Teori Symbiotic Realism Nayef al-Rodhan dan Guncangan Fundasi Hubungan Internasional


Deskripsi

Bayangkan seorang ahli bedah saraf yang setiap hari menatap langsung belahan otak manusia, menyaksikan bagaimana impuls listrik berubah menjadi ketakutan, bagaimana tetesan neurokimia melahirkan ambisi, dan bagaimana jejaring saraf menyimpan dendam yang sudah berabad-abad. Suatu hari, ahli bedah itu menutup ruang operasinya dan memutuskan untuk membaca buku teks Hubungan Internasional. Ia menemukan bahwa disiplin ini membangun seluruh bangunan teoretisnya, dari realisme hingga liberalisme, di atas fondasi yang oleh ilmu saraf justru sudah ditinggalkan.

"Sebuah kekeliruan yang sudah berlangsung selama berabad-abad, harus diakui," tulisnya kemudian, "Kesalahan ini bukanlah kesalahan kecil; ini adalah kesalahan mendasar yang telah mengaburkan pemahaman kita tentang mengapa negara berperang, mengapa mereka bekerja sama, dan apa yang dapat kita lakukan untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan" (Al-Rodhan, 2007, hlm. 1-2).

Ahli bedah itu adalah Nayef Al-Rodhan, seorang filsuf, neurosaintis, dan geostrategis kelahiran Arab Saudi yang menempuh pendidikan di Yale, Mayo Clinic, dan Harvard sebelum akhirnya bermukim di Oxford dan Geneva Centre for Security Policy (Saudipedia, 2026). Jawabannya terhadap kegelisahan intelektualnya adalah Symbiotic Realism, sebuah pendekatan transdisipliner yang mengintegrasikan temuan-temuan termutakhir dari ilmu saraf, biologi evolusioner, dan neuropsikologi ke dalam teori realis Hubungan Internasional.

Tidak seperti realis klasik yang mendasarkan pandangan pesimis mereka tentang sifat manusia pada spekulasi filosofis, entah itu Hobbes dengan "manusia serigala bagi manusia lainnya" atau Morgenthau dengan animus dominandi-nya, Al-Rodhan (2007) berusaha melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya: Ia menempatkan ilmu saraf sebagai fondasi empiris untuk memahami mengapa negara berperilaku seperti yang mereka lakukan. Baginya, "sifat manusia bukanlah abstraksi filosofis yang dapat direka-reka oleh para pemikir di ruang seminar yang nyaman; ia adalah realitas neurobiologis yang dapat dipelajari, diukur, dan, yang paling penting, dikelola" (hlm. 44-45).

Esai ini bertujuan untuk membedah Symbiotic Realism secara mendalam: Fondasi teoretisnya, kontribusi uniknya terhadap disiplin HI, serta relevansinya dalam memahami dinamika politik internasional kontemporer. Menggunakan gaya bahasa populer yang mudah diakses, esai ini akan menunjukkan bahwa Symbiotic Realism, meskipun belum menjadi arus utama, menawarkan perspektif yang sangat diperlukan untuk memahami kompleksitas hubungan internasional abad ke-21.

Fondasi Teoretis 

Untuk memahami Symbiotic Realism, kita harus memulai dari fondasi paling dasarnya: Sifat manusia. Seluruh teori HI, baik realisme, liberalisme, maupun konstruktivisme, dibangun di atas asumsi tertentu tentang sifat manusia. Kaum realis, mengikuti Hobbes dan Morgenthau, percaya bahwa manusia pada dasarnya egois, kompetitif, dan haus kekuasaan (Al-Rodhan & Puscas, 2021, hlm. 118). Kaum liberal


Konten

Teori Symbiotic Realism Nayef al-Rodhan dan Guncangan Fundasi Hubungan Internasional

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Teori Symbiotic Realism Nayef al-Rodhan dan Guncangan Fundasi Hubungan Internasional


Deskripsi

Bayangkan seorang ahli bedah saraf yang setiap hari menatap langsung belahan otak manusia, menyaksikan bagaimana impuls listrik berubah menjadi ketakutan, bagaimana tetesan neurokimia melahirkan ambisi, dan bagaimana jejaring saraf menyimpan dendam yang sudah berabad-abad. Suatu hari, ahli bedah itu menutup ruang operasinya dan memutuskan untuk membaca buku teks Hubungan Internasional. Ia menemukan bahwa disiplin ini membangun seluruh bangunan teoretisnya, dari realisme hingga liberalisme, di atas fondasi yang oleh ilmu saraf justru sudah ditinggalkan.

"Sebuah kekeliruan yang sudah berlangsung selama berabad-abad, harus diakui," tulisnya kemudian, "Kesalahan ini bukanlah kesalahan kecil; ini adalah kesalahan mendasar yang telah mengaburkan pemahaman kita tentang mengapa negara berperang, mengapa mereka bekerja sama, dan apa yang dapat kita lakukan untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan" (Al-Rodhan, 2007, hlm. 1-2).

Ahli bedah itu adalah Nayef Al-Rodhan, seorang filsuf, neurosaintis, dan geostrategis kelahiran Arab Saudi yang menempuh pendidikan di Yale, Mayo Clinic, dan Harvard sebelum akhirnya bermukim di Oxford dan Geneva Centre for Security Policy (Saudipedia, 2026). Jawabannya terhadap kegelisahan intelektualnya adalah Symbiotic Realism, sebuah pendekatan transdisipliner yang mengintegrasikan temuan-temuan termutakhir dari ilmu saraf, biologi evolusioner, dan neuropsikologi ke dalam teori realis Hubungan Internasional.

Tidak seperti realis klasik yang mendasarkan pandangan pesimis mereka tentang sifat manusia pada spekulasi filosofis, entah itu Hobbes dengan "manusia serigala bagi manusia lainnya" atau Morgenthau dengan animus dominandi-nya, Al-Rodhan (2007) berusaha melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya: Ia menempatkan ilmu saraf sebagai fondasi empiris untuk memahami mengapa negara berperilaku seperti yang mereka lakukan. Baginya, "sifat manusia bukanlah abstraksi filosofis yang dapat direka-reka oleh para pemikir di ruang seminar yang nyaman; ia adalah realitas neurobiologis yang dapat dipelajari, diukur, dan, yang paling penting, dikelola" (hlm. 44-45).

Esai ini bertujuan untuk membedah Symbiotic Realism secara mendalam: Fondasi teoretisnya, kontribusi uniknya terhadap disiplin HI, serta relevansinya dalam memahami dinamika politik internasional kontemporer. Menggunakan gaya bahasa populer yang mudah diakses, esai ini akan menunjukkan bahwa Symbiotic Realism, meskipun belum menjadi arus utama, menawarkan perspektif yang sangat diperlukan untuk memahami kompleksitas hubungan internasional abad ke-21.

Fondasi Teoretis 

Untuk memahami Symbiotic Realism, kita harus memulai dari fondasi paling dasarnya: Sifat manusia. Seluruh teori HI, baik realisme, liberalisme, maupun konstruktivisme, dibangun di atas asumsi tertentu tentang sifat manusia. Kaum realis, mengikuti Hobbes dan Morgenthau, percaya bahwa manusia pada dasarnya egois, kompetitif, dan haus kekuasaan (Al-Rodhan & Puscas, 2021, hlm. 118). Kaum liberal


Konten

Teori Symbiotic Realism Nayef al-Rodhan dan Guncangan Fundasi Hubungan Internasional