Kritik Asef Bayat atas Teori Gerakan Sosial Barat


Deskripsi

Bayangkan sebuah kota di Timur Tengah, misalnya Teheran, Kairo, atau Rabat. Di sana, seorang pengelana akan melihat pemandangan yang khas: Anak-anak miskin berlarian di jalan menjajakan dagangan, perempuan menggelar tikar di trotoar untuk menjual sayuran, ribuan lelaki mengubah jalanan umum menjadi pasar yang ramai, dan seluruh permukiman liar berdiri di atas tanah yang bukan milik mereka. 

Inilah pemandangan yang oleh Asef Bayat, sosiolog Iran-Amerika, disebut sebagai quiet encroachment of the ordinary yakni perambahan diam-diam kaum biasa. Mereka tidak berdemo, tidak menuntut, apalagi merencanakan revolusi. Namun diam-diam, jutaan tindakan kecil dan tersebar ini menggerus fondasi kekuasaan negara dan mengubah wajah masyarakat secara fundamental.

Pertanyaan yang diajukan Bayat sangatlah sederhana tetapi provokatif: Mampukah orang biasa, yang tidak tergabung dalam partai politik, serikat buruh, atau gerakan Islamis, mengubah sejarah? Mampukah tindakan-tindakan remeh seperti mencuri listrik, membangun rumah liar, atau memakai jilbab dengan "salah" menjadi sebentuk politik? Dan, jika Islamisme yakni gerakan yang bercita-cita mendirikan negara Islam mulai kehilangan daya pikatnya, mungkinkah kita sedang menyaksikan lahirnya era baru pasca-Islamisme?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan inilah Bayat merumuskan teori gerakan sosialnya yang khas. Ia tidak sekadar meminjam kerangka dari ilmuwan Barat; ia justru mengkritiknya. Menurutnya, teori gerakan sosial arus utama yang lahir dari pengalaman Eropa dan Amerika Utara, terlalu sempit untuk membaca dinamika di Dunia Muslim. Di dunia itu, negara-negara otoriter begitu represif sehingga setiap bentuk pengorganisasian formal langsung dihancurkan. Lalu, bagaimana rakyat yang tertindas bertahan dan bahkan mengubah keadaan? Jawabannya, menurut Bayat, terletak pada apa yang disebutnya social nonmovements: Tindakan kolektif dari aktor-aktor yang tidak terorganisasi.

Esai ini akan mengajak Anda menyelami labirin pemikiran Asef Bayat. Pertama, kita akan memahami kritiknya terhadap teori gerakan sosial klasik dan bagaimana ia membangun konsep quiet encroachment serta nonmovement. Kemudian, kita akan menelusuri evolusi gerakan Islamis, mulai dari revolusi menuju reformasi, dan memahami mengapa Bayat mencetuskan istilah pasca-Islamisme. Pada bagian akhir, kita akan menguji relevansi teori ini bagi dunia Islam kontemporer, termasuk Indonesia. Tujuannya bukan sekadar mengagumi teori, melainkan membekali diri dengan kacamata baru untuk membaca dunia: Bahwa di bawah bayang-bayang tirani, orang biasa selalu menemukan cara untuk hidup, bertahan, dan diam-diam mengubah segalanya.


Konten

Kritik Asef Bayat atas Teori Gerakan Sosial Barat

Harga

Rp 4.999

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Kritik Asef Bayat atas Teori Gerakan Sosial Barat


Deskripsi

Bayangkan sebuah kota di Timur Tengah, misalnya Teheran, Kairo, atau Rabat. Di sana, seorang pengelana akan melihat pemandangan yang khas: Anak-anak miskin berlarian di jalan menjajakan dagangan, perempuan menggelar tikar di trotoar untuk menjual sayuran, ribuan lelaki mengubah jalanan umum menjadi pasar yang ramai, dan seluruh permukiman liar berdiri di atas tanah yang bukan milik mereka. 

Inilah pemandangan yang oleh Asef Bayat, sosiolog Iran-Amerika, disebut sebagai quiet encroachment of the ordinary yakni perambahan diam-diam kaum biasa. Mereka tidak berdemo, tidak menuntut, apalagi merencanakan revolusi. Namun diam-diam, jutaan tindakan kecil dan tersebar ini menggerus fondasi kekuasaan negara dan mengubah wajah masyarakat secara fundamental.

Pertanyaan yang diajukan Bayat sangatlah sederhana tetapi provokatif: Mampukah orang biasa, yang tidak tergabung dalam partai politik, serikat buruh, atau gerakan Islamis, mengubah sejarah? Mampukah tindakan-tindakan remeh seperti mencuri listrik, membangun rumah liar, atau memakai jilbab dengan "salah" menjadi sebentuk politik? Dan, jika Islamisme yakni gerakan yang bercita-cita mendirikan negara Islam mulai kehilangan daya pikatnya, mungkinkah kita sedang menyaksikan lahirnya era baru pasca-Islamisme?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan inilah Bayat merumuskan teori gerakan sosialnya yang khas. Ia tidak sekadar meminjam kerangka dari ilmuwan Barat; ia justru mengkritiknya. Menurutnya, teori gerakan sosial arus utama yang lahir dari pengalaman Eropa dan Amerika Utara, terlalu sempit untuk membaca dinamika di Dunia Muslim. Di dunia itu, negara-negara otoriter begitu represif sehingga setiap bentuk pengorganisasian formal langsung dihancurkan. Lalu, bagaimana rakyat yang tertindas bertahan dan bahkan mengubah keadaan? Jawabannya, menurut Bayat, terletak pada apa yang disebutnya social nonmovements: Tindakan kolektif dari aktor-aktor yang tidak terorganisasi.

Esai ini akan mengajak Anda menyelami labirin pemikiran Asef Bayat. Pertama, kita akan memahami kritiknya terhadap teori gerakan sosial klasik dan bagaimana ia membangun konsep quiet encroachment serta nonmovement. Kemudian, kita akan menelusuri evolusi gerakan Islamis, mulai dari revolusi menuju reformasi, dan memahami mengapa Bayat mencetuskan istilah pasca-Islamisme. Pada bagian akhir, kita akan menguji relevansi teori ini bagi dunia Islam kontemporer, termasuk Indonesia. Tujuannya bukan sekadar mengagumi teori, melainkan membekali diri dengan kacamata baru untuk membaca dunia: Bahwa di bawah bayang-bayang tirani, orang biasa selalu menemukan cara untuk hidup, bertahan, dan diam-diam mengubah segalanya.


Konten

Kritik Asef Bayat atas Teori Gerakan Sosial Barat