
Jakarta, kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara, berdiri sebagai magnet yang menarik jutaan manusia dari seluruh penjuru Nusantara. Di balik gedung-gedung pencakar langit dan jalanan yang tak pernah sepi, kota ini menyimpan dinamika sosial yang kompleks.
Perjumpaan ratusan suku bangsa yang hidup berdampingan, namun sering kali terperangkap dalam jaring stereotip yang turun-temurun. Stereotip, citra kaku tentang suatu kelompok yang dianut tanpa mempertanyakan kebenarannya, menjadi kacamata yang membiaskan cara pandang warga Jakarta terhadap sesamanya. Fenomena ini bukan sekadar bahan candaan di warung kopi, melainkan fondasi yang kerap melahirkan prejudis dan diskriminasi nyata di ruang-ruang kehidupan kota.
Jakarta, kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara, berdiri sebagai magnet yang menarik jutaan manusia dari seluruh penjuru Nusantara. Di balik gedung-gedung pencakar langit dan jalanan yang tak pernah sepi, kota ini menyimpan dinamika sosial yang kompleks.
Perjumpaan ratusan suku bangsa yang hidup berdampingan, namun sering kali terperangkap dalam jaring stereotip yang turun-temurun. Stereotip, citra kaku tentang suatu kelompok yang dianut tanpa mempertanyakan kebenarannya, menjadi kacamata yang membiaskan cara pandang warga Jakarta terhadap sesamanya. Fenomena ini bukan sekadar bahan candaan di warung kopi, melainkan fondasi yang kerap melahirkan prejudis dan diskriminasi nyata di ruang-ruang kehidupan kota.