Pemikiran Posthumanisme Ibraheem T. Ahmad dan Pergeseran Subjek Politik Islam Kontemporer


Deskripsi

Ada sebuah pertanyaan yang diam-diam menghantui kita semua, terutama mereka yang hidup di abad ke-21 ini: Apa artinya menjadi manusia? Pertanyaan ini bukan sekadar bahan obrolan filsafat di kafe-kafe. Ia mendesak, menusuk, dan menuntut jawaban. 

Sebab, di saat yang sama ketika kita masih sibuk memperdebatkan batas-batas identitas, teknologi telah melesat jauh melampaui imajinasi nenek moyang kita. Kecerdasan buatan kini bisa menulis puisi, menggubah musik, bahkan merumuskan fatwa. Rekayasa genetika menjanjikan tubuh yang lebih kuat, lebih tahan penyakit, lebih panjang umur. Chip komputer ditanam di otak, dan realitas virtual mengaburkan batas antara yang nyata dan yang maya.

Di tengah pusaran ini, kita, umat Islam, ditantang untuk merespons. Bukan dengan menutup mata atau sekadar mengharamkan, melainkan dengan berpikir serius dan mendalam. Sebab, yang dipertaruhkan bukan sekadar hukum halal-haram atas satu teknologi tertentu, melainkan fondasi paling dasar dari cara kita memahami diri kita sendiri: Siapakah manusia itu? Siapakah subjek politik dalam Islam? Apakah manusia tetap menjadi pusat ciptaan, ataukah kita harus mulai berbagi panggung dengan entitas-entitas lain, mesin, hewan, bahkan ekosistem?

Tulisan ini akan membawa Anda menyelami arus pemikiran yang mungkin terasa asing dan bahkan mengguncang: Posthumanisme Islam. Di ujung paling radikal dari arus ini, berdirilah sosok Ibraheem Tayseer Ahmad. Melalui artikelnya yang provokatif di Journal of Posthumanism (2025), Ahmad membongkar konsep "subjek politik" dalam Islam dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru yang selama ini tak terpikirkan. Pada saat yang sama, para sarjana di Pusat Legislasi dan Etika Islam (CILE) di Qatar bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan etis dan legal yang diajukan oleh teknologi human enhancement, teknologi peningkatan kemampuan manusia. Dua percakapan ini, meskipun berbeda nada, bertemu pada titik yang sama: Ontologi manusia sebagai subjek politik yang stabil sedang dipertanyakan secara fundamental.

Perjalanan kita akan dimulai dengan menelusuri apa itu posthumanisme dan transhumanisme, dan mengapa kedua pemikiran yang lahir dari rahim Barat ini relevan bagi dunia Islam. Kemudian, kita akan memasuki jantung pemikiran Ibraheem T. Ahmad, mengurai argumen-argumennya tentang bagaimana identitas politik dalam Islam dapat direkonfigurasi di era posthuman. Kita akan mendengarkan perdebatan di CILE tentang batas-batas etis peningkatan manusia. Dan akhirnya, kita akan menguji relevansi semua gagasan ini pada fenomena politik kontemporer: Dari fatwa-fatwa tentang AI hingga perjuangan hak-hak alam di pengadilan, dari identitas digital hingga keadilan lingkungan.

Tulisan ini ditulis bukan untuk memberikan jawaban-jawaban final. Justru sebaliknya: Ia adalah undangan untuk bersama-sama bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya masih terbuka lebar. Sebab, seperti kata seorang bijak, "pertanyaan yang baik lebih berharga dari jawaban yang buruk." Selamat menyelami arus. Semoga Allah membimbing kita dalam pencarian ini. Wallahu a'lam bish-shawab.

Saat Manusia Tak Lagi Jadi Pusat

Bayangkan skenario ini. Pada tahun 2045, seorang perempuan paruh baya bernama Aminah terbangun di apartemennya di Jakarta. Sebelum turun dari tempat tidur, ia mengecek notifikasi dari neural implant-nya, sebuah chip kecil yang ditanam di korteks prefrontal otaknya. Chip itu memberitahunya bahwa detak jantungnya semalam sedikit tidak teratur, dan merekomendasikan ia mengurangi kopi hari ini. Aminah mengangguk, lalu "berpikir" untuk menyalakan lampu kamar, dan lampu itu menyala, terhubung langsung ke chip-nya melalui jaringan Internet of Things.


Konten

Pemikiran Posthumanisme Ibraheem T. Ahmad dan Pergeseran Subjek Politik Islam Kontemporer

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Pemikiran Posthumanisme Ibraheem T. Ahmad dan Pergeseran Subjek Politik Islam Kontemporer


Deskripsi

Ada sebuah pertanyaan yang diam-diam menghantui kita semua, terutama mereka yang hidup di abad ke-21 ini: Apa artinya menjadi manusia? Pertanyaan ini bukan sekadar bahan obrolan filsafat di kafe-kafe. Ia mendesak, menusuk, dan menuntut jawaban. 

Sebab, di saat yang sama ketika kita masih sibuk memperdebatkan batas-batas identitas, teknologi telah melesat jauh melampaui imajinasi nenek moyang kita. Kecerdasan buatan kini bisa menulis puisi, menggubah musik, bahkan merumuskan fatwa. Rekayasa genetika menjanjikan tubuh yang lebih kuat, lebih tahan penyakit, lebih panjang umur. Chip komputer ditanam di otak, dan realitas virtual mengaburkan batas antara yang nyata dan yang maya.

Di tengah pusaran ini, kita, umat Islam, ditantang untuk merespons. Bukan dengan menutup mata atau sekadar mengharamkan, melainkan dengan berpikir serius dan mendalam. Sebab, yang dipertaruhkan bukan sekadar hukum halal-haram atas satu teknologi tertentu, melainkan fondasi paling dasar dari cara kita memahami diri kita sendiri: Siapakah manusia itu? Siapakah subjek politik dalam Islam? Apakah manusia tetap menjadi pusat ciptaan, ataukah kita harus mulai berbagi panggung dengan entitas-entitas lain, mesin, hewan, bahkan ekosistem?

Tulisan ini akan membawa Anda menyelami arus pemikiran yang mungkin terasa asing dan bahkan mengguncang: Posthumanisme Islam. Di ujung paling radikal dari arus ini, berdirilah sosok Ibraheem Tayseer Ahmad. Melalui artikelnya yang provokatif di Journal of Posthumanism (2025), Ahmad membongkar konsep "subjek politik" dalam Islam dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru yang selama ini tak terpikirkan. Pada saat yang sama, para sarjana di Pusat Legislasi dan Etika Islam (CILE) di Qatar bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan etis dan legal yang diajukan oleh teknologi human enhancement, teknologi peningkatan kemampuan manusia. Dua percakapan ini, meskipun berbeda nada, bertemu pada titik yang sama: Ontologi manusia sebagai subjek politik yang stabil sedang dipertanyakan secara fundamental.

Perjalanan kita akan dimulai dengan menelusuri apa itu posthumanisme dan transhumanisme, dan mengapa kedua pemikiran yang lahir dari rahim Barat ini relevan bagi dunia Islam. Kemudian, kita akan memasuki jantung pemikiran Ibraheem T. Ahmad, mengurai argumen-argumennya tentang bagaimana identitas politik dalam Islam dapat direkonfigurasi di era posthuman. Kita akan mendengarkan perdebatan di CILE tentang batas-batas etis peningkatan manusia. Dan akhirnya, kita akan menguji relevansi semua gagasan ini pada fenomena politik kontemporer: Dari fatwa-fatwa tentang AI hingga perjuangan hak-hak alam di pengadilan, dari identitas digital hingga keadilan lingkungan.

Tulisan ini ditulis bukan untuk memberikan jawaban-jawaban final. Justru sebaliknya: Ia adalah undangan untuk bersama-sama bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya masih terbuka lebar. Sebab, seperti kata seorang bijak, "pertanyaan yang baik lebih berharga dari jawaban yang buruk." Selamat menyelami arus. Semoga Allah membimbing kita dalam pencarian ini. Wallahu a'lam bish-shawab.

Saat Manusia Tak Lagi Jadi Pusat

Bayangkan skenario ini. Pada tahun 2045, seorang perempuan paruh baya bernama Aminah terbangun di apartemennya di Jakarta. Sebelum turun dari tempat tidur, ia mengecek notifikasi dari neural implant-nya, sebuah chip kecil yang ditanam di korteks prefrontal otaknya. Chip itu memberitahunya bahwa detak jantungnya semalam sedikit tidak teratur, dan merekomendasikan ia mengurangi kopi hari ini. Aminah mengangguk, lalu "berpikir" untuk menyalakan lampu kamar, dan lampu itu menyala, terhubung langsung ke chip-nya melalui jaringan Internet of Things.


Konten

Pemikiran Posthumanisme Ibraheem T. Ahmad dan Pergeseran Subjek Politik Islam Kontemporer