Ali Syariati, Mazhab Frankfurt, dan Dunia Saat Ini


Deskripsi

Esai ini hadir dari sebuah diskusi yang tak kunjung selesai: Bagaimana Islam, sebagai sebuah peradaban dan pandangan dunia, berdialog dengan ideologi-ideologi modern seperti Marxisme? Pertanyaan ini mungkin terdengar filosofis dan naif, tetapi di tangan para pemikir seperti Ali Syariati, ia berubah menjadi sebuah program aksi yang mengguncang fondasi politik dan sosial. Syariati bukanlah sekadar seorang intelektual yang hanya berkutat di menara gading; ia adalah seorang ideolog revolusioner yang berupaya merumuskan sebuah "sosiologi Islam" yang autentik, sebuah jalan tengah yang setia pada tradisi (turats) sekaligus relevan dengan zaman.

Upaya Syariati ini tidak bisa dilepaskan dari konteks intelektual yang lebih luas, yaitu tradisi Teori Kritis yang dikembangkan oleh Mazhab Frankfurt. Mazhab ini, dengan kritiknya yang tajam terhadap modernitas, kapitalisme, dan positivisme buta, menyediakan perangkat analitis yang ampuh untuk membongkar struktur-struktur penindasan. Syariati, yang belajar di Paris dan menyerap pemikiran Barat, menggunakan kerangka kerja ini untuk membaca kembali sejarah dan ajaran Islam. Ia menemukan bahwa semangat pembebasan yang menjadi inti Marxisme sebenarnya telah lama bersemayam dalam jantung Islam itu sendiri, khususnya dalam mazhab Syiah.

Esai ini akan menelusuri jejak pemikiran ini. Pertama, kita akan menyelami inti dari Teori Kritis Mazhab Frankfurt, memahami mengapa mereka begitu kritis terhadap masyarakat modern dan ilmu pengetahuan yang dianggap "bebas nilai". Setelah itu, kita akan masuk ke dalam dunia pemikiran Ali Syariati, menyaksikan bagaimana ia dengan cemerlang "mentransposisikan" pertarungan kelas Marxis ke dalam panggung sejarah Islam, menjadi pertarungan abadi antara "keadilan" yang diwakili oleh Abu Dzar Al-Ghiffari melawan "penindasan" yang dilambangkan oleh Muawiyah. Pada bagian akhir, esai ini akan mengevaluasi sejauh mana gagasan revolusioner ini masih bergema dan relevan bagi dunia Islam kontemporer, termasuk di Indonesia.

Melalui esai ini, penulis mengajak pembaca untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga merenungkan bagaimana ide-ide dapat menjadi kekuatan material yang mengubah sejarah. Karena pada akhirnya, seperti yang diyakini oleh para pemikir kritis dan juga Syariati, pengetahuan sejati bukanlah untuk menafsirkan dunia, melainkan untuk mengubahnya.


Konten

Ali Syariati, Mazhab Frankfurt, dan Dunia Saat Ini

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Ali Syariati, Mazhab Frankfurt, dan Dunia Saat Ini


Deskripsi

Esai ini hadir dari sebuah diskusi yang tak kunjung selesai: Bagaimana Islam, sebagai sebuah peradaban dan pandangan dunia, berdialog dengan ideologi-ideologi modern seperti Marxisme? Pertanyaan ini mungkin terdengar filosofis dan naif, tetapi di tangan para pemikir seperti Ali Syariati, ia berubah menjadi sebuah program aksi yang mengguncang fondasi politik dan sosial. Syariati bukanlah sekadar seorang intelektual yang hanya berkutat di menara gading; ia adalah seorang ideolog revolusioner yang berupaya merumuskan sebuah "sosiologi Islam" yang autentik, sebuah jalan tengah yang setia pada tradisi (turats) sekaligus relevan dengan zaman.

Upaya Syariati ini tidak bisa dilepaskan dari konteks intelektual yang lebih luas, yaitu tradisi Teori Kritis yang dikembangkan oleh Mazhab Frankfurt. Mazhab ini, dengan kritiknya yang tajam terhadap modernitas, kapitalisme, dan positivisme buta, menyediakan perangkat analitis yang ampuh untuk membongkar struktur-struktur penindasan. Syariati, yang belajar di Paris dan menyerap pemikiran Barat, menggunakan kerangka kerja ini untuk membaca kembali sejarah dan ajaran Islam. Ia menemukan bahwa semangat pembebasan yang menjadi inti Marxisme sebenarnya telah lama bersemayam dalam jantung Islam itu sendiri, khususnya dalam mazhab Syiah.

Esai ini akan menelusuri jejak pemikiran ini. Pertama, kita akan menyelami inti dari Teori Kritis Mazhab Frankfurt, memahami mengapa mereka begitu kritis terhadap masyarakat modern dan ilmu pengetahuan yang dianggap "bebas nilai". Setelah itu, kita akan masuk ke dalam dunia pemikiran Ali Syariati, menyaksikan bagaimana ia dengan cemerlang "mentransposisikan" pertarungan kelas Marxis ke dalam panggung sejarah Islam, menjadi pertarungan abadi antara "keadilan" yang diwakili oleh Abu Dzar Al-Ghiffari melawan "penindasan" yang dilambangkan oleh Muawiyah. Pada bagian akhir, esai ini akan mengevaluasi sejauh mana gagasan revolusioner ini masih bergema dan relevan bagi dunia Islam kontemporer, termasuk di Indonesia.

Melalui esai ini, penulis mengajak pembaca untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga merenungkan bagaimana ide-ide dapat menjadi kekuatan material yang mengubah sejarah. Karena pada akhirnya, seperti yang diyakini oleh para pemikir kritis dan juga Syariati, pengetahuan sejati bukanlah untuk menafsirkan dunia, melainkan untuk mengubahnya.


Konten

Ali Syariati, Mazhab Frankfurt, dan Dunia Saat Ini