Bayangkan seorang diplomat duduk di meja perundingan yang megah di Jenewa. Ia berhadapan dengan perwakilan negara-negara besar dunia, membahas kesepakatan perdamaian, perang dagang, atau krisis iklim. Ia ditemani oleh staf ahli, penerjemah, dan setumpuk dokumen tebal berisi data-data teknis.
Di benak diplomat itu, yang terlintas seharusnya soal-soal strategi tawar-menawar, konsesi-konsesi ekonomis, atau pasal-pasal teknis perjanjian. Namun kenyataannya, yang membuatnya tidak bisa tidur di malam hari adalah pertanyaan yang jauh lebih personal dan domestik: Akankah parlemen di ibu kota meratifikasi perjanjian yang ia tanda tangani? Akankah editorial koran nasional menyebutnya "pahlawan" atau justru "pengkhianat"? Akankah petani kedelai di desa terpencil yang memilihnya pada pemilu lalu akan terus mendukungnya?
Disadari atau tidak, diplomat itu sedang memainkan apa yang oleh Robert D. Putnam, seorang ilmuwan politik dari Universitas Harvard, disebut sebagai "two-level games" atau permainan dua tingkat (Putnam, 1988, hlm. 433-434). Di Tingkat I, ia bermain di papan catur internasional, bernegosiasi dengan diplomat asing. Namun di saat yang sama, di Tingkat II, ia juga bermain di papan catur domestik, bernegosiasi dengan parlemen, partai politik, kelompok kepentingan, media, dan opini publik di dalam negerinya sendiri. Setiap langkah di satu papan berpotensi menimbulkan konsekuensi di papan lainnya.
Konsep two-level games, yang pertama kali diperkenalkan oleh Putnam dalam artikelnya yang kini menjadi klasik, "Diplomacy and Domestic Politics: The Logic of Two-Level Games" di jurnal International Organization pada musim panas 1988, merevolusi cara kita memahami hubungan internasional. Artikel ini, yang sebenarnya merupakan pengembangan dari analisis Putnam terhadap Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Tujuh Negara (G-7), menawarkan kerangka teoretis yang elegan untuk memahami interaksi yang rumit antara politik domestik dan politik internasional, sesuatu yang oleh Putnam sendiri digambarkan sebagai "entangled" (terjerat) secara tak terpisahkan (Putnam, 1988, hlm. 427).
Bayangkan seorang diplomat duduk di meja perundingan yang megah di Jenewa. Ia berhadapan dengan perwakilan negara-negara besar dunia, membahas kesepakatan perdamaian, perang dagang, atau krisis iklim. Ia ditemani oleh staf ahli, penerjemah, dan setumpuk dokumen tebal berisi data-data teknis.
Di benak diplomat itu, yang terlintas seharusnya soal-soal strategi tawar-menawar, konsesi-konsesi ekonomis, atau pasal-pasal teknis perjanjian. Namun kenyataannya, yang membuatnya tidak bisa tidur di malam hari adalah pertanyaan yang jauh lebih personal dan domestik: Akankah parlemen di ibu kota meratifikasi perjanjian yang ia tanda tangani? Akankah editorial koran nasional menyebutnya "pahlawan" atau justru "pengkhianat"? Akankah petani kedelai di desa terpencil yang memilihnya pada pemilu lalu akan terus mendukungnya?
Disadari atau tidak, diplomat itu sedang memainkan apa yang oleh Robert D. Putnam, seorang ilmuwan politik dari Universitas Harvard, disebut sebagai "two-level games" atau permainan dua tingkat (Putnam, 1988, hlm. 433-434). Di Tingkat I, ia bermain di papan catur internasional, bernegosiasi dengan diplomat asing. Namun di saat yang sama, di Tingkat II, ia juga bermain di papan catur domestik, bernegosiasi dengan parlemen, partai politik, kelompok kepentingan, media, dan opini publik di dalam negerinya sendiri. Setiap langkah di satu papan berpotensi menimbulkan konsekuensi di papan lainnya.
Konsep two-level games, yang pertama kali diperkenalkan oleh Putnam dalam artikelnya yang kini menjadi klasik, "Diplomacy and Domestic Politics: The Logic of Two-Level Games" di jurnal International Organization pada musim panas 1988, merevolusi cara kita memahami hubungan internasional. Artikel ini, yang sebenarnya merupakan pengembangan dari analisis Putnam terhadap Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Tujuh Negara (G-7), menawarkan kerangka teoretis yang elegan untuk memahami interaksi yang rumit antara politik domestik dan politik internasional, sesuatu yang oleh Putnam sendiri digambarkan sebagai "entangled" (terjerat) secara tak terpisahkan (Putnam, 1988, hlm. 427).