Soeharto awalnya adalah nobody. Ia cuma anak kampung Kemusuk, lahir dari ayah seorang ulu-ulu (namanya Karto atau Kartoredjo, pekerjaannya pengatur irigasi) dan ibu seorang desa biasa (namanya Fatimah). Elson dalam bukunya Otobiografi Politik Soeharto menyatakan bahwa nama ibu Soeharto adalah Sukirah. Tidak ada aneka cerita supranatural yang kerap mengiringi lahirnya seorang tokoh penting hadir dalam biografi ini. Tidak ada hujan meteor, letusan gunung, gelegar petir di siang bolong, atau terbelahnya bumi mengiringi kelahirannya. Soeharto, manusia biasa, lahir dari orang tua kampung biasa, kemudian tumbuh layaknya anak kampung biasa. Tidak ada yang istimewa.
Saat beranjak kanak-kanak, remaja, dan menjelang dewasa, kisah hidup Soeharto pun biasa-biasa saja. Tidak ada hal istimewa, hal yang bisa dijadikan bahan untuk diceritakan berulang-ulang di aneka kesempatan, seperti banyak dilakukan aneka tokoh politik. Umumnya, tokoh politik biasa mengulah-ulang kisah "istimewa" mereka untuk menegaskan "kebesaran" dirinya. Pada Soeharto? Semua tampak begitu biasa-biasa saja dan apa yang bisa dianggap istimewa dari masa kecil yang miris dari dirinya. Kendati pun memang ada yang ia ceritakan berulang-ulang, itu pun cuma kisah biasa.
Soeharto awalnya adalah nobody. Ia cuma anak kampung Kemusuk, lahir dari ayah seorang ulu-ulu (namanya Karto atau Kartoredjo, pekerjaannya pengatur irigasi) dan ibu seorang desa biasa (namanya Fatimah). Elson dalam bukunya Otobiografi Politik Soeharto menyatakan bahwa nama ibu Soeharto adalah Sukirah. Tidak ada aneka cerita supranatural yang kerap mengiringi lahirnya seorang tokoh penting hadir dalam biografi ini. Tidak ada hujan meteor, letusan gunung, gelegar petir di siang bolong, atau terbelahnya bumi mengiringi kelahirannya. Soeharto, manusia biasa, lahir dari orang tua kampung biasa, kemudian tumbuh layaknya anak kampung biasa. Tidak ada yang istimewa.
Saat beranjak kanak-kanak, remaja, dan menjelang dewasa, kisah hidup Soeharto pun biasa-biasa saja. Tidak ada hal istimewa, hal yang bisa dijadikan bahan untuk diceritakan berulang-ulang di aneka kesempatan, seperti banyak dilakukan aneka tokoh politik. Umumnya, tokoh politik biasa mengulah-ulang kisah "istimewa" mereka untuk menegaskan "kebesaran" dirinya. Pada Soeharto? Semua tampak begitu biasa-biasa saja dan apa yang bisa dianggap istimewa dari masa kecil yang miris dari dirinya. Kendati pun memang ada yang ia ceritakan berulang-ulang, itu pun cuma kisah biasa.