Jawdat Sa’ide dan Suara Non Kekerasan dalam Politik


Deskripsi

Di tengah dominasi wacana kekerasan dan paksaan politik, muncul suara profetik yang menyerukan jalan lain: Jalan kenabian yang menolak kekerasan, menekankan kewajiban moral absolut untuk bersaksi, dan mendorong tanggung jawab individu sebagai motor perubahan sosial. 

Suara itu adalah Jawdat Sa'id, seorang cendekiawan Muslim Suriah yang menghabiskan lebih dari setengah abad menulis, berkhotbah, dan mempraktikkan gagasan-gagasan ini. Mengapa Jawdat Sa'id penting bagi kita hari ini? 

Pertama, ia menawarkan sebuah alternatif etis yang kuat terhadap politik kekuasaan. Di dunia di mana rezim-rezim otoriter bertahan dengan kekerasan dan kelompok-kelompok oposisi seringkali tergoda untuk membalas dengan cara yang sama, Sa'id mengingatkan bahwa perubahan sejati hanya mungkin melalui transformasi pemikiran, bukan melalui paksaan fisik. Kedua, ia menawarkan sebuah model tanggung jawab individu yang mendalam, di mana setiap Muslim dipanggil untuk menjadi agen moral yang aktif, bukan sekadar pengikut pasif. Ketiga, ia mengajarkan bahwa non-kekerasan bukanlah kepasifan, melainkan sebuah strategi aktif dan profetik untuk mewujudkan keadilan.

Biografi Intelektual

Jawdat Sa'id lahir pada tahun 1931 di Bi'r 'Ajam, sebuah desa di Dataran Tinggi Golan, Suriah, dari keluarga etnis Sirkasia. Wilayah ini saat itu berada di bawah kekuasaan Mandat Prancis. Tumbuh dalam lingkungan kolonial yang represif, Sa'id muda menyaksikan langsung dampak kekerasan dan penjajahan terhadap rakyatnya. Pengalaman ini kelak membentuk kepekaannya yang mendalam terhadap persoalan keadilan dan kekuasaan.

Pada awal 1950-an, Sa'id berangkat ke Kairo untuk menempuh studi di Universitas Al-Azhar, pusat intelektual Sunni yang paling prestisius di dunia Islam. Ia menghabiskan sekitar satu dekade di sana, lulus pada tahun 1957. Selama masa studinya di Mesir, Sa'id menyaksikan peristiwa-peristiwa yang akan membentuk seluruh pemikiran politiknya: Ketegangan yang meningkat antara Ikhwanul Muslimin dan rezim Gamal Abdel Nasser, serta bagaimana meningkatnya militansi kaum Islamis menjadi dalih bagi represi negara yang semakin keras.


Konten

Jawdat Sa’ide dan Suara Non Kekerasan dalam Politik

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Jawdat Sa’ide dan Suara Non Kekerasan dalam Politik


Deskripsi

Di tengah dominasi wacana kekerasan dan paksaan politik, muncul suara profetik yang menyerukan jalan lain: Jalan kenabian yang menolak kekerasan, menekankan kewajiban moral absolut untuk bersaksi, dan mendorong tanggung jawab individu sebagai motor perubahan sosial. 

Suara itu adalah Jawdat Sa'id, seorang cendekiawan Muslim Suriah yang menghabiskan lebih dari setengah abad menulis, berkhotbah, dan mempraktikkan gagasan-gagasan ini. Mengapa Jawdat Sa'id penting bagi kita hari ini? 

Pertama, ia menawarkan sebuah alternatif etis yang kuat terhadap politik kekuasaan. Di dunia di mana rezim-rezim otoriter bertahan dengan kekerasan dan kelompok-kelompok oposisi seringkali tergoda untuk membalas dengan cara yang sama, Sa'id mengingatkan bahwa perubahan sejati hanya mungkin melalui transformasi pemikiran, bukan melalui paksaan fisik. Kedua, ia menawarkan sebuah model tanggung jawab individu yang mendalam, di mana setiap Muslim dipanggil untuk menjadi agen moral yang aktif, bukan sekadar pengikut pasif. Ketiga, ia mengajarkan bahwa non-kekerasan bukanlah kepasifan, melainkan sebuah strategi aktif dan profetik untuk mewujudkan keadilan.

Biografi Intelektual

Jawdat Sa'id lahir pada tahun 1931 di Bi'r 'Ajam, sebuah desa di Dataran Tinggi Golan, Suriah, dari keluarga etnis Sirkasia. Wilayah ini saat itu berada di bawah kekuasaan Mandat Prancis. Tumbuh dalam lingkungan kolonial yang represif, Sa'id muda menyaksikan langsung dampak kekerasan dan penjajahan terhadap rakyatnya. Pengalaman ini kelak membentuk kepekaannya yang mendalam terhadap persoalan keadilan dan kekuasaan.

Pada awal 1950-an, Sa'id berangkat ke Kairo untuk menempuh studi di Universitas Al-Azhar, pusat intelektual Sunni yang paling prestisius di dunia Islam. Ia menghabiskan sekitar satu dekade di sana, lulus pada tahun 1957. Selama masa studinya di Mesir, Sa'id menyaksikan peristiwa-peristiwa yang akan membentuk seluruh pemikiran politiknya: Ketegangan yang meningkat antara Ikhwanul Muslimin dan rezim Gamal Abdel Nasser, serta bagaimana meningkatnya militansi kaum Islamis menjadi dalih bagi represi negara yang semakin keras.


Konten

Jawdat Sa’ide dan Suara Non Kekerasan dalam Politik