Akar politik dan ideologi Netanyahu sangat penting untuk memahami kebijakannya. Ia adalah penganut setia Zionisme Revisionis, sebuah ideologi yang diwarisi dari ayahnya dan tokoh Ze'ev Jabotinsky. Aliran Zionisme ini secara fundamental meyakini bahwa bangsa Arab tidak akan pernah menerima keberadaan permukiman Yahudi di tanah Palestina, sehingga menolak segala bentuk kompromi teritorial (Tempo, 2024). Sebagai pemimpin Partai Likud, Netanyahu secara terbuka dan konsisten menyatakan penentangannya terhadap pembentukan negara Palestina yang merdeka. Platform partainya mengklaim hak abadi dan tak terbantahkan bagi orang Yahudi atas seluruh tanah Palestina historis (Republika, 2024).
Namun, pandangan ini secara teologis ditentang keras. Rabbi Yisroel Dovid Weiss, juru bicara gerakan Yahudi ultra-Ortodoks anti-Zionis Neturei Karta, menuduh Netanyahu dan gerakan Zionis sebagai "tumor bagi Yudaisme" yang menggunakan agama untuk membenarkan "genosida di Gaza dan penindasan terhadap rakyat Palestina" (Rabbi Yisroel Dovid Weiss, seperti dikutip dalam Iz.ru, 2025, para. 3; Rabbi Yisroel Dovid Weiss, seperti dikutip dalam El Independiente, 2025, para. 18). Menurut Weiss, "Negara Zionis Israel pada dasarnya menyamar, bersembunyi di balik agama saya dan mengatakan bahwa agama membenarkan dan mendukung genosida mereka di Gaza... Padahal Yudaisme secara kategoris melarang kami untuk membunuh dan mencuri" (Rabbi Yisroel Dovid Weiss, seperti dikutip dalam Iz.ru, 2025, para. 2-3). Weiss membandingkan logika yang digunakan Israel terhadap Palestina dengan logika yang digunakan Nazi terhadap orang Yahudi (El Independiente, 2025).
Penolakan teologis ini memiliki akar yang dalam. Rabbi Joel Teitelbaum, pendiri dinasti Satmar, adalah salah satu pemimpin Yahudi pertama yang secara terbuka mengutuk pendirian negara Israel pada tahun 1948 (Jewish Virtual Library, t.t.). Ia mendasarkan posisinya pada interpretasi Talmud yang melarang pendirian kedaulatan Yahudi sebelum kedatangan Mesias. Hingga kini, para pengikutnya, seperti yang terlihat dalam protes anak-anak Satmar yang melempari telur ke mobil tiruan Netanyahu, meneriakkan "Pemerintah Israel, malulah kalian!" dan membawa tanda bertuliskan, "Seorang Yahudi bukanlah seorang Zionis" (Jewish Telegraphic Agency, 2016). Bagi mereka, Negara Israel adalah sebuah entitas politik yang tidak memiliki legitimasi teologis, dan kebijakan Netanyahu adalah penyimpangan dari esensi Yudaisme yang sejati.
Akar politik dan ideologi Netanyahu sangat penting untuk memahami kebijakannya. Ia adalah penganut setia Zionisme Revisionis, sebuah ideologi yang diwarisi dari ayahnya dan tokoh Ze'ev Jabotinsky. Aliran Zionisme ini secara fundamental meyakini bahwa bangsa Arab tidak akan pernah menerima keberadaan permukiman Yahudi di tanah Palestina, sehingga menolak segala bentuk kompromi teritorial (Tempo, 2024). Sebagai pemimpin Partai Likud, Netanyahu secara terbuka dan konsisten menyatakan penentangannya terhadap pembentukan negara Palestina yang merdeka. Platform partainya mengklaim hak abadi dan tak terbantahkan bagi orang Yahudi atas seluruh tanah Palestina historis (Republika, 2024).
Namun, pandangan ini secara teologis ditentang keras. Rabbi Yisroel Dovid Weiss, juru bicara gerakan Yahudi ultra-Ortodoks anti-Zionis Neturei Karta, menuduh Netanyahu dan gerakan Zionis sebagai "tumor bagi Yudaisme" yang menggunakan agama untuk membenarkan "genosida di Gaza dan penindasan terhadap rakyat Palestina" (Rabbi Yisroel Dovid Weiss, seperti dikutip dalam Iz.ru, 2025, para. 3; Rabbi Yisroel Dovid Weiss, seperti dikutip dalam El Independiente, 2025, para. 18). Menurut Weiss, "Negara Zionis Israel pada dasarnya menyamar, bersembunyi di balik agama saya dan mengatakan bahwa agama membenarkan dan mendukung genosida mereka di Gaza... Padahal Yudaisme secara kategoris melarang kami untuk membunuh dan mencuri" (Rabbi Yisroel Dovid Weiss, seperti dikutip dalam Iz.ru, 2025, para. 2-3). Weiss membandingkan logika yang digunakan Israel terhadap Palestina dengan logika yang digunakan Nazi terhadap orang Yahudi (El Independiente, 2025).
Penolakan teologis ini memiliki akar yang dalam. Rabbi Joel Teitelbaum, pendiri dinasti Satmar, adalah salah satu pemimpin Yahudi pertama yang secara terbuka mengutuk pendirian negara Israel pada tahun 1948 (Jewish Virtual Library, t.t.). Ia mendasarkan posisinya pada interpretasi Talmud yang melarang pendirian kedaulatan Yahudi sebelum kedatangan Mesias. Hingga kini, para pengikutnya, seperti yang terlihat dalam protes anak-anak Satmar yang melempari telur ke mobil tiruan Netanyahu, meneriakkan "Pemerintah Israel, malulah kalian!" dan membawa tanda bertuliskan, "Seorang Yahudi bukanlah seorang Zionis" (Jewish Telegraphic Agency, 2016). Bagi mereka, Negara Israel adalah sebuah entitas politik yang tidak memiliki legitimasi teologis, dan kebijakan Netanyahu adalah penyimpangan dari esensi Yudaisme yang sejati.