PRAKATA
Diktat ini disusun sebagai bahan ajar untuk mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan. Mata kuliah ini akan membawa kita bertamasya “Dari Mitos ke Logos: Perjalanan Akal Manusia Menuju Sains.” Mata kuliah ini menelusuri kembali lintasan panjang pemikiran manusia, dari cara berpikir mitologis yang sarat dengan narasi tentang dewa-dewa, menuju cara berpikir rasional (logos) yang mendasari lahirnya ilmu pengetahuan modern. Pemahaman atas transisi ini penting agar mahasiswa menyadari bahwa sains bukanlah sesuatu yang given, melainkan hasil dari evolusi budaya dan pergulatan intelektual selama ribuan tahun.
Diktat ini terdiri dari tiga bagian utama. Bagian pertama menguraikan periode pemikiran pra-Yunani, ketika mitos berfungsi sebagai kerangka penjelas utama tentang asal-usul dan cara kerja alam semesta. Bagian kedua membahas revolusi pemikiran di Yunani Kuno yang ditandai oleh kemunculan para filsuf Miletos, Thales, Anaximander, dan Anaximenes, serta Pythagoras, yang untuk pertama kalinya mencari prinsip-prinsip alamiah (arkhê) di balik gejala-gejala alam. Bagian ketiga mengulas kelahiran sains modern melalui kontribusi Galileo Galilei dan Francis Bacon, dua tokoh yang menempatkan observasi dan eksperimen sebagai jantung metode ilmiah. Setiap bagian dilengkapi dengan penjelasan konseptual, ilustrasi historis, dan kutipan dari sumber-sumber primer maupun sekunder yang bereputasi.
Penulisan diktat ini menggunakan bahasa populer ilmiah, lugas, tetapi tetap mempertahankan ketepatan konseptual, agar mahasiswa dari berbagai latar belakang disiplin dapat mengakses dan mendiskusikan gagasan-gagasan yang disajikan. Seluruh kutipan dalam teks menggunakan gaya APA edisi ke-7 dengan mencantumkan halaman yang dirujuk. Sumber-sumber yang digunakan berasal dari buku teks, monograf, dan artikel jurnal yang memiliki reputasi akademik, tanpa mengandalkan Wikipedia, blog buzzer, atau sumber tidak jelas lainnya. Saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penyusunan diktat ini, dan berharap materi ini dapat menjadi pemantik diskusi yang hidup di ruang kuliah serta menumbuhkan apresiasi mahasiswa terhadap akar filosofis ilmu pengetahuan yang mereka pelajari.
Evaluasi akhir nantinya akan dilakukan melalui: Partisipasi dalam diskusi dan debat kelas (20%) ; Tugas reflektif dan analitis mingguan (30%); Proyek kolaboratif lintas disiplin (20%) ; dan Ujian akhir berupa esai filosofis tentang isu kontemporer (30%)
Dr. Seta Basri
DAFTAR ISI
Daftar Isi
PRAKATA ii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL xi
Pertemuan 1 Mengapa Kita Butuh Filsafat Ilmu? Membuka Pintu Berpikir Kritis 1
1 Tujuan Pembelajaran 1
2 Definisi dan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu 2
3 Tiga Jenis Pengetahuan: Sehari-hari, Ilmiah, dan Filosofis 6
4 Manfaat Praktis Filsafat Ilmu 9
5 Mengajarkan Filsafat Ilmu Secara Menarik 12
6 Filsafat Ilmu dalam Konteks Indonesia 14
7 Kaitan Filsafat Ilmu dengan Disiplin Lain 15
8 Filsafat Ilmu sebagai Peta di Tengah Rimba Informasi 16
9 Membuka Pintu Berpikir Kritis 16
10 Bahan Diskusi dan Latihan 17
Referensi 17
Pertemuan 2 Dari Mitos ke Logos, Perjalanan Akal Manusia Menuju Sains 20
1 Pendahuluan 20
2 Mitos Sebagai Penjelasan Awal tentang Awal Semesta 23
3 Revolusi Pemikiran di Yunani Kuno 29
4 Kelahiran Sains Modern 37
5 Penutup 43
Referensi 46
LAMPIRAN 48
Lampiran A Kronologi Singkat Perkembangan Pemikiran Ilmiah 48
Lampiran B Glosarium Istilah Kunci 49
Lampiran C: Pertanyaan Diskusi dan Tugas 50
Akhir Kata 51
Pertemuan 3 Apa Itu “Ilmiah”? Membongkar Misteri Metode Ilmiah 52
Pengantar 53
1 Pendahuluan 54
2 Karakteristik Metode Ilmiah 57
3 Sains, Pseudosains, dan Non-Sains 63
4 Penalaran Deduktif dan Induktif dalam Ilmu Pengetahuan 71
5 Menjadi Detektif Pseudosains di Era Informasi 77
6 Penutup 82
Referensi 84
LAMPIRAN 85
Lampiran A Daftar Pertanyaan Detektif Pseudosains 85
Lampiran B Contoh Aktivitas Pembelajaran 86
Lampiran C Glosarium Istilah Kunci 86
Akhir Kata 87
Pertemuan 4 Ontologi, Apa yang Sebenarnya Ingin Kita Ketahui? 89
Capaian Pembelajaran 90
1 Mengapa Kita Perlu Mempertanyakan "Apa yang Ada"? 90
2 Definisi Ontologi 91
3 Objek Material dan Objek Formal 93
4 Objek Kajian dalam Berbagai Disiplin Ilmu 96
5 Paradigma Ontologis dalam Ilmu Pengetahuan 99
6 Menghidupkan Ontologi di Ruang Kelas 102
7 Fenomena Nyata 106
8 Mengapa Ontologi Penting bagi Mahasiswa Masa Kini 110
Referensi 111
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 113
Pertemuan 5 Epistemologi, Dari Mana Kita Tahu Itu Benar? 115
Capaian Pembelajaran 116
1 Mengapa Kita Harus Bertanya "Dari Mana Kita Tahu Itu Benar?" 116
2 Definisi Epistemologi 118
3 Aliran-Aliran Epistemologi 120
4 Apa yang Membuat Sebuah Keyakinan Bisa Disebut "Pengetahuan"? 128
5 Menghidupkan Epistemologi di Ruang Kelas 131
6 Epistemologi dalam Praktik 135
7 Bagaimana Kita Menentukan Bahwa Sesuatu Itu Benar? 140
8 Urgensi Epistemologi di Era Post-Truth 142
Referensi 143
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 146
Pertemuan 6 Aksiologi, Ilmu untuk Apa dan Untuk Siapa? 148
1 Ilmu Tidak Pernah Netral 149
2 Definisi Aksiologi 151
3 Etika Penelitian 154
4 Dilema Moral dalam Penerapan Ilmu 159
5 Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan 163
6 Menghidupkan Aksiologi di Ruang Kelas 166
7 Aksiologi dalam Praktik 169
8 Menjadi Ilmuwan yang Bertanggung Jawab 173
Referensi 174
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 177
Pertemuan 7 Karl Popper dan Prinsip Falsifikasi, Apakah Ilmu Bisa Dibuktikan Benar? 180
Capaian Pembelajaran 181
1 Ketika Kepastian Menjadi Musuh Ilmu Pengetahuan 181
2 Biografi Singkat Karl Raimund Popper 183
3 Kritik Popper terhadap Induktivisme 184
4 Prinsip Falsifikasi 187
5 Falsifikasi dalam Tindakan 190
6 Dari Falsifikasi ke Rasionalisme Kritis 193
7 Penerapan Pemikiran Popper di Indonesia 195
8 Menghidupkan Falsifikasionisme di Ruang Kelas 198
9 Di Antara Skeptisisme dan Keputusasaan, Belajar dari Popper di Era Post-Truth 201
Referensi 202
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 205
Pertemuan 8 Ujian Tengah Semester 207
Pertemuan 9 Ilmu Pengetahuan dan Agama, Konflik atau Harmoni? 212
Capaian Pembelajaran 213
1 Ketika Dua Otoritas Bertemu 213
2 Ian G. Barbour dan Tipologi Hubungan Sains-Agama 215
3 Pandangan Ontologis dan Epistemologis tentang Integrasi Sains dan Agama 220
4 Pendekatan Islam terhadap Sains 223
5 Sains dan Agama dalam Konteks Indonesia 226
6 Melampaui Narasi Konflik 230
7 Menghidupkan Dialog Sains-Agama di Ruang Kelas 232
8 Menemukan Harmoni dalam Kompleksitas 235
Referensi 236
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 238
Pertemuan 10 Filsafat Ilmu di Era Digital, Kebenaran, Hoaks, dan Filter Bubble 240
Capaian Pembelajaran 241
1 Ketika Kebenaran Tenggelam dalam Banjir Informasi 241
2 Transformasi Pengetahuan di Era Digital 243
3 Fenomena Filter Bubble dan Echo Chamber 247
4 Strategi Epistemologis untuk Memverifikasi Informasi 251
5 Dari Teori ke Praktik di Indonesia dan Mancanegara 255
6 Menghidupkan Filsafat Ilmu Digital di Ruang Kelas 258
7 Filsafat Ilmu sebagai Kompas di Samudra Digital 262
Referensi 264
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 266
Pertemuan 11 Etika Kecerdasan Buatan, Bisakah Mesin Memiliki Moral? 269
Capaian Pembelajaran 269
1 Ketika Cermin Mulai Berbicara 269
2 Isu Ontologis 270
3 Dilema Etika AI 273
4 Peran Filsafat Ilmu dalam Merumuskan Regulasi Etis AI 278
5 Etika AI dalam Konteks Indonesia 281
6 Menghidupkan Etika AI di Ruang Kelas 283
7 Menjadi Manusia di Era Mesin Cerdas 285
Referensi 287
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 289
Pertemuan 12 Ilmu Pengetahuan, Kekuasaan, dan Politik, Siapa yang Mengendalikan Pengetahuan? 292
Capaian Pembelajaran 292
1 Laboratorium, Ruang Sidang, dan Pertanyaan tentang Kebenaran 292
2 Michel Foucault dan Relasi Pengetahuan-Kekuasaan 293
3 Ketika Kepentingan Mengalahkan Kebenaran 297
4 Kekuasaan-Pengetahuan dalam Konteks Indonesia 301
5 Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan 304
6 Menghidupkan Dinamika Kekuasaan-Pengetahuan di Ruang Kelas 306
7 Menjadi Ilmuwan yang Merdeka di Tengah Pusaran Kuasa 308
Referensi 308
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 310
Pertemuan 13 Filsafat Ilmu Lintas Disiplin, Mengapa Seorang Insinyur Perlu Filsafat? 313
Capaian Pembelajaran 313
1 Di Mana Filsafat dalam Rumus Matematika Itu? 313
2 Tiga Dunia, Tiga Pendekatan 315
3 Bagaimana Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Menerangi Lintas Disiplin 318
4 Ketika Filsafat Ilmu Menyelamatkan Praktik Profesional 321
5 Mengapa Insinyur Perlu Filsafat? Sebuah Sintesis 327
6 Membumikan Filsafat Ilmu Lintas Disiplin 328
7 Filsafat Ilmu sebagai Keterampilan Abad ke-21 330
Referensi 332
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 333
Pertemuan 14 Masa Depan Ilmu Pengetahuan, Dari Bioteknologi hingga Antariksa 335
Capaian Pembelajaran 335
1 Berdiri di Persimpangan Masa Depan 335
2 Bioteknologi 337
3 Eksplorasi Antariksa 340
4 Nanoteknologi 343
5 Komputasi Kuantum 345
6 Peran Filsafat Ilmu dalam Membentuk Masa Depan yang Lebih Baik 347
7 Merayakan Masa Depan dengan Refleksi Kritis 348
8 Ilmu Pengetahuan sebagai Panggilan Kemanusiaan 350
Referensi 352
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 353
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Scientific Knowledge 7
Tabel 2 Perbandingan Konsep Arkhê 36
Tabel 3 Perbandingan Penalaran Deduktif dan Induktif 74
Tabel 4 Objek Material vs. Objek Formal di Berbagai Disiplin 94
Tabel 5 Perbandingan Empat Aliran 127
Tabel 6 Tabel Perbandingan Tiga Dunia Ilmu 318
PRAKATA
Diktat ini disusun sebagai bahan ajar untuk mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan. Mata kuliah ini akan membawa kita bertamasya “Dari Mitos ke Logos: Perjalanan Akal Manusia Menuju Sains.” Mata kuliah ini menelusuri kembali lintasan panjang pemikiran manusia, dari cara berpikir mitologis yang sarat dengan narasi tentang dewa-dewa, menuju cara berpikir rasional (logos) yang mendasari lahirnya ilmu pengetahuan modern. Pemahaman atas transisi ini penting agar mahasiswa menyadari bahwa sains bukanlah sesuatu yang given, melainkan hasil dari evolusi budaya dan pergulatan intelektual selama ribuan tahun.
Diktat ini terdiri dari tiga bagian utama. Bagian pertama menguraikan periode pemikiran pra-Yunani, ketika mitos berfungsi sebagai kerangka penjelas utama tentang asal-usul dan cara kerja alam semesta. Bagian kedua membahas revolusi pemikiran di Yunani Kuno yang ditandai oleh kemunculan para filsuf Miletos, Thales, Anaximander, dan Anaximenes, serta Pythagoras, yang untuk pertama kalinya mencari prinsip-prinsip alamiah (arkhê) di balik gejala-gejala alam. Bagian ketiga mengulas kelahiran sains modern melalui kontribusi Galileo Galilei dan Francis Bacon, dua tokoh yang menempatkan observasi dan eksperimen sebagai jantung metode ilmiah. Setiap bagian dilengkapi dengan penjelasan konseptual, ilustrasi historis, dan kutipan dari sumber-sumber primer maupun sekunder yang bereputasi.
Penulisan diktat ini menggunakan bahasa populer ilmiah, lugas, tetapi tetap mempertahankan ketepatan konseptual, agar mahasiswa dari berbagai latar belakang disiplin dapat mengakses dan mendiskusikan gagasan-gagasan yang disajikan. Seluruh kutipan dalam teks menggunakan gaya APA edisi ke-7 dengan mencantumkan halaman yang dirujuk. Sumber-sumber yang digunakan berasal dari buku teks, monograf, dan artikel jurnal yang memiliki reputasi akademik, tanpa mengandalkan Wikipedia, blog buzzer, atau sumber tidak jelas lainnya. Saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penyusunan diktat ini, dan berharap materi ini dapat menjadi pemantik diskusi yang hidup di ruang kuliah serta menumbuhkan apresiasi mahasiswa terhadap akar filosofis ilmu pengetahuan yang mereka pelajari.
Evaluasi akhir nantinya akan dilakukan melalui: Partisipasi dalam diskusi dan debat kelas (20%) ; Tugas reflektif dan analitis mingguan (30%); Proyek kolaboratif lintas disiplin (20%) ; dan Ujian akhir berupa esai filosofis tentang isu kontemporer (30%)
Dr. Seta Basri
DAFTAR ISI
Daftar Isi
PRAKATA ii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL xi
Pertemuan 1 Mengapa Kita Butuh Filsafat Ilmu? Membuka Pintu Berpikir Kritis 1
1 Tujuan Pembelajaran 1
2 Definisi dan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu 2
3 Tiga Jenis Pengetahuan: Sehari-hari, Ilmiah, dan Filosofis 6
4 Manfaat Praktis Filsafat Ilmu 9
5 Mengajarkan Filsafat Ilmu Secara Menarik 12
6 Filsafat Ilmu dalam Konteks Indonesia 14
7 Kaitan Filsafat Ilmu dengan Disiplin Lain 15
8 Filsafat Ilmu sebagai Peta di Tengah Rimba Informasi 16
9 Membuka Pintu Berpikir Kritis 16
10 Bahan Diskusi dan Latihan 17
Referensi 17
Pertemuan 2 Dari Mitos ke Logos, Perjalanan Akal Manusia Menuju Sains 20
1 Pendahuluan 20
2 Mitos Sebagai Penjelasan Awal tentang Awal Semesta 23
3 Revolusi Pemikiran di Yunani Kuno 29
4 Kelahiran Sains Modern 37
5 Penutup 43
Referensi 46
LAMPIRAN 48
Lampiran A Kronologi Singkat Perkembangan Pemikiran Ilmiah 48
Lampiran B Glosarium Istilah Kunci 49
Lampiran C: Pertanyaan Diskusi dan Tugas 50
Akhir Kata 51
Pertemuan 3 Apa Itu “Ilmiah”? Membongkar Misteri Metode Ilmiah 52
Pengantar 53
1 Pendahuluan 54
2 Karakteristik Metode Ilmiah 57
3 Sains, Pseudosains, dan Non-Sains 63
4 Penalaran Deduktif dan Induktif dalam Ilmu Pengetahuan 71
5 Menjadi Detektif Pseudosains di Era Informasi 77
6 Penutup 82
Referensi 84
LAMPIRAN 85
Lampiran A Daftar Pertanyaan Detektif Pseudosains 85
Lampiran B Contoh Aktivitas Pembelajaran 86
Lampiran C Glosarium Istilah Kunci 86
Akhir Kata 87
Pertemuan 4 Ontologi, Apa yang Sebenarnya Ingin Kita Ketahui? 89
Capaian Pembelajaran 90
1 Mengapa Kita Perlu Mempertanyakan "Apa yang Ada"? 90
2 Definisi Ontologi 91
3 Objek Material dan Objek Formal 93
4 Objek Kajian dalam Berbagai Disiplin Ilmu 96
5 Paradigma Ontologis dalam Ilmu Pengetahuan 99
6 Menghidupkan Ontologi di Ruang Kelas 102
7 Fenomena Nyata 106
8 Mengapa Ontologi Penting bagi Mahasiswa Masa Kini 110
Referensi 111
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 113
Pertemuan 5 Epistemologi, Dari Mana Kita Tahu Itu Benar? 115
Capaian Pembelajaran 116
1 Mengapa Kita Harus Bertanya "Dari Mana Kita Tahu Itu Benar?" 116
2 Definisi Epistemologi 118
3 Aliran-Aliran Epistemologi 120
4 Apa yang Membuat Sebuah Keyakinan Bisa Disebut "Pengetahuan"? 128
5 Menghidupkan Epistemologi di Ruang Kelas 131
6 Epistemologi dalam Praktik 135
7 Bagaimana Kita Menentukan Bahwa Sesuatu Itu Benar? 140
8 Urgensi Epistemologi di Era Post-Truth 142
Referensi 143
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 146
Pertemuan 6 Aksiologi, Ilmu untuk Apa dan Untuk Siapa? 148
1 Ilmu Tidak Pernah Netral 149
2 Definisi Aksiologi 151
3 Etika Penelitian 154
4 Dilema Moral dalam Penerapan Ilmu 159
5 Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan 163
6 Menghidupkan Aksiologi di Ruang Kelas 166
7 Aksiologi dalam Praktik 169
8 Menjadi Ilmuwan yang Bertanggung Jawab 173
Referensi 174
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 177
Pertemuan 7 Karl Popper dan Prinsip Falsifikasi, Apakah Ilmu Bisa Dibuktikan Benar? 180
Capaian Pembelajaran 181
1 Ketika Kepastian Menjadi Musuh Ilmu Pengetahuan 181
2 Biografi Singkat Karl Raimund Popper 183
3 Kritik Popper terhadap Induktivisme 184
4 Prinsip Falsifikasi 187
5 Falsifikasi dalam Tindakan 190
6 Dari Falsifikasi ke Rasionalisme Kritis 193
7 Penerapan Pemikiran Popper di Indonesia 195
8 Menghidupkan Falsifikasionisme di Ruang Kelas 198
9 Di Antara Skeptisisme dan Keputusasaan, Belajar dari Popper di Era Post-Truth 201
Referensi 202
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 205
Pertemuan 8 Ujian Tengah Semester 207
Pertemuan 9 Ilmu Pengetahuan dan Agama, Konflik atau Harmoni? 212
Capaian Pembelajaran 213
1 Ketika Dua Otoritas Bertemu 213
2 Ian G. Barbour dan Tipologi Hubungan Sains-Agama 215
3 Pandangan Ontologis dan Epistemologis tentang Integrasi Sains dan Agama 220
4 Pendekatan Islam terhadap Sains 223
5 Sains dan Agama dalam Konteks Indonesia 226
6 Melampaui Narasi Konflik 230
7 Menghidupkan Dialog Sains-Agama di Ruang Kelas 232
8 Menemukan Harmoni dalam Kompleksitas 235
Referensi 236
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 238
Pertemuan 10 Filsafat Ilmu di Era Digital, Kebenaran, Hoaks, dan Filter Bubble 240
Capaian Pembelajaran 241
1 Ketika Kebenaran Tenggelam dalam Banjir Informasi 241
2 Transformasi Pengetahuan di Era Digital 243
3 Fenomena Filter Bubble dan Echo Chamber 247
4 Strategi Epistemologis untuk Memverifikasi Informasi 251
5 Dari Teori ke Praktik di Indonesia dan Mancanegara 255
6 Menghidupkan Filsafat Ilmu Digital di Ruang Kelas 258
7 Filsafat Ilmu sebagai Kompas di Samudra Digital 262
Referensi 264
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 266
Pertemuan 11 Etika Kecerdasan Buatan, Bisakah Mesin Memiliki Moral? 269
Capaian Pembelajaran 269
1 Ketika Cermin Mulai Berbicara 269
2 Isu Ontologis 270
3 Dilema Etika AI 273
4 Peran Filsafat Ilmu dalam Merumuskan Regulasi Etis AI 278
5 Etika AI dalam Konteks Indonesia 281
6 Menghidupkan Etika AI di Ruang Kelas 283
7 Menjadi Manusia di Era Mesin Cerdas 285
Referensi 287
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 289
Pertemuan 12 Ilmu Pengetahuan, Kekuasaan, dan Politik, Siapa yang Mengendalikan Pengetahuan? 292
Capaian Pembelajaran 292
1 Laboratorium, Ruang Sidang, dan Pertanyaan tentang Kebenaran 292
2 Michel Foucault dan Relasi Pengetahuan-Kekuasaan 293
3 Ketika Kepentingan Mengalahkan Kebenaran 297
4 Kekuasaan-Pengetahuan dalam Konteks Indonesia 301
5 Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan 304
6 Menghidupkan Dinamika Kekuasaan-Pengetahuan di Ruang Kelas 306
7 Menjadi Ilmuwan yang Merdeka di Tengah Pusaran Kuasa 308
Referensi 308
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 310
Pertemuan 13 Filsafat Ilmu Lintas Disiplin, Mengapa Seorang Insinyur Perlu Filsafat? 313
Capaian Pembelajaran 313
1 Di Mana Filsafat dalam Rumus Matematika Itu? 313
2 Tiga Dunia, Tiga Pendekatan 315
3 Bagaimana Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Menerangi Lintas Disiplin 318
4 Ketika Filsafat Ilmu Menyelamatkan Praktik Profesional 321
5 Mengapa Insinyur Perlu Filsafat? Sebuah Sintesis 327
6 Membumikan Filsafat Ilmu Lintas Disiplin 328
7 Filsafat Ilmu sebagai Keterampilan Abad ke-21 330
Referensi 332
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 333
Pertemuan 14 Masa Depan Ilmu Pengetahuan, Dari Bioteknologi hingga Antariksa 335
Capaian Pembelajaran 335
1 Berdiri di Persimpangan Masa Depan 335
2 Bioteknologi 337
3 Eksplorasi Antariksa 340
4 Nanoteknologi 343
5 Komputasi Kuantum 345
6 Peran Filsafat Ilmu dalam Membentuk Masa Depan yang Lebih Baik 347
7 Merayakan Masa Depan dengan Refleksi Kritis 348
8 Ilmu Pengetahuan sebagai Panggilan Kemanusiaan 350
Referensi 352
Lampiran Lima Pertanyaan Esai 353
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Scientific Knowledge 7
Tabel 2 Perbandingan Konsep Arkhê 36
Tabel 3 Perbandingan Penalaran Deduktif dan Induktif 74
Tabel 4 Objek Material vs. Objek Formal di Berbagai Disiplin 94
Tabel 5 Perbandingan Empat Aliran 127
Tabel 6 Tabel Perbandingan Tiga Dunia Ilmu 318