merapi berdiri tenang, tetapi di perutnya, magma terus bergerak. Ponsel di tangan Anda bergetar, sebuah notifikasi dari aplikasi mitigasi bencana. Di dapur, kompor gas menyala, gas yang berasal dari ladang-ladang yang terbentang di bawah tanah. Di jalan depan rumah, warga bergotong-royong membangun talud untuk menahan longsor yang mengancam musim hujan depan.

Siapakah yang "bertindak" dalam adegan ini? Apakah hanya Anda, warga desa, dan pemerintah? Ataukah gunung, magma, gas, tanah, hujan, dan ponsel itu sendiri juga bertindak, menghasilkan efek, membentuk jalannya peristiwa, mengubah nasib manusia dan non-manusia sekaligus?

Pertanyaan inilah yang menjadi jantung dari konsep agensi terdistribusi (distributed agency) dalam politik "more-than-human". Dalam pandangan ini, kapasitas untuk bertindak dan menghasilkan efek di dunia, yang selama ini dianggap sebagai hak istimewa subjek manusia yang otonom dan rasional, tidak lagi dipahami sebagai milik eksklusif kita. Sebaliknya, agensi "muncul dari dan didistribusikan melalui" jejaring relasi antara entitas manusia dan non-manusia (Enfield & Kockelman, 2017, hlm. 1-2). Subjek politik, dengan kata lain, "tidak pernah hanya manusia" (Crowley, 2022, hlm. 3).

Esai ini akan membawa Anda menyelami pemikiran yang tampak asing tetapi sesungguhnya sangat relevan ini. Sebagai awal kita akan menelusuri fondasi teori agensi terdistribusi melalui empat pemikir kunci: Bruno Latour dengan Actor-Network Theory-nya, Jane Bennett dengan konsep vibrant matter, Timothy Morton dengan gagasan hyperobjects, dan N. J. Enfield bersama Paul Kockelman yang menyunting volume penting Distributed Agency. Setelah itu, kita akan memasuki ranah politik more-than-human, bagaimana konsep ini mengubah pemahaman kita tentang demokrasi, keadilan, dan aksi politik. Pada bagian akhir, kita akan menguji relevansi teori ini bagi dunia Islam kontemporer: Dari krisis ekologi, bencana alam, hingga rekayasa digital yang membentuk ulang lanskap keberagamaan umat.

Agensi Terdistribusi

Untuk memahami mengapa gagasan agensi terdistribusi begitu revolusioner, kita perlu mundur sejenak dan melihat warisan filosofis yang selama berabad-abad membentuk cara berpikir kita. Filsafat modern, yang sering dirunut dari René Descartes, mewariskan kepada kita sebuah pembagian yang tegas: di satu sisi ada res cogitans (substansi berpikir, manusia), dan di sisi lain ada res extensa (substansi meluas, benda-benda dan alam). Manusia adalah subjek yang berpikir, berkehendak, dan bertindak; sementara alam, hewan, dan benda-benda adalah objek pasif yang dikenai tindakan (Hornborg, 2019, hlm. 177).


Konten

Yang Bukan Manusia Juga Berpolitik, Memahami Agensi Terdistribusi (Distributed Agency)